bukamata.id — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, Rafael Situmorang, mengajak generasi muda untuk lebih aktif dan berani bersuara dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, di era digital saat ini, menjadi “corong masyarakat” melalui media sosial adalah salah satu bentuk nyata dari implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam konteks musyawarah dan fungsi kontrol sosial.
Rafael mengakui bahwa menjadi penyambung lidah masyarakat bukanlah perkara mudah. Namun, langkah ini sangat krusial untuk memperbaiki berbagai ketimpangan yang terjadi di lapangan.
“Kalau penerapan sehari-hari dalam konteks kehidupan bermasyarakat, walaupun berat, [anak muda] harus menjadi corong masyarakat. Contohnya jika menemukan hal-hal di luar sana yang seharusnya tidak terjadi,” ujar Rafael, Jumat (5/6/2026).
Media Sosial Sebagai Alat Kontrol Kekuasaan
Ia mencontohkan beberapa kasus konkret di mana peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan. Salah satunya adalah fungsi pengawasan dalam program pemerintah, seperti kejadian keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga masalah di sektor pendidikan.
Menurut Rafael, pemuda tidak perlu bingung mencari jalur birokrasi yang rumit. Cukup memanfaatkan platform digital yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Rafael kemudian mengingatkan kembali kasus infrastruktur jalan rusak di Lampung beberapa waktu lalu yang sempat viral di media sosial, hingga akhirnya menarik perhatian langsung dari Presiden Joko Widodo.
“Gara-gara jalan di Lampung rusak, Presiden sampai datang. Advokasi-advokasi seperti itu menurut saya bisa dilakukan oleh anak-anak muda dan itu sangat efektif,” tuturnya.
Implementasi Pancasila Zaman Now
Lebih lanjut, politisi Jabar ini menegaskan bahwa esensi dari sila keempat Pancasila—yang erat kaitannya dengan permusyawaratan dan kedaulatan rakyat—kini telah bergeser ke arah yang lebih inklusif berkat teknologi.
Meskipun secara formal sudah ada lembaga perwakilan rakyat (seperti DPR/DPRD) yang bertugas menampung aspirasi, Rafael menilai saat ini ruang publik sudah jauh lebih terbuka. Masyarakat luas, terutama pemuda, memiliki kekuatan yang sama besar untuk menyuarakan kebenaran.
“Jadi ini memang salah satu cara ketika mengimplementasikan Pancasila dengan bersuara. Permusyawaratan itu di situ, corongnya salah satunya di situ. Walaupun memang ada lembaganya, tapi hari ini masyarakat juga bisa langsung bersuara,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










