Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ancaman Nyata Krisis Iklim: Ketika Gunung Es Himalaya Mulai Mencair dan Bawa Petaka

Sabtu, 29 Agustus 2026 15:24 WIB
Ilustrasi begal

Dijerat Tali Tambang dari Belakang, Driver Ojol di Tasikmalaya Bangkit dan Tumbangkan Begal

Sabtu, 29 Agustus 2026 14:01 WIB

Mending Pengangguran Daripada Kerja di Kandang? Ironi Pahit Pamitnya Peternakan Terbaik Dago Dairy!

Sabtu, 29 Agustus 2026 13:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ancaman Nyata Krisis Iklim: Ketika Gunung Es Himalaya Mulai Mencair dan Bawa Petaka
  • Dijerat Tali Tambang dari Belakang, Driver Ojol di Tasikmalaya Bangkit dan Tumbangkan Begal
  • Mending Pengangguran Daripada Kerja di Kandang? Ironi Pahit Pamitnya Peternakan Terbaik Dago Dairy!
  • Play-off ACL 2 Persib vs Manila Digger FC: Mengukur Potensi Ancam Skuad Underdog Filipina
  • Jadwal MotoGP Aragon 2026 Akhir Pekan Ini: Cek Jam Tayang Sprint Race dan Race Utama!
  • Terbongkar Sosok Melva Pardede! Sebut Ojol Dikhianati Botok Pati CS, Ternyata Cuma Driver Jadi-jadian?
  • Sederet Skandal Sesama Jenis di Cianjur yang Berakhir Tragis dan Memicu Amarah Warga
  • Banjir Hadiah Gratis! Serbu Kode Redeem FF Sabtu 29 Agustus 2026 Sebelum Kehabisan Kuota
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 29 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ancaman Nyata Krisis Iklim: Ketika Gunung Es Himalaya Mulai Mencair dan Bawa Petaka

By Aga GustianaSabtu, 29 Agustus 2026 15:24 WIB2 Mins Read
Lembah Pegunungan Himalaya. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gelombang lumpur, es, dan batu yang menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8) lalu membuka mata dunia terhadap ancaman nyata pemanasan global di dataran tinggi. Bencana ini bukan sekadar luapan air musiman, melainkan indikasi bahwa topografi pegunungan tertinggi di bumi kini semakin kehilangan stabilitas dasarnya.

Berdasarkan pembacaan data satelit dan seismik, malapetaka tersebut bermula dari runtuhnya bongkahan gletser raksasa serta formasi batuan di Gunung Langtang Lirung, jajaran Himalaya. Material padat yang meluncur bebas ke lembah menciptakan gelombang kejut destruktif yang menyapu bersih kawasan hilir.

Dahsyatnya hantaman ini sempat mengecoh sensor gempa bumi lokal yang mencatat getaran berkekuatan magnitudo 4,4. Kendati demikian, US Geological Survey (USGS) meralat data tersebut setelah mendapati bahwa energi seismik yang dilepaskan ternyata setara dengan gempa magnitudo 5,2—sebuah bukti nyata dari masifnya massa es dan bebatuan yang ambruk ke jurang.

Hilangnya ‘Lem’ Alami di Lereng Curam

Para peneliti kini membunyikan lonceng peringatan bahwa kenaikan suhu bumi secara drastis telah mengubah struktur fisik pegunungan secara permanen. Selama ini, lapisan permafrost (tanah beku) dan gletser berfungsi layaknya semen alami yang mengunci formasi batuan terjal agar tetap pada posisinya.

Ketika suhu atmosfer terus merangkak naik, es yang mengisi celah-celah sempit di dalam gunung mencair. Akibatnya, fondasi tebing yang tadinya padat berubah menjadi struktur yang sangat rapuh dan mudah longsor.

Dr. Richard Waller, seorang ahli geografi fisik dari Keele University, mengibaratkan kondisi fisik pegunungan saat ini menyerupai tumpukan batu retak yang hanya disatukan oleh lapisan es tipis.

“Ketika permafrost dan sambungan batuan yang dipenuhi es mencair, ada potensi terjadinya keruntuhan besar seperti ini,” ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.

Anomali Suhu dan Kompleksitas Bencana

Sebelum bencana maut itu meletus, situasi di sekitar wilayah Nepal memang memperlihatkan indikasi cuaca ekstrem. Dr. Hamish Pritchard dari British Antarctic Survey mendokumentasikan lonjakan suhu tanah di sekitar titik longsor yang mencapai rekor tertingginya dalam dua tahun terakhir, tepat dua hari sebelum insiden terjadi.

Suhu panas yang membakar tersebut memicu pencairan salju masif yang airnya meresap ke dalam rekahan batuan, merusak total ikatan internal lereng. Meski faktor musim monsun yang membuat tanah jenuh air turut memperburuk keadaan, para ilmuwan sepakat bahwa perubahan iklim telah menciptakan kerentanan struktural yang belum pernah ada sebelumnya.

“Perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat mengganggu kestabilan batuan dan es di pegunungan tinggi,” tegas peneliti Simon Cox dari Earth Sciences New Zealand.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Gunung Himalaya Nepal Tibet
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi begal

Dijerat Tali Tambang dari Belakang, Driver Ojol di Tasikmalaya Bangkit dan Tumbangkan Begal

Terbongkar Sosok Melva Pardede! Sebut Ojol Dikhianati Botok Pati CS, Ternyata Cuma Driver Jadi-jadian?

Sederet Skandal Sesama Jenis di Cianjur yang Berakhir Tragis dan Memicu Amarah Warga

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

September 2026 Jadi Batas Penting, 2 Bantuan Pemerintah Ini Masih Bisa Diterima

Nama Bisa Berubah! Cek Bansos Tahap 3 2026 Pakai NIK KTP, Ini Caranya

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos Tahap 3 2026 Cair hingga September, Cek Penerima Pakai NIK KTP di Sini

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
  • Mesin Politik Mulai Dipanaskan! PRI Bidik 13 Kursi DPR RI dari Jawa Barat
  • Musda VI Demokrat Jabar Digelar, AHY Dorong Konsolidasi dan Kebangkitan Partai Menuju Pemilu 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.