bukamata.id – Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, dering notifikasi media sosial adalah penanda waktu. Namun bagi sebatang pohon meranti di pedalaman Kalimantan, detak waktu diukur dari kepulan asap, raungan gergaji mesin, dan deru buldoser yang meratakan tanah. Di tengah himpitan kerusakan ekosistem yang makin memprihatinkan, sebuah fenomena unik mendadak menyeruak di ruang digital: tren mengadopsi orangutan secara daring.
Sederet nama populer di linimasa—dari Amanda Zahra, Tamara Dai, Gading Marten, hingga Dian Soediro—secara bergantian memamerkan sertifikat adopsi satwa langka ini. Unggahan tersebut sontak menjadi perbincangan hangat, memicu gelombang keingintahuan publik. Apakah satwa pemakan buah ini kini bisa dipelihara di halaman rumah? Mengapa tren “pamer” ini justru disambut baik oleh para aktivis lingkungan? Dan yang paling krusial, apa hubungan antara selembar sertifikat digital di layar telepon pintar dengan takdir hutan hujan tropis di Pulau Borneo?
Ketika “Rumah” Mereka Hangus dan Rata dengan Tanah
Untuk memahami mengapa fenomena ini muncul, mata publik harus terlebih dahulu diarahkan pada gambaran besar yang terjadi di bentang alam Kalimantan. Tren adopsi simbolis ini tidak lahir di ruang hampa. Ia mencuat persis di tengah kecemasan global atas eskalasi deforestasi, pembukaan lahan skala besar untuk perkebunan monokultur, hingga ancaman tahunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengikis benteng hijau Nusantara.
Setiap hektar hutan yang tumbang atau terbakar bukan sekadar deretan angka statistik ekonomi. Bagi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), itu adalah runtuhnya tempat tinggal, sirnanya sumber pangan, dan terputusnya rantai silsilah keluarga. Dalam banyak kasus konflik satwa dan manusia di area konsesi perkebunan, induk orangutan sering kali menjadi korban utama—ditembak, diracun, atau diusir karena dianggap hama.
Ketika sang induk tewas, anak orangutan yang masih balita ditinggalkan dalam kondisi linglung, trauma, dan tak berdaya di tengah puing-puing sisa pembakaran atau tebangan pohon.
Goresan luka ekologis inilah yang tersirat dalam unggahan influencer Tamara Dai saat memperkenalkan salah satu anak adopsinya via Threads. Tamara menuliskan kisah pilu Rumba, orangutan yang ia adopsi selain Bumi dan Selfie:
“Rumba ditemukan sendirian di tengah Perkebunan Sawit, kebayang kan selinglung apa anak kecil ini. Kehilangan orang tuanya, rumahnya,” tulis Tamara.
Kisah Rumba adalah representasi dari ratusan anak orangutan lain. Kerusakan habitat memaksa bayi-bayi memprihatinkan ini terpisah secara paksa dari dekapan induknya—padahal di alam liar, seorang anak orangutan bergantung penuh pada induknya hingga berusia 7 sampai 8 tahun untuk belajar cara bertahan hidup.
Rasa simpati publik yang teriris melihat kenyataan ini menemukan salurannya lewat gerakan kepedulian digital.
Menghapus Mitos: Bukan Dipelihara, Melainkan Diselamatkan
Popularitas tren ini menumbuhkan pertanyaan mendasar di kalangan warganet: Apakah orangutan yang diadopsi benar-benar bisa dibawa pulang ke rumah dan diberi pakaian lucu layaknya anjing atau kucing?
Jawabannya adalah tidak.
Program adopsi yang dikelola oleh lembaga konservasi nirlaba seperti Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation merupakan bentuk adopsi simbolis. Istilah “adopsi” dalam kacamata konservasi memiliki diferensiasi yang sangat kontras dibandingkan adopsi hewan peliharaan (pets). Memelihara orangutan secara pribadi di rumah bukan hanya tindakan yang merusak sifat alami satwa, melainkan juga pelanggaran hukum yang diancam pidana sesuai undang-undang perlindungan satwa di Indonesia.
Melalui adopsi daring, satwa yang dipilih tidak akan pernah berpindah tangan ke alamat rumah pengadopsi. Mereka tetap tinggal di pusat rehabilitasi—seperti di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, atau Samboja Lestari, Kalimantan Timur—untuk dirawat secara profesional oleh tim medis, vet, dan pengasuh (babysitter) berpengalaman.
Fenomena ini menjadi momentum edukasi massal. Amanda Zahra, misalnya, membagikan momen saat ia mengadopsi orangutan bernama Iqo. Amanda terikat secara emosional dengan karakter unik yang dimiliki satwa tersebut.
“Aku pilih si Iqo soalnya muka kayak gini ? terus dia juga baik hati n gak picky eater (impian ibu-ibu) plus ky suka melamun.. melankolis queen ? (gw),” tulis Amanda di akun media sosialnya.
Begitu pula dengan selebgram Dian Soediro yang merasa terhubung secara batiniah dengan Selfie, orangutan yang dievaluasi telah terpisah dari induknya sejak masih berusia nol bulan.
“Selfie bukan sekadar hewan bagiku, ia telah menjadi bagian dari hidupku, bagian dari keluargaku, dan sudah seperti putriku sendiri,” ungkap Dian.
Sementara itu, Aktor Gading Marten turut membagikan potret kepeduliannya untuk orangutan yang sama. “Sehat-sehat pinter-pinter ya baby Selfie,” tulisnya.
Bagi figur-figur ini, uang yang dikeluarkan bukanlah biaya pembelian aset, melainkan self-reward atau wujud tanggung jawab sosial yang nyata. Tamara Dai bahkan secara terbuka menyebut aksi ini sebagai bentuk “pamer” yang bermartabat.
“FLEXING TERMAHAL HADIAH ULTAH AKU dari AKU. Semakin dewasa usiaku, semakin sedikit desire ulang tahunku dirayakan… Dan untuk tahun ini, inilah hadiah dari AKU untuk AKU, sebuah self reward yang bisa dengan bangga aku tunjukkan ke seluruh makhluk di Bumi,” papar Tamara.
Menelusuri Jejak Dana: Dari Pakan Hingga “Sekolah Hutan”
Lantas, ke mana sebenarnya mengalirnya dana yang disetorkan oleh para pengadopsi?
Merawat seekor orangutan korban deforestasi membutuhkan sumber daya yang masif dan konsisten. BOS Foundation menjelaskan bahwa dana adopsi dialokasikan secara transparan untuk menyokong seluruh infrastruktur rehabilitasi. Ini mencakup pembelian pakan bernutrisi tinggi (seperti buah-buahan lokal, dedaunan, dan umbi-umbian), penyediaan logistik medis dan obat-obatan, pemeliharaan kandang karantina, hingga pembiayaan misi penyelamatan (rescue team) saat menerima laporan konflik satwa.
Proses rehabilitasi orangutan tidak bisa diselesaikan dalam hitungan bulan. Bagi bayi orangutan yang kehilangan induknya, mereka harus mendaftar di Sekolah Hutan (Forest School). Di sekolah berbasis alam ini, para pengasuh manusia bertindak sebagai pengganti sosok ibu.
Orangutan diajari kemampuan dasar yang seharusnya diturunkan oleh induk mereka di alam bebas, antara lain:
- Mengenali Pakan Alami: Membedakan mana buah, kulit kayu, dan serangga yang aman dikonsumsi.
- Keahlian Arboreal: Melatih otot dan keberanian untuk memanjat pohon tinggi serta berpindah antar-tajuk.
- Merancang Sarang: Membuat tempat tidur dari jalinan ranting dan daun di atas pohon setiap sore hari.
- Insting Perlindungan: Mengembangkan kewaspadaan alami terhadap bahaya, termasuk rasa cermat terhadap kehadiran manusia.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi finansial ini, lembaga konservasi memberikan laporan berkala (progress report) kepada para pengadopsi. Pengadopsi paket satu tahun, misalnya, menerima laporan perkembangan fisik, perubahan perilaku, serta foto eksklusif anak adopsi mereka setiap tiga bulan sekali. Ini menciptakan ikatan emosional: masyarakat urban di kota-kota besar dapat memantau bagaimana bantuan mereka secara bertahap mengubah seekor anak orangutan yang tadinya trauma menjadi individu yang tangguh.
Gejolak dan Suara Netizen: Antara Apresiasi, Sentilan Politik, hingga Harapan Baru
Gelombang viralnya aksi para selebgram ini merembet cepat di kolom komentar berbagai platform media sosial. Respons publik sangat beragam—mulai dari kesaksian pengadopsi lama, kritik sosial bergaya satire, hingga impian agar program serupa diterapkan pada spesies endemik lainnya.
Salah seorang warganet yang mengaku sudah lama bergabung dalam gerakan ini menyampaikan kepuasannya atas transparansi pihak pengelola, sekaligus menyambut hangat tren yang tengah bergulir.
“Aku udah adopt dari 2023, mereka sering update info dan share cerita singkat ke email kita nantinya. Seneng bgt semakin banyak yg adopt dan sayang sama orangutan,” ujar netizen.
Di sisi lain, maraknya gerakan swadaya masyarakat untuk menyelamatkan satwa langka ini juga memantik sentilan kritis bernada satire dari warganet, yang membandingkan alokasi kepedulian publik dengan dinamika isu politik-ekonomi nasional.
“Lebih Mulia uang pajak rakyat untuk memberi makan orang hutan drpd memberi makan orang yg disono,” ujar netizen.
Tak berhenti di situ, tingginya antusiasme masyarakat dalam program adopsi simbolis ini melahirkan ide baru agar skema serupa diserap oleh pusat konservasi satwa dilindungi lainnya di Indonesia.
“Semoga pusat perawatan & rehabilitasi hewan lain jg punya program seperti ini, krn terbukti banyak yg tergerak hatinya buat keluar uang & adopt. Pingin adopt gajah dah,” ujar netizen.
Cara Mengambil Bagian Secara Daring
Bagi masyarakat luas yang tergerak untuk ikut mengulurkan tangan, akses menuju program konservasi ini kini dirancang sangat inklusif dan transparan melalui platform digital. Berikut mekanisme langkah demi langkah untuk menjadi orang tua asuh simbolis via BOS Foundation:
- Akses Portal Resmi: Kunjungi laman resmi lembaga di
orangutan.or.idmelalui peramban ponsel atau komputer. - Pilih Menu Adopsi: Masuk ke direktori adopsi yang menampilkan daftar individu orangutan yang sedang membutuhkan dukungan rehabilitasi.
- Kenali Profil Satwa: Baca dengan saksama kisah latar belakang masing-masing satwa. Saat ini, terdapat beberapa profil favorit seperti Bumi, Monita, Mema, Jelapat, Topan, hingga Kopral—orangutan tanpa kedua lengan yang memiliki semangat hidup luar biasa.
- Tentukan Paket: Pilih durasi dukungan yang diinginkan (umumnya tersedia pilihan paket 6 bulan atau 1 tahun).
- Pengisian Data & Transaksi: Masukkan alamat surel aktif untuk pengiriman paket digital, lalu selesaikan pembayaran melalui kanal transaksi elektronik yang tersedia.
- Penerimaan Sertifikat: Dalam kurun waktu maksimal lima hari kerja, pengadopsi akan menerima welcome pack digital berisi sertifikat resmi atas nama pribadi atau nama orang tersayang yang dihadiahi, beserta kisah lengkap satwa.
Misi Akhir: Kembali Menjadi Penguasa Hutan Rimba
Tujuan tertinggi dari seluruh riuh rendah tren adopsi ini bukanlah untuk membuat orangutan terus-menerus bergantung pada kedermawanan manusia. Sebaliknya, muara dari seluruh proses panjang ini adalah kebebasan.
Setelah lulus dari Sekolah Hutan dan melewati fase pra-pelepasliaran di pulau-pulau alami yang terisolasi, orangutan yang dinilai memiliki sifat liar yang utuh, mampu mencari makan mandiri, serta tidak lagi ramah pada manusia akan dikembalikan ke rumah aslinya: rimba belantara.
Perjalanan ini adalah kerja nyata yang terus berlanjut. BOS Foundation bersama Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta berbagai pemangku kepentingan terus memindahkan orangutan hasil rehabilitasi ke kawasan pelestarian yang aman, seperti Hutan Lindung Bukit Batikap dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kalimantan Tengah, serta Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur.
Setiap kali seekor orangutan berhasil dilepasliarkan, ada napas harapan baru bagi ekosistem Kalimantan. Orangutan adalah spesies kunci (keystone species). Saat mereka menjelajah hutan, memakan buah, dan menyebarkan biji-bijian melalui kotorannya ke area yang luas, mereka secara tidak langsung meregenerasi struktur hutan tropis yang rusak.
Satu sertifikat adopsi digital yang diunggah oleh seorang influencer di Jakarta mungkin tampak sederhana. Namun, akumulasi dari kepedulian publik serta dukungan puluhan ribu netizen tersebut adalah bahan bakar yang menjaga asa di lapangan: memastikan bahwa ketika riak deforestasi dan ancaman kebakaran hutan terus mengintai, anak-anak orangutan yang kehilangan ibu dan rumahnya masih memiliki kesempatan untuk tumbuh, pulih, dan pada akhirnya kembali memimpin rimba Kalimantan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










