Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi Hujan.

Peta Penyemaian Hujan Buatan di Jabar: Ini 3 Zona Target Operasi Modifikasi Cuaca BNPB

Senin, 26 Oktober 2026 14:53 WIB

Tewas Usai Nonton Persib di Pakansari, Kematian Pelajar SMA di Bogor Masih Jadi Misteri

Senin, 26 Oktober 2026 14:46 WIB

Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi

Senin, 26 Oktober 2026 14:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Peta Penyemaian Hujan Buatan di Jabar: Ini 3 Zona Target Operasi Modifikasi Cuaca BNPB
  • Tewas Usai Nonton Persib di Pakansari, Kematian Pelajar SMA di Bogor Masih Jadi Misteri
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • 5 Wisata Air di Pangandaran Selain Pantai, Cocok Buat Liburan Akhir Pekan
  • BPNT Tahap 4 Rp600.000, PKH hingga Rp750.000: Cek Nama Penerima Oktober 2026
  • Siap-siap Razia! Operasi Patuh Lodaya 2026 Resmi Digelar di Jabar Selama 14 Hari
  • Viral Video Pemusnahan Kosmetik di SMAN 1 Pacet Cianjur, Ini Penjelasan Pihak Sekolah
  • Igor Tolic Diskors, Bisakah Tetap Dampingi Persib Lawan Melbourne Victory?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 26 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ramalan Gempa Juli 2025 dari Manga Viral Gegerkan Jepang, Benarkah Akan Terjadi?

By Aga GustianaSabtu, 5 Juli 2025 08:20 WIB4 Mins Read
Ilustrasi gempa
ilustrasi gempa bumi. (Foto: Shutterstock)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah manga lama berjudul Watashi Ga Mita Mirai (The Future I Saw) kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kembali dengan klaim mencengangkan: Jepang akan dilanda gempa bumi dahsyat pada Juli 2025.

Komik yang pertama kali terbit pada 1999 ini ditulis oleh seniman Jepang, Ryo Tatsuki. Dalam edisi lengkap terbarunya, tertulis peringatan mencolok: “Bencana sesungguhnya akan datang pada Juli 2025.”

Gelombang Kecemasan di Tengah Ramalan Fiksi

Ramalan dalam manga ini memicu kegelisahan luas di media sosial dan berdampak nyata. Sejumlah penerbangan dari Hong Kong ke Jepang dibatalkan karena penurunan jumlah penumpang. Wisatawan asing, khususnya dari Asia Timur, mulai membatalkan rencana liburan mereka ke Negeri Sakura.

Dalam cerita manga tersebut, dikisahkan bahwa dasar laut antara Jepang dan Filipina akan retak, memicu tsunami raksasa yang konon tiga kali lebih besar dari bencana Tohoku 2011.

Yang membuat publik semakin cemas, Tatsuki sebelumnya diyakini pernah “meramalkan” gempa dan tsunami Maret 2011 serta pandemi COVID-19 dalam karyanya. Meski tanpa landasan ilmiah, prediksi yang kebetulan akurat membuat sebagian kalangan percaya pada kemampuannya.

Situasi Seismik Nyata Picu Kekhawatiran

Menambah kegelisahan, dalam dua pekan terakhir, wilayah Kepulauan Tokara di Prefektur Kagoshima mengalami lebih dari 1.000 gempa kecil hingga sedang, berkekuatan antara magnitudo 2 hingga 5,5. Pemerintah Jepang bahkan mengevakuasi puluhan warga dari salah satu pulau terdampak.

Hal ini memperkuat narasi publik akan kemungkinan “kiamat kecil” seperti yang digambarkan dalam manga Tatsuki.

Ilmuwan Tegaskan: Tidak Ada Dasar Ilmiah

Meskipun kekhawatiran publik meningkat, Badan Meteorologi Jepang menegaskan bahwa tidak ada metode ilmiah yang memungkinkan seseorang meramalkan waktu, lokasi, atau kekuatan gempa secara akurat.

“Prediksi seperti itu merupakan hoaks dan bentuk disinformasi,” ujar pernyataan resmi yang dikutip dari The South China Morning Post.

Ryo Tatsuki sendiri juga membantah bahwa komiknya adalah ramalan masa depan. Dalam wawancara dengan Reuters, ia menegaskan dirinya bukan peramal dan mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu mempercayai “mimpi” dalam karyanya.

Risiko Gempa Nyata di Zona Nankai

Meski manga tersebut adalah fiksi, Jepang memang berada dalam status siaga tinggi terhadap potensi gempa besar, khususnya di Zona Nankai Trough, kawasan bawah laut sepanjang 800 km di selatan Jepang.

Pemerintah Jepang memperkirakan ada 80% kemungkinan gempa berkekuatan magnitudo 8 hingga 9 akan terjadi di wilayah ini sebelum tahun 2055. Jika itu terjadi, diperkirakan akan menewaskan hingga 300 ribu jiwa dan menyebabkan kerugian ekonomi mencapai US$2 triliun.

Gempa besar terakhir di zona ini terjadi pada tahun 1946.

Dampak Nyata terhadap Pariwisata

Spekulasi mengenai terjadinya mega-gempa pada 5 Juli 2025 turut berdampak pada sektor pariwisata Jepang. Data terbaru menunjukkan kunjungan wisatawan asal Hong Kong pada Mei 2025 turun sebesar 11% dibandingkan tahun sebelumnya.

Maskapai seperti Hong Kong Airlines dan Greater Bay Airlines membatalkan beberapa penerbangan ke Jepang karena permintaan menurun drastis.

Ekonom Takahide Kiuchi dari Nomura Research Institute memperkirakan bahwa kekhawatiran wisatawan bisa menimbulkan kerugian ekonomi hingga US$3,9 miliar.

Namun, dua agen perjalanan besar di Hong Kong mengonfirmasi bahwa hingga akhir pekan ini belum terjadi pembatalan besar-besaran.

Ironisnya, bulan April 2025 lalu justru mencatat rekor kunjungan tertinggi sepanjang sejarah Jepang dengan 3,9 juta wisatawan dalam satu bulan.

Jepang Tetap Waspada, Bukan Panik

Sebagai negara yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, Jepang terbiasa menghadapi 2 hingga 3 gempa bumi per hari. Sebagian besar berintensitas rendah dan tidak menimbulkan dampak besar.

Namun, Negeri Sakura memiliki sistem mitigasi gempa yang canggih: mulai dari bangunan tahan gempa dengan teknologi bantalan bola hingga pelatihan evakuasi rutin yang diterapkan sejak dini.

Pemerintah Jepang sendiri telah memperbarui rencana kesiapsiagaan gempa pada 1 Juli 2025, dengan fokus pada pembangunan tanggul, tempat evakuasi massal, dan penyuluhan berkala kepada masyarakat.

Kesimpulan: Antara Imajinasi dan Kenyataan

Munculnya kembali manga Watashi Ga Mita Mirai menunjukkan bahwa di tengah kecanggihan teknologi dan kesiapan bencana, ketakutan kolektif tetap bisa dipicu oleh narasi fiksi yang viral.

Meski tidak berdasar ilmiah, fenomena ini menjadi pengingat bahwa edukasi publik soal mitigasi bencana, literasi informasi, dan ketenangan dalam menghadapi rumor adalah hal yang tak kalah penting dari kesiapsiagaan teknis.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi Hujan.

Peta Penyemaian Hujan Buatan di Jabar: Ini 3 Zona Target Operasi Modifikasi Cuaca BNPB

Tewas Usai Nonton Persib di Pakansari, Kematian Pelajar SMA di Bogor Masih Jadi Misteri

Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi

Bansos

BPNT Tahap 4 Rp600.000, PKH hingga Rp750.000: Cek Nama Penerima Oktober 2026

Siap-siap Razia! Operasi Patuh Lodaya 2026 Resmi Digelar di Jabar Selama 14 Hari

Viral Video Pemusnahan Kosmetik di SMAN 1 Pacet Cianjur, Ini Penjelasan Pihak Sekolah

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.