bukamata.id – Pendekatan personal dilakukan oleh Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, demi merangkul aspirasi warganya secara langsung. Melalui program unggulan bertajuk “Sapoe Sadesa”, kepala daerah ini berupaya memangkas jarak birokrasi sekaligus menggali kebutuhan riil masyarakat di tingkat desa.
Secara harfiah, istilah tersebut mengandung arti satu hari satu desa. Namun, bagi Jeje, agenda ini jauh melampaui urusan administratif, melainkan sebuah ruang silaturahmi esensial dengan warga.
“Mengunjungi desa berarti bersilaturahmi, melihat langsung kondisi masyarakat, mendengar persoalan dari sumbernya, sekaligus menyerap aspirasi yang selama ini mungkin belum tersampaikan secara langsung kepada pemerintah daerah atau sudah disampaikan tapi belum terlaksana,” ujar Jeje, Senin (14/9/2026).
Ia menegaskan, tinjauan langsung ke lapangan sangat diperlukan agar dirinya memperoleh gambaran utuh yang sering kali tidak tersaji secara transparan dalam laporan formal di atas meja kantor.
“Maksud dan tujuan utama Sadesa adalah melihat, mendengar, dan merasakan langsung kondisi masyarakat di desa. Saya ingin mengetahui persoalan dari sumbernya langsung. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, apa yang menjadi kendala pemerintah desa, sekaligus apa potensi yang bisa kita kembangkan bersama,” jelasnya.
Guna memastikan efektivitas program ini, Jeje menjadwalkan kunjungan rutin mingguan secara konsisten ke berbagai pelosok wilayah administratif di Kabupaten Bandung Barat.
“Program ini saya lakukan setiap minggu. Dalam satu minggu, ada dua hari yang saya khususkan untuk turun langsung mengunjungi desa-desa di Kabupaten Bandung Barat,” tuturnya.
Dari puluhan desa yang telah disambangi, Jeje mendapati spektrum permasalahan yang sangat bervariasi, mengingat setiap wilayah memiliki karakteristik geografis dan sosial yang unik. Kendati demikian, persoalan klasik terkait fasilitas umum masih mendominasi aduan warga.
“Persoalan infrastruktur jalan desa masih menjadi salah satu keluhan utama. Banyak pemerintah desa yang menyampaikan keterbatasan anggaran untuk melakukan perbaikan. Bahkan ada ruas jalan yang sudah bertahun-tahun, bahkan belasan tahun, belum tersentuh perbaikan,” ungkapnya.
Selain akses jalan yang rusak, potensi ekonomi lokal juga menjadi sorotan penting. Kunjungan ini membuka ruang bagi pemerintah daerah untuk memetakan sektor-sektor unggulan yang bisa dikembangkan lebih lanjut.
“Selain infrastruktur, kami juga menemukan aspirasi terkait pengembangan potensi desa, baik potensi wisata, ekonomi masyarakat, pertanian, maupun sektor lainnya. Jadi, dari Sadesa ini kami bisa memetakan persoalan sekaligus melihat potensi apa yang bisa kita dorong dari masing-masing desa,” imbuhnya.
Selama menjalankan agenda blusukan ini, Jeje mengaku kerap mendapati momen mengharukan sekaligus menarik. Tingginya antusiasme warga menunjukkan kerinduan mendalam akan kehadiran sosok pemimpin di tengah mereka.
“Ada desa yang menyampaikan bahwa selama ini belum pernah ada pejabat yang datang dan melihat langsung persoalan mereka. Karena itu, ketika kami datang, masyarakat sangat antusias untuk bercerita dan menyampaikan apa yang mereka rasakan,” kenangnya.
Ia menambahkan, interaksi tatap muka tanpa sekat ini memberikan kepuasan tersendiri karena memunculkan banyak informasi otentik yang luput dari pantauan birokrasi formal.
“Bagi saya, bagian paling berharga dari Sadesa adalah bisa duduk, ngobrol, dan mendengar cerita masyarakat secara langsung. Dari situ saya bisa memahami persoalan yang terkadang tidak muncul dalam laporan formal. Sekarang juga semakin banyak masyarakat dan pemerintah desa yang meminta agar desanya dikunjungi. Itu menunjukkan bahwa masyarakat ingin didengar dan ingin pemerintah hadir lebih dekat dengan mereka,” lanjutnya.
Ke depan, Jeje mematok target ambisius namun terukur untuk merampungkan kunjungan ke seluruh penjuru wilayah Kabupaten Bandung Barat yang mencakup ratusan desa dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.
“Target kami, seluruh desa bisa kami kunjungi dalam waktu sekitar 22 bulan, dan kalau memungkinkan tentu akan kami upayakan bisa lebih cepat. Yang terpenting bagi saya bukan mengejar jumlah kunjungannya, tetapi bagaimana setiap kunjungan benar-benar menghasilkan gambaran yang jelas tentang persoalan dan kebutuhan masyarakat di desa,” tegasnya.
Melalui program Sapoe Sadesa, Jeje ingin memastikan bahwa pemerintah daerah benar-benar berfungsi sebagai fasilitator ulung yang responsif terhadap keluhan rakyatnya.
“Dari setiap kunjungan, saya berharap ada tindak lanjut. Mana yang bisa segera diselesaikan, mana yang membutuhkan koordinasi dengan perangkat daerah, dan mana yang harus masuk dalam perencanaan pembangunan ke depan,” pungkasnya.
“Pada akhirnya, saya ingin masyarakat merasakan bahwa pemerintah hadir dekat dengan mereka, bukan hanya ketika ada acara, tetapi juga ketika ada persoalan yang harus kita selesaikan bersama,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










