Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bantuan Sosial PKH dan BPNT Cair Oktober 2026? Ini Langkah Mudah Cek Saldo KKS dan Status Penerima

Minggu, 11 Oktober 2026 06:00 WIB
Sudirman Street Food

Rekomendasi 10 Tempat Wisata Kuliner Malam Bandung yang Pas Buat Nongkrong Akhir Pekan

Minggu, 11 Oktober 2026 02:00 WIB

Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan

Minggu, 11 Oktober 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bantuan Sosial PKH dan BPNT Cair Oktober 2026? Ini Langkah Mudah Cek Saldo KKS dan Status Penerima
  • Rekomendasi 10 Tempat Wisata Kuliner Malam Bandung yang Pas Buat Nongkrong Akhir Pekan
  • Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan
  • Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan
  • Jadwal Persib vs Dewa United: Kebugaran Thom Haye dkk Jadi Taruhan!
  • Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas
  • Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian
  • Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Publik Terbelah! Wayang Kulit Pakai AI, Inovasi Keren atau Malah Merusak Budaya Asli?

By SusanaRabu, 17 Juni 2026 14:47 WIB7 Mins Read
Video wayang AI viral di media sosial memicu perdebatan publik. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah video pertunjukan wayang dengan sentuhan teknologi modern tengah viral di media sosial dan memicu perdebatan luas di kalangan warganet. Visual yang ditampilkan dinilai sangat berbeda dari pertunjukan wayang tradisional, dengan efek animasi yang lebih hidup, dinamis, dan penuh sentuhan digital.

Sebagian masyarakat mengaku terkesan dengan inovasi tersebut karena dianggap mampu membuat seni wayang lebih menarik, terutama bagi generasi muda. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan teknologi secara berlebihan dapat menggeser peran dalang dan mengurangi nilai-nilai autentik dari kesenian tradisional Indonesia.

Wayang Digital Viral, Publik Terbelah Pendapat

Video yang beredar luas di berbagai platform media sosial tersebut menampilkan pertunjukan wayang dengan kualitas visual menyerupai animasi modern. Banyak warganet yang mengaku baru tertarik menyaksikan wayang setelah melihat konsep tersebut.

Namun, di balik antusiasme itu, muncul diskusi serius mengenai batas antara inovasi dan pelestarian budaya. Sebagian pihak menilai teknologi bisa menjadi jembatan agar seni tradisional tetap relevan di era digital, sementara lainnya menegaskan pentingnya menjaga keaslian seni wayang sebagai warisan budaya.

“Kalau nontonnya seperti ini jadi tidak membosankan,” tulis salah satu pengguna media sosial.

Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa nilai filosofis dan sakral dalam wayang bisa berkurang jika terlalu banyak dipengaruhi teknologi modern.

Video Wayang Diduga Hasil Kreasi AI

Seiring viralnya video tersebut, muncul beragam komentar di akun Instagram @pitracgi bahwa pertunjukan wayang itu bukan rekaman pagelaran tradisional yang menggunakan teknologi panggung nyata. Video tersebut disebut merupakan hasil kreasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) dari akun kreator digital.

Meski demikian, karya tersebut justru memicu diskusi lebih luas tentang masa depan seni tradisional di era teknologi.

Sebagian warganet menilai inovasi berbasis AI dapat menjadi media promosi baru bagi kesenian wayang. Namun, ada juga yang menilai bahwa hal tersebut berpotensi mengaburkan esensi asli dari pertunjukan wayang kulit yang selama ini dikenal sarat makna budaya.

“Kalaupun ini AI, tolong di lanjutkan,” tulis akun @nur***
“Dalangnya live ngetik prompt,” tulis akun @mas***
“Pendapat pribadi aja ya ini. Kalau aku lihat ini bukan pertunjukan asli ya, ini AI. Banyak yang tiba-tiba mau lihat karena gerakan wayangnya luwes dan ada efek2 yang menambah kesan dramatis di dalamnya. Tapi menurutku itu malah menghilangkan esensi sebenernya dari wayang kulit. Karena wayang sendiri memiliki bentuk fisik sedangkan yang ada di video hanya berupa prompt yang kemudian dijadikan sebuah animasi, lantas apa bedanya dengan animasi lainnya?. Mungkin kebanyakan orang jaman sekarang beranggapan wayang kulit hal yang membosankan, tetapi kalau mereka menyadari makna dari cerita di dalamnya dan faham alur cerita apa yang dibawakan, aku yakin tetap banyak yang suka dengan wayang kulit,” tulis akun @han***

Pro dan Kontra di Kalangan Warganet

Perdebatan di media sosial pun tak terhindarkan. Kolom komentar akun Instagram @voxnetizens, dipenuhi beragam pandangan mengenai konsep wayang digital ini.

“Kalau saya sih setuju, biar generasi sekarang bisa menikmati juga,” tulis akun @met***
“Kalau menurut saya kesenian harus ikut zaman supaya tetap hidup,” tambah akun @wil***
“Seru sih, tapi rasa tradisionalnya jadi berkurang,” komentar akun @noe***

Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa wayang tradisional tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan.

“Lebih enak yang asli, ada sinden dan dalang, itu lebih hidup,” tulis akun @dem***
“Wayang bukan cuma hiburan, tapi ada makna filosofisnya,” tulis akun @yud***

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa transformasi budaya di era digital masih menjadi isu sensitif yang terus diperdebatkan.

Wayang sebagai Warisan Budaya Dunia

Wayang sendiri merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Seni pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, kritik sosial, hingga refleksi nilai kehidupan masyarakat Nusantara.

Di tengah arus globalisasi, keberadaan wayang menghadapi tantangan besar, terutama dalam menarik minat generasi muda yang kini lebih dekat dengan budaya digital.

Upaya Pelestarian Wayang di Era Digital

Pemerintah dan berbagai lembaga budaya terus berupaya menjaga eksistensi wayang. Salah satunya melalui Museum Wayang di Jakarta yang tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga pusat edukasi dan wisata budaya.

Museum Wayang kini mulai mengadopsi teknologi digital untuk menarik minat generasi muda, termasuk penggunaan media sosial dan ruang pamer imersif.

Selain itu, para akademisi seni juga menilai bahwa inovasi dalam kesenian tradisional tidak bisa dihindari. Namun, inovasi tersebut harus tetap menjaga nilai filosofis, estetika, dan etika yang terkandung di dalamnya.

Perlindungan Kekayaan Intelektual Wayang

Dari sisi hukum dan pelestarian budaya, Kementerian Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) juga terus memperkuat perlindungan terhadap wayang sebagai ekspresi budaya tradisional.

Ribuan karya budaya telah tercatat sebagai kekayaan intelektual komunal, termasuk puluhan jenis seni wayang dari berbagai daerah di Indonesia.

Di Tengah Inovasi Digital, Nasib Dalang Justru Menghadapi Tantangan

Di balik ramainya perdebatan mengenai wayang berbasis AI dan teknologi digital, ada satu aspek penting yang sering luput dari perhatian publik, yakni kondisi para dalang sebagai aktor utama dalam seni pertunjukan wayang.

Sejak ratusan tahun lalu, wayang dan dalang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalang bukan sekadar sosok yang menggerakkan wayang di balik kelir. Ia adalah pencerita, pengajar moral, penghubung nilai budaya, sekaligus penjaga warisan leluhur yang diwariskan lintas generasi.

Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prapto Yuwono, menjelaskan bahwa dalam perkembangan wayang kulit yang dipengaruhi penyebaran Islam oleh Walisongo, posisi dalang memiliki makna yang sangat penting.

Menurutnya, dalam filosofi pewayangan Jawa, dalang bahkan dipersonifikasikan sebagai Tuhan yang menggerakkan kehidupan manusia.

“Dalang ini menjadi orang yang sangat penting di dalam filosofi wayang yang sudah Islam. Difilosofikan, dalang adalah Tuhan. Jadi nonton wayang sebenarnya adalah nonton kehidupan manusia yang digerakkan oleh Tuhan,” ujar Prapto.

Karena peran tersebut, seorang dalang tidak hanya dituntut mahir memainkan wayang, tetapi juga memahami nilai-nilai moral, etika, hingga filosofi yang terkandung dalam setiap cerita.

“Dia harus menyampaikan sesuatu yang benar. Bahkan kalau dalang salah ucap saja dia takut karena dia mengajarkan moral dan kebenaran,” tambahnya.

Namun di era modern, tantangan yang dihadapi para dalang bukan lagi soal regenerasi. Justru jumlah dalang di Indonesia masih relatif banyak.

Data Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) mencatat hingga beberapa tahun terakhir terdapat lebih dari 2.600 dalang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua.

Yang menjadi persoalan adalah semakin berkurangnya minat masyarakat untuk menggelar atau mengundang pertunjukan wayang secara langsung.

Sekretaris PEPADI DKI Jakarta, Adri Yudha Prawira, mengungkapkan bahwa perkembangan dunia pedalangan sebenarnya cukup pesat, terlebih dengan hadirnya media digital seperti YouTube dan layanan streaming yang membuat masyarakat lebih mudah mengenal dunia wayang.

Namun, kemudahan akses tersebut belum berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan pertunjukan.

“Perkembangan dalang di Indonesia itu pesat, hanya saja tidak diimbangi dengan minat orang untuk mengundang dalang-dalang tersebut. Sehingga yang sudah belajar mendalang akan menjadi pesimis karena tidak ada undangan. Itu yang berbahaya,” kata Adri.

Menurutnya, kondisi ini jauh lebih mengkhawatirkan dibanding perdebatan soal penggunaan teknologi dalam pertunjukan wayang.

Sebab, tanpa ruang pertunjukan yang memadai, regenerasi dalang berpotensi terhambat. Generasi muda yang telah mempelajari seni pedalangan bisa kehilangan motivasi untuk melanjutkan profesi tersebut karena minimnya kesempatan tampil.

Di sisi lain, Adri juga menyoroti perubahan perilaku penonton. Saat ini sebagian masyarakat datang ke pertunjukan wayang bukan lagi untuk menikmati cerita pewayangan, melainkan lebih tertarik pada unsur hiburan pendukung seperti sinden, bintang tamu, atau segmen lawakan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar wayang saat ini bukan sekadar teknologi AI atau digitalisasi, melainkan bagaimana menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai budaya dengan tuntutan hiburan modern.

Ironisnya, ketika video wayang berbasis AI mampu menarik jutaan penonton hanya dalam hitungan hari, banyak dalang tradisional justru masih berjuang mencari panggung untuk mempertahankan eksistensinya.

Di sinilah perdebatan tentang masa depan wayang menjadi semakin menarik. Teknologi mungkin mampu menghadirkan visual yang spektakuler, tetapi nilai filosofis, kemampuan bertutur, improvisasi, hingga kedalaman makna yang dimiliki seorang dalang tetap menjadi unsur yang belum tergantikan oleh kecerdasan buatan.

Karena itu, sejumlah budayawan menilai bahwa masa depan wayang bukanlah memilih antara tradisi atau teknologi. Keduanya justru perlu berjalan berdampingan, di mana inovasi digunakan untuk menarik perhatian generasi muda, sementara peran dalang tetap menjadi pusat utama yang menjaga ruh dan identitas wayang sebagai warisan budaya bangsa.

Kesimpulan: Inovasi atau Ancaman?

Fenomena wayang berbasis teknologi ini membuka ruang diskusi penting tentang masa depan budaya Indonesia di era digital. Apakah inovasi seperti AI akan menjadi jembatan pelestarian budaya, atau justru menggeser nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan selama berabad-abad?

Satu hal yang pasti, perdebatan ini menunjukkan bahwa wayang masih hidup, bukan hanya di panggung, tetapi juga di ruang digital dan pikiran masyarakat modern.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

Ilustrasi tsunami

Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust

Tembus 33 Ribu Tanda Tangan, Petisi Online Tolak Penutupan Jalan Diponegoro Bandung Makin Masif

Wacana Sistem Tidak Naik Kelas Diberlakukan 2027, Guru dan Siswa Diimbau Siapkan Strategi Baru

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.