bukamata.id – Udara dingin dan hamparan hijau di kawasan Buniwangi, Lembang, biasanya membawa ketenangan. Namun, akhir Agustus 2026 ini, riak kabar duka di sektor agribisnis justru berhembus dari lereng pegunungan tersebut. Dago Dairy, salah satu produsen susu segar organik dan destinasi wisata edukasi terkemuka di Bandung Barat, secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari industri peternakan tanah air.
Keputusan menghentikan operasional ini disampaikan langsung oleh sang pemilik, Mark Hallet atau yang akrab disapa Mr. Mark, bersama istrinya, Yanti, melalui sebuah video berdurasi singkat di akun Instagram resmi @dago_dairy. Senyum ramah yang biasanya menyambut wisatawan serta mitra usaha kini berganti dengan nada pamit yang penuh keharusan.
Bukan karena produk mereka tak laku. Bukan pula karena gempuran susu impor atau bangkrut secara finansial. Dago Dairy gulung tikar karena sebuah krisis tak kasat mata namun fatal: mereka kehabisan tenaga kerja manusia.
Dua Tahun Berjuang Melawan Kelangkaan Pekerja
Sejak berdiri pada 2015, Dago Dairy telah mengukuhkan standar tinggi dalam pengolahan susu sapi perah pasteurisasi suhu rendah (low-temperature pasteurization). Susu segar murni, olahan yogurt premium, hingga keju artisanal buatan mereka menjadi langganan berbagai kafe papan atas, toko roti bereputasi, hingga jaringan ritel modern seperti Yogya Supermarket dan Setiabudi Supermarket di Bandung.
Namun, di balik jaminan kualitas produk yang konsisten dan reputasi yang murni, ada mesin operasional harian yang ringkih akibat kekurangan personel. Dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir, pengelola Dago Dairy pontang-panting mencari pekerja lokal yang bersedia mendedikasikan tenaga dan waktunya untuk merawat sapi dan mengurus kandang.
“Hampir dua tahun kami kekurangan karyawan. Anak muda tidak berminat untuk bekerja di peternakan,” ujar Mr. Mark dengan mata penuh kelelahan dalam video pengumuman tersebut.
Akibat kekosongan tenaga kerja yang berkepanjangan, beban kerja harian dilimpahkan kepada sisa pekerja yang ada. Jam kerja membengkak ekstrim demi memastikan ritme peternakan tidak mati total.
“Saya harus bekerja dua shift. Saya tidak punya waktu untuk merawat sapi dengan baik atau memperbaiki kandang,” lanjut Mr. Mark menggambarkan betapa menguras fisiknya menjaga peternakan tanpa dukungan SDM yang memadai.
Tak Ada Penerus di Ujung Jalan
Beban berat operasional harian makin terasa tanpa penopang masa depan. Masalah regenerasi usaha atau business succession plan menjadi paku terakhir yang menutup perjalanan Dago Dairy.
Yanti mengungkapkan bahwa keberlanjutan usaha dari dalam lingkaran keluarga sendiri sudah tidak lagi memungkinkan. Kedua putra mereka yang kini bermukim di Australia memilih untuk meniti karier di bidang lain.
“Kedua putra kami tinggal di Australia. Mereka mencintai Indonesia, tetapi tidak ingin melanjutkan peternakan,” ungkap Yanti.
Kombinasi antara nihilnya pelamar kerja dari masyarakat sekitar serta absennya penerus tahta bisnis keluarga membawa Dago Dairy pada keputusan paling pahit: menghentikan seluruh aktivitas produksi dan secara bertahap melepas aset peternakan mereka.
Ironi Pengangguran Jawa Barat dan Teka-Teki Tenaga Kerja
Tutupnya Dago Dairy akibat sulitnya mencari karyawan meninggalkan sebuah teka-teki besar dan ironi yang sangat menohok. Bagaimana mungkin sebuah usaha produktif di Kabupaten Bandung Barat kehabisan pekerja, sementara provinsi tempatnya berdiri tengah bergelut dengan angka pengangguran yang tinggi?
Jawa Barat secara konsisten mencatatkan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang berada di atas rata-rata nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Jawa Barat kerap menduduki peringkat teratas di Pulau Jawa, menyumbang ratusan ribu hingga jutaan angkatan kerja yang belum terserap. Jawa Barat secara teknis melimpah akan ketersediaan sumber daya manusia usia produktif.
Lantas, mengapa potensi SDM yang melimpah ini tidak mampu terserap oleh sektor-sektor lokal seperti peternakan Dago Dairy?
Fenomena ini mengindikasikan adanya mismatch atau ketidakcocokan yang mendalam antara lapangan kerja yang tersedia dengan kualifikasi, preferensi, dan ekspetasi para pencari kerja. Kabupaten Bandung Barat dan sekitarnya memiliki akar sejarah yang kuat di sektor pertanian dan peternakan perah. Namun, geliat ekonomi daerah ini perlahan terputus dari akar tradisinya sendiri. Masyarakat usia produktif lokal lebih memilih mengantre di pintu-pintu pabrik industri manufaktur, menjadi pekerja jasa perkotaan, atau bahkan memilih menganggur sembari menunggu kesempatan kerja formal ketimbang terjun ke sektor agribisnis.
Gen Z dan Pergeseran Paradigma “Kerja Layak”
Untuk memahami mengapa anak muda enggan menginjakkan kaki di peternakan, kita harus melihat bagaimana generasi muda zaman sekarang—khususnya Generasi Z—mendefinisikan konsep karier dan pekerjaan ideal.
Bagi Gen Z, pekerjaan bukan lagi sekadar cara untuk bertahan hidup secara finansial, melainkan juga menyangkut status sosial, kenyamanan lingkungan kerja, work-life balance, serta peluang pemanfaatan teknologi. Bekerja di sektor peternakan tradisional atau agribisnis lapangan kerap kali terstigma negatif:
- Stigma Pekerjaan “Kotor, Berat, dan Berbahaya” (3D: Dirty, Dangerous, Demeaned) Peternakan sapi menuntut kontak langsung dengan limbah ternak, pekerjaan fisik yang menyita stamina, serta jadwal bangun yang sangat pagi untuk memerah susu. Bagi sebagian besar anak muda yang tumbuh di era digital, lingkungan kerja seperti ini dianggap kurang menarik dan tidak menawarkan gengsi sosial jika dibandingkan dengan bekerja di ruangan ber-AC atau kafe kekinian.
- Fleksibilitas dan Demam Gig Economy Gen Z cenderung menyukai fleksibilitas waktu. Maraknya lapangan kerja di sektor gig economy (seperti pengemudi ojek online, kurir ekspedisi, hingga pekerja kreatif lepas) memberikan alternatif pendapatan yang dapat diakses dengan cepat tanpa terikat komitmen jam kerja fisik yang ketat dan melelahkan seperti di peternakan.
- Persepsi Kurangnya Jenjang Karier Digital Mayoritas anak muda menginginkan pekerjaan yang berkesinambungan dengan literasi digital yang mereka miliki—mulai dari social media specialist, pemasaran digital, hingga operasional berbasis aplikasi. Sektor peternakan konvensional sering dianggap “ketinggalan zaman” dan tidak menawarkan kepastian peningkatan karier yang relevan dengan masa depan mereka.
Ketidakselarasan antara orientasi karier Gen Z dan karakteristik pekerjaan fisik di peternakan ini menciptakan jurang pemisah (gap) yang makin melebar. Akibatnya, peternakan modern dan bernilai tinggi seperti Dago Dairy menjadi korban dari pergeseran budaya kerja ini.
Sorotan Netizen: Empati, Keheranan, hingga Realita Lapangan
Keputusan Dago Dairy mengakhiri operasionalnya memicu gelombang emosional di media sosial. Kolom komentar unggahan Instagram mereka dipenuhi warganet yang menyampaikan simpati, keheranan atas ketimpangan lapangan kerja, hingga kesaksian sesama pelaku agribisnis yang merasakan pilu serupa.
Rasa prihatin sekaligus empati mengalir dari netizen yang mengerti betapa beratnya memutar roda bisnis peternakan di Indonesia.
“Sedih 😢😢..Tapi i feel you, paham semua situasi yang dihadapi local farmers di Indonesia, the struggle dealing dengan keterbatasan tenaga kerja pun pernah dan masih dirasakan, apapun keputusannya best of luck for your next journey pak Mark dan ibu,” tulis salah seorang netizen.
Di sisi lain, kontradiksi antara maraknya pengangguran di Tanah Air dengan sepinya peminat kerja peternakan memantik keheranan dari warganet lainnya.
“Padahal banyak pengangguran di indonesia, tetapi kok nga ada yang mau jadi peternak ya walaupun terpaksa kerja dulu,” cetus netizen di kolom komentar.
Fenomena ini rupanya bukan cuma dialami Dago Dairy. Seorang warganet yang mengaku mantan murid Mr. Mark turut membagikan pengalaman pahit yang sama tentang betapa sulitnya menjaring anak muda untuk terjun ke lapangan.
“Semangat Mark memang saat ini menjadi petani dan peternak kurang diminati anak muda di Indonesia. Saya juga begitu kesulitan mencari pekerja tani di daerah saya dimana anak2 muda cenderung memilih profesi lain. Memang berat jika harus mengerjakan semua sendiri apalagi ada profesi lainnya. Terima kasih atas konten2nya sangat bermanfaat… salam saya dari mantan muridmu di EEP 2010-2011,” tutur warganet tersebut.
Alarm Nyaring Bagi Ketahanan Pangan dan Agribisnis Nasional
Kisah pamitnya Dago Dairy bukan sekadar episode duka bagi pencinta susu segar di Bandung. Ini adalah alarm bahaya yang berdering nyaring bagi masa depan industri pangan nasional.
Jika bisnis olahan susu yang terbukti memiliki ekosistem pasar yang sehat—didukung konsumen setia dari kafe hingga supermarket—saja harus menyerah karena kelangkaan pekerja, bagaimana dengan nasib ribuan peternak kecil tradisional di berbagai daerah yang tidak memiliki daya tawar tinggi?
Jika generasi muda terus membelakangi sektor pertanian dan peternakan, Indonesia berada dalam ancaman krisis regenerasi petani dan peternak. Dalam jangka panjang, kondisi ini dipastikan akan memicu ketergantungan yang makin parah terhadap bahan baku impor demi memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Melalui unggahan perpisahan tersebut, pihak pengelola Dago Dairy menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pekerja yang pernah berjuang bersama, serta mitra setia yang mendukung perjalanan mereka selama kurun waktu sembilan tahun.
Dago Dairy kini resmi menutup lembar perjalanannya. Namun, warisan cerita dari lereng Buniwangi ini meninggalkan pekerjaan rumah yang sangat besar bagi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas: Bagaimana cara kita meyakinkan anak muda bahwa masa depan bangsa ini justru ada di tanah dan peternakan kita sendiri?
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










