bukamata.id – Pagi itu, suasana di sekitar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari tampak riuh seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Di antara kerumunan itu, ada satu sosok yang penampilannya sangat kontras, namun kehadirannya justru memancarkan energi yang luar biasa besar.
Ia adalah Rina. Bagi sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia, wajah dan perawakannya mungkin sudah tidak asing lagi. Beberapa tahun lalu, sosoknya sempat mengguncang jagat maya, memicu rasa gemas, kagum, dan penasaran dari jutaan netizen karena penampilannya yang sangat mungil akibat kondisi dwarfisme. Namun hari ini, narasi tentang dirinya bukan lagi soal keimutan atau video pendek yang melintas di beranda TikTok. Narasi hari ini adalah tentang keteguhan hati, perjuangan akademis, dan kemenangan sebuah mimpi.
Perempuan yang kini berusia 26 tahun tersebut telah menuntaskan seluruh kewajiban akademiknya di Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra, FIB UHO. Di tangannya, selembar berkas kelulusan kini sudah tergenggam, menandai berakhirnya sebuah perjalanan panjang nan terjal demi meraih gelar sarjana. Rina kini tengah menghitung hari, bersiap melangkah anggun mengenakan toga pada upacara wisuda mendatang.
Kilas Balik 2022: Senandung Mars UHO yang Mengubah Garis Hidup
Untuk memahami betapa manisnya akhir dari perjalanan ini, kita harus memutar kembali ingatan pada bulan September tahun 2022. Kala itu, Rina melangkah masuk ke gerbang Universitas Halu Oleo sebagai seorang mahasiswi baru. Seperti kebanyakan mahasiswa baru lainnya, ia merasakan kecemasan yang mendalam, terlebih dengan kondisi fisiknya yang berbeda akibat kelainan pada tulang belakang yang memengaruhi pertumbuhannya sejak kecil.
Namun takdir memiliki cara unik untuk memperkenalkan Rina kepada dunia. Saat mengikuti prosesi upacara penyambutan mahasiswa baru untuk seluruh fakultas pada Jumat, 9 September 2022, kamera ponsel milik rekan-rekannya merekam momen ketika Rina dengan penuh khidmat menyanyikan Mars UHO. Tubuhnya kecil, namun suaranya lantang dan gerakannya penuh semangat.
“Pas menyanyikan mars UHO waktu upacara penyambutan maba itu. Teman saya memang banyak yang rekam. Tapi saya tidak tahu kalau mereka jadikan apa di TikTok. Saya tidak tahu kalau mereka upload di TikTok,” kenang Rina, mengingat kembali hari yang mengubah jalannya sejarah hidupnya. “Saya pikir mereka cuman rekam-rekam biasa. Karena mereka bilang saya imut.”
Keesokan harinya, Sabtu, 10 September 2022, ketika kegiatan orientasi bergeser ke tingkat fakultas, nama Rina sudah menjadi kasak-kusuk di antara para senior dan rekan seangkatannya. Bukannya menarik diri karena menjadi pusat perhatian, gadis penyuka jus apel ini justru tampil percaya diri di depan umum, berjoget mengikuti tren TikTok bersama sejumlah mahasiswa lainnya.
Dalam sekejap, video tersebut meledak di media sosial. Rina mendadak viral. Popularitas instan itu langsung mengubah dinamika kesehariannya. Ke mana pun ia melangkah di area kampus, selalu ada orang yang menghentikannya untuk sekadar menyapa, mengajak membuat konten bersama, atau meminta foto.
Bahkan, gaung keviralannya sampai ke telinga para produser televisi di ibu kota. Rina sempat dikejutkan oleh sebuah panggilan telepon pada suatu malam yang menawarkan dirinya untuk terbang ke Jakarta, menjadi bintang tamu di salah satu program bincang-bincang populer di Trans TV yang dipandu oleh pembawa acara kondang, Raffi Ahmad.
“Iya. Katanya acaranya Rafi Ahmad. Itu kemarin. Waktu malam. Ditelepon juga (pihak TV). Ditanyakan kapan ada waktunya,” ujar Rina saat itu dengan binar mata bahagia. Kehadiran tawaran tersebut tidak hanya membuat Rina tersenyum, tetapi juga mendatangkan kelegaan luar biasa bagi keluarganya di rumah. “Orang tuaku juga senang. Karena sudah lamami ingin saya viral.”
Menghapus Luka Masa Lalu di Balik Jabatan “Ketua Tingkat”
Namun, riuh rendah tepuk tangan di media sosial dan lampu sorot studio televisi tidak serta-merta menghapus bayang-bayang masa lalu yang kelam. Jauh sebelum Rina dikenal sebagai mahasiswi yang menginspirasi, ia harus melewati masa kanak-kanak dan remaja yang penuh dengan air mata. Lingkungan sekolah di masa lalu, khususnya saat SD dan SMP, kerap menjadi tempat yang sangat kejam bagi seseorang dengan keterbatasan fisik.
Rina mengaku sering menjadi sasaran empuk perundungan (bullying) oleh teman-teman sebayanya yang belum memiliki kedewasaan empati. Kata-kata kasar, ejekan, bahkan tindakan intimidasi fisik sempat menjadi santapan sehari-harinya.
“Pernah di-bully waktu SD-SMP. Dibilang mukanya kecil. Tidak pantas sekolah di sini. Lebih baik pulang saja atau masuk TK. Pernah juga didorong,” ungkap Rina dengan nada suara yang tenang, merefleksikan luka lama yang kini telah berhasil ia sembuhkan.
Bagi banyak orang, perlakuan diskriminatif seperti itu bisa menjadi alasan kuat untuk menyerah pada keadaan, menarik diri dari pergaulan, atau bahkan putus sekolah. Namun, di sinilah letak keistimewaan seorang Rina. Alih-alih membiarkan dirinya hancur oleh cemoohan orang lain, ia justru membalikkan semua energi negatif itu menjadi sebuah pelecut semangat yang luar biasa. Ia bertekad membuktikan bahwa batasan fisik yang dimilikinya bukanlah akhir dari segalanya.
“Tapi saya tidak putus asa. Karena ingin tunjukkan pada mereka kalau saya bisa. Kalau kekuranganku bisa jadi kelebihan,” tambahnya dengan nada penuh penegasan.
Tekad bulat itu ia bawa hingga ke bangku perkuliahan di UHO Kendari. Di lingkungan kampus yang lebih inklusif dan dewasa, ketakutan Rina akan adanya perundungan susulan perlahan memudar. Popularitasnya di awal kuliah justru bertransformasi menjadi modal sosial yang positif. Keunikan fisiknya tidak lagi menjadi bahan ejekan, melainkan magnet yang mendekatkan dirinya dengan banyak orang dari berbagai latar belakang fakultas.
“Banyak yang menyemangati saya. Saya juga jadi memiliki lebih banyak teman dari fakultas lain,” kata Rina.
Pengakuan atas kapasitas dirinya mencapai puncaknya ketika teman-teman sekelasnya di Jurusan Bahasa dan Sastra memercayakan sebuah tanggung jawab besar di pundaknya: menjadi Ketua Tingkat. Di dunia perkuliahan, posisi ini bukanlah sekadar jabatan seremonial. Seorang ketua tingkat harus menjadi jembatan komunikasi antara dosen dan mahasiswa, mengurus jadwal kuliah, hingga menyelesaikan konflik internal kelas. Dipercaya memegang kendali tersebut menjadi bukti nyata bahwa di mata rekan-rekannya, Rina adalah seorang pemimpin yang kompeten, bukan seseorang yang patut dikasihani.
Menurut Rina, amanah itu tidak mudah dijalankan karena menuntut tanggung jawab besar. Namun, dari sinilah mental kepemimpinannya ditempa. Pengalaman berharga itu kian diperkaya ketika ia mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat awam memberikan Rina banyak pelajaran berharga tentang bagaimana cara bersosialisasi dan berkontribusi tanpa harus merasa minder dengan kondisi tubuhnya.
Menjinakkan “Monster” Skripsi dan Mengabaikan Jempol Netizen
Tentu saja, kehidupan sebagai figur publik kampus tidak selalu berjalan mulus. Perhatian yang terlalu besar dari masyarakat kadang kala mendatangkan rasa tidak nyaman. Di luar lingkungan kampus, saat menggunakan transportasi umum, Rina kerap menjadi pusat perhatian. Tidak jarang, ada warga yang secara diam-diam mengarahkan kamera ponsel ke arahnya, mengambil fotonya tanpa izin terlebih dahulu.
Lebih dari itu, dunia digital yang membesarkan namanya juga menyimpan sisi gelap. Di sela-sela ribuan komentar pujian dan dukungan di media sosial, selalu saja ada jempol-jempol usil yang meninggalkan komentar negatif dan merendahkan terkait kondisi fisiknya.
Namun, Rina yang sekarang bukanlah Rina yang dulu menangis saat didorong di koridor sekolah. Ia telah menjelma menjadi pribadi yang jauh lebih matang dan tebal telinga. Ia memilih untuk tidak memasukkan komentar-komentar miring tersebut ke dalam hati. Didampingi oleh lingkaran pertemanan yang suportif, keluarga yang suportif, serta dosen-dosen yang selalu siap membimbing, Rina memilih untuk menjalani hidup dengan lebih santai dan fokus pada hal-hal yang membawa kebahagiaan bagi dirinya sendiri.
“Saya biasanya menonton drama Korea, mendengarkan musik K-pop, membaca novel, menonton drama Cina, atau membeli camilan supaya tetap semangat,” ujarnya sembari terkekeh, membagikan resep sederhana bagaimana ia menjaga kesehatan mentalnya di tengah tekanan.
Menariknya, bagi Rina, tantangan terbesar dan paling melelahkan selama menempuh jalur pendidikan strata satu di UHO bukanlah menghadapi sorotan publik atau menghadapi komentar miring netizen. “Monster” sesungguhnya yang paling sulit takhlukkan adalah tugas akhir bernama skripsi.
Proses menyusun skripsi, melakukan penelitian, hingga menghadapi revisi yang bertubi-tubi dari dosen penguji sempat membuat Rina berada di titik jenuh. Ia mengaku beberapa kali merasa sangat tertekan dan stres, hingga sempat memilih untuk menunda pengerjaan revisi karena merasa energinya telah terkuras habis. Fase-fase penuh air mata dan keputusasaan itu sempat menghampirinya, membuat garis finis perkuliahan tampak begitu jauh dan samar.
Namun, sifat pantang menyerah yang telah ia pupuk sejak masa kecilnya kembali mengambil alih. Dengan perlahan namun pasti, coretan revisi demi revisi ia selesaikan. Lembar demi lembar bab penelitian ia perbaiki, hingga akhirnya tibalah hari di mana skripsinya dinyatakan sah dan lulus oleh dewan penguji.
Garis Finis yang Menjadi Garis Start Baru: Menuju Gelar Magister dan Kursi Dosen
Kini, seluruh ketegangan, air mata, dan rasa lelah itu telah terbayar lunas. Langkah kaki Rina di koridor FIB UHO kini terasa jauh lebih ringan. Meski secara de facto seluruh proses akademik telah ia rampungkan, Rina mengaku masih menahan diri untuk merayakan kelulusannya secara berlebihan. Saat ini, ia sedang sibuk mondar-mandir melengkapi berbagai berkas administrasi yang diperlukan untuk pelaksanaan wisuda periode keenam mendatang.
“Saya sangat senang, karena perjuangan selama kuliah sudah terbayar. Namun, saya belum menganggap diri benar-benar lulus, karena masih menunggu wisuda,” ujar Rina dengan senyum lebar, Kamis (11/6/2026).
Bagi seorang Rina, prosesi pemindahan tali toga dari kiri ke kanan oleh Rektor UHO nanti bukanlah sebuah garis akhir di mana ia bisa duduk bersantai dan menikmati kemenangan. Wisuda sarjana itu justru ia pandang sebagai sebuah garis start baru untuk memulai petualangan yang jauh lebih besar dan menantang di dunia akademis.
Rina mengungkapkan bahwa setelah resmi menyandang gelar Sarjana Humaniora (S.Hum), ia tidak akan mengambil jeda terlalu lama. Ia akan langsung memfokuskan seluruh energi dan pikirannya untuk mempersiapkan diri melanjutkan studi ke jenjang S-2 atau magister.
Targetnya tidak main-main. Rina memiliki cita-cita luhur untuk kembali ke lingkungan kampus di masa depan, bukan lagi sebagai seorang mahasiswi yang duduk di kursi audiens, melainkan sebagai seorang dosen yang berdiri tegak di depan mimbar kelas untuk mengajar. Melalui jalur profesi inilah, ia ingin membuktikan kepada dunia bahwa keterbatasan fisik sama sekali tidak memiliki korelasi dengan kapasitas intelektual dan keluasan ilmu pengetahuan seseorang.
Di penghujung perbincangannya, perempuan inspiratif dari bumi Sulawesi Tenggara ini menyelipkan sebuah pesan mendalam, sebuah warisan pemikiran yang ia tujukan khusus bagi orang-orang di luar sana yang mungkin memiliki keistimewaan fisik serupa, atau mereka yang saat ini tengah berjuang di bawah bayang-bayang perundungan.
“Harus berani tampil percaya diri dan berusaha berprestasi. Prestasi bisa menjadi bukti bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing,” pungkasnya dengan nada bicara yang mantap penuh optimisme.
Kisah Rina adalah sebuah pengingat yang menohok bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa ukuran tubuh seseorang sama sekali tidak menentukan seberapa besar ukuran mimpi yang bisa ia capai. Di dalam tubuhnya yang mungil, bersemayam jiwa seorang kesatria yang menolak tunduk pada takdir kelam perundungan dan batasan biologis. Ketika toga wisuda itu akhirnya terpasang di tubuhnya, itu bukan hanya sekadar perayaan kelulusan seorang mahasiswa, melainkan sebuah perayaan kemenangan bagi kemanusiaan, pembuktian bahwa kerja keras dan rasa percaya diri selalu mampu meruntuhkan tembok pembatas setinggi apa pun.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










