bukamata.id – Ambisi besar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk merevitalisasi kawasan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu kembali memicu diskusi publik.
Melalui unggahan video ilustrasi di media sosial pribadinya, terlihat konsep penggabungan dua kawasan ikonik yang terletak di Kota Bandung tersebut.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dikabarkan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp15,82 miliar untuk menata kawasan tersebut agar menjadi satu kesatuan ruang publik yang lebih luas. Namun, konsep ini menuai beragam reaksi dari masyarakat, terutama terkait urgensi dan dampak jangka panjangnya.
Kekhawatiran Akan Kebijakan Subjektif
Salah satu kritik datang dari akun @johnengland745. Ia mempertanyakan apakah rencana ini sudah melalui proses kajian yang melibatkan pihak-pihak independen dan kompeten.
“Apakah ini sudah dilakukan kajian dari pihak-pihak yang kompeten dan independen pak gub? Baik dari budayawan, akademisi kampus, dan sesepuh Bandung,” tulis @johnengland745 dikutip dari Instagram Dedi Mulyadi, Kamis (16/4/2026).

Ia juga mengingatkan agar proyek ini tidak menjadi kebijakan yang didasari keinginan pribadi, guna menghindari bongkar-pasang fasilitas setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan.
“Jangan sampai ini menjadi kebijakan karena keinginan pribadi, sehingga selanjutnya gubernur diganti dilakukan perombakan lagi,” ujarnya.
Ia merujuk pada kasus revitalisasi Masjid Agung dan Alun-alun Bandung yang menurutnya menyisakan penyesalan bagi beberapa pihak di kemudian hari.
“Belajar dari kasus Masjid Agung yang disatukan dengan alun-alun yang membuat beberapa pihak menyesal di kemudian hari,” sebutnya.
Sorotan Terhadap Akses Jalan
Senada dengan kritik tersebut, akun @weldspace menilai kondisi kawasan saat ini sebenarnya sudah cukup estetik tanpa perlu ada perubahan drastis, terutama jika harus mengorbankan akses publik.
“Tos indah pa, teu kedah dihiji-hijikeun komo jalan ditutup mah (Sudah indah pak, tidak perlu disatukan apalagi kalau jalan sampai ditutup),” ungkapnya dalam bahasa Sunda.

Warga khawatir jika penyatuan dua area tersebut akan menutup akses jalan yang selama ini menjadi urat nadi lalu lintas di pusat Kota Bandung.
Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak Pemprov Jabar mengenai detail teknis dan hasil uji publik terkait proyek bernilai belasan miliar rupiah tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










