Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

BSU Oktober 2026 Rp900 Ribu, Cek Syarat Penerima dan Desilnya

Kamis, 1 Oktober 2026 18:15 WIB

Jadwal Berubah! Garudayaksa FC vs Persib Dimajukan, Ini Waktu Terbarunya

Kamis, 1 Oktober 2026 18:00 WIB

Nurisa Dian Ashrifah Raih Emas, Sejarah Baru Panahan Indonesia di Asian Games

Kamis, 1 Oktober 2026 17:49 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • BSU Oktober 2026 Rp900 Ribu, Cek Syarat Penerima dan Desilnya
  • Jadwal Berubah! Garudayaksa FC vs Persib Dimajukan, Ini Waktu Terbarunya
  • Nurisa Dian Ashrifah Raih Emas, Sejarah Baru Panahan Indonesia di Asian Games
  • PP Jabar Gelar Diskusi Publik Bahas Penegakan Hukum, Keadilan dan Kepercayaan Publik
  • Forum PKL Juara Dukung Penertiban Hasanuddin-Surya Kencana, Minta Solusi bagi Pedagang
  • 40 Bangli dan Lapak PKL di Hasanuddin-Surya Kencana Ditertibkan
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
  • Warga Bandung Wajib Tahu! 65 Kasus Influenza A Terdeteksi, Ini Gejalanya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 1 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Remaja Ini Tuli Mendadak Usai 4 Jam Dengarkan Suara Jangkrik

By Aga GustianaSelasa, 11 Agustus 2026 09:02 WIB2 Mins Read
Jangkrik. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suara alam tidak selamanya ramah bagi indra pendengaran. Seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Yang, warga Ningbo, Zhejiang, harus berurusan dengan masalah medis usai menghabiskan waktu berkemah di area hutan pada awal Juli lalu, sebagaimana dilaporkan Shandian News.

Saat berkegiatan di siang hari, Yang berada di tengah riuhnya suara jangkrik hutan selama empat jam nonstop tanpa menggunakan pelindung telinga. Dampaknya baru terasa ketika malam tiba. Telinganya mendadak terasa penuh dan membengkak, hingga ia kehilangan kemampuan mendengar bunyi bernada tinggi seperti nada dering ponsel maupun kicauan burung.

Melansir SCMP, hasil pemeriksaan medis mengonfirmasi bahwa Yang menderita gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan (noise-induced hearing loss). Beruntung, kondisinya bersifat sementara dan pendengarannya berangsur pulih setelah menjalani perawatan serta mengisolasi diri dari tempat bising selama dua minggu.

Fenomena ini rupanya bukan hal baru. Li Ji, dokter senior di Departemen Otolaringologi RS Afiliasi No. 1 Ningbo University, mengungkapkan bahwa kasus serupa kerap berulang setiap kali musim panas tiba.

“Banyak orang keliru percaya bahwa suara alam tidak berbahaya bagi telinga mereka,” kata Li.

Li memaparkan bahwa seekor jangkrik umumnya hanya mengeluarkan tingkat kebisingan sekitar 70 desibel—angka yang masih aman bagi organ pendengaran. Namun, situasi berubah drastis ketika ribuan jangkrik bersuara secara kolosal. Intensitas suaranya bisa melonjak hingga 85 desibel, yang merupakan ambang batas awal pemicu kerusakan telinga.

“Sel-sel rambut di koklea dapat mengalami edema akibat iritasi dari suara keras dalam durasi yang relatif singkat. Biasanya, sel-sel tersebut pulih setelah menghindari lingkungan yang bising dan beristirahat selama 1-2 minggu,” kata Li.

Ia menekankan agar masyarakat tidak meremehkan gejala awal, sebab dampak jangka panjangnya bisa sangat fatal jika saraf telinga sudah terlanjur mati.

“Namun, jika sel-sel rambut mengalami nekrosis, sel-sel tersebut tidak dapat beregenerasi. Gangguan pendengaran yang dihasilkan bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan, sehingga pasien harus bergantung pada alat bantu dengar untuk membantu pendengaran,” tambahnya.

Kondisi permanen inilah yang dialami Liu, seorang pekerja pemangkas pohon berusia 60-an. Selama 12 tahun berturut-turut dari bulan Juni hingga Agustus, Liu terus-menerus terpapar dengung jangkrik saat bekerja. Akibatnya, ia kini menderita tinnitus (telinga berdenging kronis) serta kehilangan kemampuan merespons suara berfrekuensi rendah secara permanen.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Batal Cerai atau Prank? Kemunculan Demian di Live Sara Wijayanto Bikin Heboh, Cinta Belum Usai?

Jangan Lewatkan! Ini Jadwal Indonesia di Asian Games 2026 1 Oktober, Ada Duel Perebutan Emas

Bansos PKH September 2026 Belum Cair? Cek Status Penerima Lewat HP Cukup Pakai NIK

Rekomendasi Kuliner Malam Bekasi: Tempat Nongkrong & Makan Enak yang Buka Seharian

Bikin Ngiler! 4 Nasi Goreng Bandung dengan Racikan Unik dan Topping Melimpah

Rekomendasi 10 Surga Tersembunyi di Kuningan untuk Healing Tenang dan Jauh dari Penat

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.