bukamata.id – Dua peneliti Indonesia, Prihantini dan Rifaldy Putra, menjadi sorotan publik setelah diduga melakukan pemalsuan hasil riset yang dipresentasikan dalam ajang International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah peneliti lain menemukan adanya kejanggalan dalam materi presentasi yang dibawa ke konferensi internasional tersebut.
ITB Buka Suara Terkait Dugaan Manipulasi Riset
Menanggapi hal tersebut, Institut Teknologi Bandung (Institut Teknologi Bandung) melalui Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Aep Patah, menyampaikan keprihatinan atas dugaan tindakan fraud atau manipulasi riset yang dilakukan salah satu alumninya.
“ITB menyampaikan keprihatinan atas sorotan dan perbincangan publik terhadap tindakan Prihantini yang diduga melakukan fraud atau manipulasi riset dalam sebuah konferensi internasional,” ujarnya, Kamis (28/5).
Prihantini diketahui merupakan alumni Magister FMIPA ITB angkatan 2020 dan lulus pada tahun 2022. Saat menempuh studi, ia menulis tesis berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring”.
Namun, pihak kampus menegaskan bahwa materi yang dipresentasikan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB.
“Materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB,” kata pihak kampus.
ITB Tegaskan Sikap Terkait Proses Hukum
ITB menegaskan bahwa jika dugaan pemalsuan riset tersebut terbukti, maka terdapat konsekuensi hukum yang dapat dikenakan kepada pihak terkait. Kampus juga menyatakan siap menghormati proses hukum yang berjalan.
“Jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” ujar Aep Patah.
Selain itu, ITB menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas akademik, khususnya dalam kegiatan penelitian.
“ITB menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab,” lanjutnya.
Dugaan Kejanggalan dalam Presentasi Riset
Kasus ini pertama kali mencuat setelah dua peneliti, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, mengungkap adanya sejumlah kejanggalan dalam materi yang dipresentasikan.
Beberapa hal yang disorot antara lain penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam klaim riset, serta penggunaan nama lembaga seperti AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation yang diduga tidak valid.
Dugaan Motif Dana Hibah Jadi Sorotan
Selain dugaan manipulasi data penelitian, muncul pula dugaan bahwa keikutsertaan dalam konferensi internasional tersebut bertujuan untuk memperoleh dana hibah atau travel grant.
Bahkan, sebagian pihak menilai kegiatan tersebut dilakukan sebagai kesempatan perjalanan ke luar negeri di luar kepentingan akademik murni.
Hingga saat ini, kasus dugaan pemalsuan riset tersebut masih menjadi perhatian publik dan terus berkembang seiring proses klarifikasi dari berbagai pihak terkait.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










