Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Kapan PKH dan BPNT 2026 Cair? Ini Jadwal Tahap 3 dan Cara Cek Bansos Pakai NIK KTP

Jumat, 21 Agustus 2026 03:00 WIB
Dapatkan saldo DANA gratis hanya dengan bermain game, tukarkan poin dengan uang cash.

Klaim Saldo DANA Gratis 21 Agustus 2026: Dapatkan Link DANA Kaget dan Bonus Saldo Langsung Cair

Jumat, 21 Agustus 2026 02:00 WIB
Garena Free Fire

Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!

Jumat, 21 Agustus 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kapan PKH dan BPNT 2026 Cair? Ini Jadwal Tahap 3 dan Cara Cek Bansos Pakai NIK KTP
  • Klaim Saldo DANA Gratis 21 Agustus 2026: Dapatkan Link DANA Kaget dan Bonus Saldo Langsung Cair
  • Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Masih Suka Buka LK21? Ini 21 Aplikasi Nonton Film Legal Bebas Virus dan Tanpa Iklan!
  • Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara
  • Kasus HIV/AIDS di Kuningan Naik Tiap Tahun: Tembus 1.354 Penderita, Merata di 32 Kecamatan
  • Siapa yang Akan Menjadi Juara Liga Premier Musim 2026–2027?
  • BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap! Cek Penerima Bansos Pakai NIK KTP, 18,25 Juta KPM Terdata
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 21 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Positif Ganja Tapi Bebas? Misteri ‘Toilet Ajaib’ Diduga Anak Bupati di Pekanbaru!

By Aga GustianaKamis, 28 Mei 2026 14:35 WIB4 Mins Read
Viral skandal anak bupati di Riau. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Peristiwa penggerebekan di sebuah tempat hiburan malam di Kota Pekanbaru pada Minggu (24/5/2026) dini hari mestinya menjadi potret kelam penegakan hukum narkotika di Indonesia. Sebanyak 13 orang diamankan oleh aparat gabungan TNI-Polri. Di antara kerumunan itu, terselip satu nama berinisial AF, pemuda berusia 21 tahun yang identitasnya segera menjadi sorotan publik: ia adalah anak seorang bupati di Riau.

Namun, yang terjadi kemudian bukanlah penegakan hukum yang tegas dan transparan, melainkan sebuah narasi yang—bagi banyak orang—terasa janggal. AF dinyatakan positif mengonsumsi etomidate dan ganja. Namun, alih-alih berakhir di balik jeruji besi, narasi “terpapar asap secara tidak sengaja” menjadi penyelamat yang mujarab.

Logika “Terpapar Asap” dan Hilangnya Keadilan

Kepala BNN Kota Pekanbaru, Wawan, memberikan penjelasan yang cukup mengundang dahi berkerut. Menurutnya, AF tidak benar-benar mengonsumsi ganja. Hasil tes urine yang positif ganja diklaim sebagai akibat dari “paparan asap” saat AF masuk ke dalam toilet tempat dua orang rekannya sedang mengisap barang haram tersebut.

“Saya tanya ke dokter, apakah bisa positif ganja jika situasinya seperti itu… ternyata bisa,” ujar Wawan.

Penjelasan ini tentu saja menggelitik akal sehat. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang berada di tempat hiburan malam, dalam sebuah pesta narkoba, dinyatakan “tidak bersalah” hanya karena alasan berada di toilet yang salah? Narasi ini menjadi sangat kontras ketika kita melihat nasib ribuan pengguna narkoba lain di Indonesia yang harus mendekam di penjara meski dengan barang bukti yang jauh lebih kecil.

Ketidakmampuan atau keengganan aparat untuk memberikan perlakuan yang setara bagi semua warga negara, terutama ketika berhadapan dengan “anak pejabat,” menciptakan preseden buruk. Sang bupati sendiri, ketika dikonfirmasi, tidak membantah keterlibatan anaknya, namun memilih bungkam. Sikap ini seolah mengonfirmasi bahwa kekuatan pengaruh orang tua masih menjadi “payung” yang efektif di bawah hukum.

Kritik Netizen: Antara Sinisme dan Realita

Reaksi publik tidak bisa dibendung. Melalui kolom komentar di berbagai platform media sosial, netizen menumpahkan kekecewaan mereka. Komentar-komentar yang muncul bukan sekadar ejekan, melainkan cerminan dari hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

“Awalnya lucu, lama-lama capek dianggap tolol terus,” tulis komika Ernest Prakasa, yang merangkum perasaan banyak orang. Ungkapan ini menjadi viral di akun @fakta.indo, menunjukkan betapa muaknya masyarakat dengan narasi-narasi “ajaib” yang kerap muncul dalam kasus anak pejabat.

Banyak netizen yang secara sarkastik menyentil logika “terpapar asap toilet.” Salah seorang netizen bertanya dengan nada menyindir: “Trus kenapa kalau pemusnahan ganja itu selalu dibakar, Pak? Berarti yang ada di lokasi pembakaran positif semua dong?”

Pertanyaan ini menjadi kritik tajam yang sangat relevan. Jika kita berbicara mengenai prosedur pemusnahan barang bukti (barbuk) narkoba oleh kepolisian, metode yang digunakan adalah pembakaran. Biasanya, polisi memusnahkan ganja menggunakan tungku khusus atau insinerator bersuhu tinggi agar zat aktif dalam ganja hancur. Proses ini pun disaksikan oleh jaksa, hakim, dan tokoh masyarakat untuk memastikan transparansi.

Jika narasi “terpapar asap” dalam ruangan tertutup dianggap sebagai pembelaan sah bagi AF, maka seharusnya petugas yang melakukan pemusnahan barang bukti di lapangan—yang menghirup asap pembakaran ganja dalam jumlah jauh lebih besar—juga akan dinyatakan positif. Logika BNN dalam kasus AF seolah menabrak logika ilmiah dan prosedural yang selama ini dijalankan sendiri oleh aparat dalam pemusnahan barang bukti.

Meninjau Prosedur Pemusnahan yang “Transparan”

Di sisi lain, kepolisian sering kali mengedepankan prosedur pemusnahan sebagai bukti transparansi mereka. Ganja yang disita, seperti 9,8 gram milik FER dan 1,2 gram milik FAY dalam kasus ini, seharusnya dimusnahkan setelah ada penetapan dari Kejaksaan Negeri. Tujuannya jelas: untuk mencegah penyalahgunaan kembali barang bukti.

Namun, dalam kasus ini, ketidaksediaan polisi untuk menampilkan barang bukti saat rilis pers dengan alasan “masih di laboratorium” justru menambah kecurigaan. Apakah ada ketakutan barang bukti tersebut akan “menguap” atau dimanipulasi?

Ketidakjelasan ini, ditambah dengan perlakuan khusus terhadap AF—yang hanya diwajibkan rawat jalan—semakin mempertebal dinding pemisah antara hukum bagi rakyat kecil dan hukum bagi keluarga penguasa. AF, dengan status anak bupatinya, seolah mendapatkan “tiket emas” untuk menghindari proses peradilan pidana, sementara nasib rekan-rekannya yang lain—yang mungkin tidak memiliki posisi tawar yang sama—harus berurusan lebih jauh dengan proses penyidikan atau rehabilitasi inap.

Kesimpulan: Hukum yang Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas

Kasus di Pekanbaru ini adalah pengingat bahwa narkotika tetap menjadi momok, namun penanganannya masih jauh dari kata adil. Ketika seorang anak pejabat bisa “selamat” dari jeratan hukum dengan alasan yang bisa diperdebatkan secara ilmiah, maka saat itulah keadilan sedang dalam kondisi kritis.

Publik tidak menuntut kemewahan, publik hanya menuntut konsistensi. Jika memang terpapar asap saja sudah cukup untuk dinyatakan positif, maka seharusnya regulasi diterapkan secara merata tanpa memandang siapa orang tua pelaku. Jika tidak, maka “pesta narkoba” akan selalu menyisakan dua cerita: cerita bagi mereka yang harus menanggung beban hukum, dan cerita “toilet ajaib” bagi mereka yang memiliki segalanya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Anak Bupati Narkoba Berita Riau Hukum Tumpul Kasus AF Pekanbaru Polemik BNN Privilege Anak Pejabat Skandal Asap Toilet
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Kapan PKH dan BPNT 2026 Cair? Ini Jadwal Tahap 3 dan Cara Cek Bansos Pakai NIK KTP

Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara

Ilustrasi virus HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS di Kuningan Naik Tiap Tahun: Tembus 1.354 Penderita, Merata di 32 Kecamatan

BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap! Cek Penerima Bansos Pakai NIK KTP, 18,25 Juta KPM Terdata

Duka Gempa NTT, Korban Meninggal Bertambah Jadi 75 Orang, Pengungsi Nyaris 93 Ribu

BUMD Jabar dalam Cengkeraman Politik Akomodatif: Ketika Janji Dedi Mulyadi ‘Tanpa Bagi-bagi Jabatan’ Terpatahkan

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.