bukamata.id – Nama Ulta Levenia Nababan menjadi sorotan setelah Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) tersebut menyinggung proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) ketika membahas erupsi sejumlah gunung api di Indonesia.
Pernyataan Ulta muncul di tengah aktivitas vulkanik yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam unggahan di akun Instagram miliknya pada Senin (7/9/2026), ia mempertanyakan apakah rangkaian erupsi beberapa gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan sepenuhnya merupakan fenomena alam atau ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan.
Ulta mengakui pandangannya tersebut dapat dikategorikan sebagai spekulasi atau teori konspirasi. Namun, ia mengatakan dirinya memilih bersikap skeptis dan tidak hanya menerima penjelasan yang menurutnya sudah lazim.
Setidaknya enam gunung api yang disebut dalam unggahan tersebut mengalami aktivitas erupsi sejak awal September 2026, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Semeru, dan Gunung Lewotobi Laki-Laki, serta aktivitas gunung api lain yang menjadi perhatian publik.
Dalam unggahannya, Ulta mengaitkan pertanyaan tersebut dengan HAARP, proyek penelitian ionosfer yang selama bertahun-tahun memang kerap menjadi bahan spekulasi di internet.
“HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tidak ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi,” tulis Ulta.
Ia kemudian menjelaskan alasan dirinya mempertanyakan keberadaan proyek tersebut dari sudut pandang geopolitik dan intelijen.
Menurut Ulta, HAARP berkaitan dengan penelitian ionosfer menggunakan energi radio frekuensi tinggi. Ia juga menyoroti lokasi fasilitas tersebut yang pada awal pengembangannya berada di Alaska.
“Kenapa ada gap conspiracy ini tentang proyek HAARP? Karena kalau dilihat dengan kacamata geopolitik dan intelijen, proyek HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska. Kemudian menimbulkan pertanyaan: untuk apa militer Amerika membangun pemancar radio yang sangat kuat di Alaska?” ujarnya.
Ulta Pertanyakan Erupsi Gunung Api Setelah Prabowo Bertemu Putin
Pernyataan Ulta kemudian menjadi semakin ramai setelah ia menghubungkan rangkaian erupsi tersebut dengan kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Vladivostok, Rusia, untuk menghadiri Eastern Economic Forum 2026.
Ia mempertanyakan kemungkinan hubungan antara agenda tersebut dengan aktivitas vulkanik yang terjadi di Indonesia.
“Walau gak ada bukti ilmiah yg kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran, ‘Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?'”
Ulta juga menyebut bahwa kecurigaan mengenai fenomena tersebut, menurutnya, bukan hanya muncul dari dirinya. Ia mengklaim Jepang, China, dan Turki turut memiliki pertanyaan serupa.
Namun, penting dicatat bahwa pernyataan tersebut merupakan pandangan dan spekulasi pribadi Ulta, bukan kesimpulan ilmiah bahwa HAARP menyebabkan erupsi gunung api di Indonesia.
Aktivitas gunung api pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika geologi bumi. Indonesia sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik sangat tinggi. Karena itu, kemunculan beberapa erupsi dalam periode yang berdekatan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya campur tangan teknologi atau pihak asing.
Bahkan dalam pernyataannya sendiri, Ulta mengakui bahwa belum ada bukti ilmiah yang kredibel yang menghubungkan HAARP dengan kemampuan mengendalikan cuaca, menciptakan gempa bumi, maupun memicu erupsi gunung api.
Pernyataan Ulta Tuai Kritik Warganet
Unggahan mengenai HAARP dan erupsi gunung api tersebut dengan cepat menyebar di media sosial. Alih-alih mendapatkan dukungan, pernyataan Ulta justru menuai kritik dari sejumlah warganet.
Sebagian pengguna media sosial mempertanyakan kapasitas seorang pejabat di lingkungan pemerintahan ketika menyampaikan spekulasi yang belum memiliki dasar ilmiah.
Komentar-komentar tersebut antara lain muncul di kolom komentar akun Instagram @62dailydose.
Salah satu warganet bahkan mengkritik Ulta dengan membawa persoalan keyakinan dan hubungan manusia dengan Tuhan.
“Ga percaya sama Tuhan ya….tunjukkin sama dia Ya Allah….dia pengen di colek sama Mu Ya Allah,” tulis akun @set***.
Warganet lainnya menyoroti posisi Ulta sebagai pejabat di lingkungan pemerintahan.
“Kayak’a jd pejabat di lingkungan pemerintah skrg, ga harus pintar syarat’a,” tulis akun @zai***.
Komentar lebih keras juga datang dari akun @_rs***.
“Setidaknya kalo bego jngan ngomong dah, mending diem,” tulisnya.
Ragam komentar tersebut menunjukkan bagaimana isu HAARP dan erupsi gunung api menjadi perdebatan panas di media sosial. Di satu sisi, ada publik yang tertarik dengan pertanyaan mengenai kemungkinan faktor lain di balik fenomena alam. Di sisi lain, banyak pula yang meminta agar pembahasan mengenai bencana alam tetap didasarkan pada data dan kajian ilmiah.
Siapa Ulta Levenia Nababan?
Di luar kontroversi mengenai HAARP, Ulta Levenia Nababan bukan sosok baru dalam isu keamanan, konflik, dan geopolitik.
Ulta diketahui menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Republik Indonesia. Latar belakang pendidikannya juga banyak berkaitan dengan studi keamanan, insurgensi, terorisme, serta konflik global.
Ia merupakan lulusan ilmu politik dari Universitas Indonesia. Setelah itu, Ulta melanjutkan pendidikan magister di University of Leeds, Inggris, dan memperoleh gelar Master of Arts (M.A.) dalam bidang insurgensi dan terorisme.
Selain pendidikan formal, Ulta juga pernah mengikuti program studi keamanan Indo-Pasifik di lembaga pertahanan Prancis.
Namanya juga tercatat sebagai penerima Chevening Scholarship dan Fulbright Scholarship, dua program beasiswa internasional yang dikenal luas.
Rekam Jejak Ulta di Bidang Keamanan
Karier profesional Ulta banyak bersinggungan dengan isu keamanan nasional dan internasional.
Ia pernah berkegiatan sebagai peneliti yang fokus pada kontra-terorisme dan radikalisme serta menjadi konsultan di bidang serupa. Pengalamannya juga mencakup penelitian lapangan di sejumlah wilayah yang memiliki sejarah konflik dan persoalan keamanan kompleks.
Beberapa wilayah yang pernah menjadi bagian dari penelitian atau perhatian profesionalnya antara lain Afghanistan, Filipina Selatan, Aceh, hingga Papua.
Ulta juga aktif menulis analisis mengenai jaringan terorisme, radikalisme, konflik global, serta perkembangan keamanan kawasan. Sejumlah tulisannya pernah dipublikasikan melalui media nasional maupun internasional.
Pengalaman tersebut membuat Ulta dikenal sebagai figur yang banyak berbicara mengenai isu kontra-terorisme, insurgensi, ekstremisme, geopolitik, dan keamanan internasional.
Dari Peneliti Konflik hingga Masuk Pemerintahan
Perjalanan karier Ulta tidak berhenti di dunia akademik dan penelitian.
Ia pernah terlibat dalam berbagai lembaga yang bergerak di bidang keamanan dan kebijakan strategis. Pengalamannya mencakup kegiatan penelitian di bidang kontra-terorisme dan radikalisme, menjadi konsultan, hingga terlibat dalam berbagai forum yang membahas keamanan global.
Ulta juga pernah terlibat dalam Tim Kampanye Nasional Pemilu 2024.
Namanya kemudian masuk dalam daftar 40 Under 40 sebagai salah satu figur muda yang dinilai memiliki pengaruh di bidangnya.
Kini, posisinya sebagai Tenaga Ahli Utama di KSP membuat Ulta berada di lingkungan pemerintahan dan kebijakan publik.
Pernah Soroti Isu Perdamaian Gaza
Kontroversi mengenai HAARP bukan satu-satunya momen ketika nama Ulta Levenia Nababan menjadi perhatian publik.
Sebelumnya, Ulta juga sempat menjadi sorotan setelah memberikan penjelasan terkait 20 poin rencana perdamaian Gaza yang berkaitan dengan Board of Peace (BoP).
Pernyataannya mengenai isu tersebut menuai pro dan kontra di ruang publik. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Ulta sebagai figur yang bergerak di bidang keamanan dan kebijakan strategis memang tidak lepas dari perhatian masyarakat.
Kali ini, sorotan kembali muncul setelah ia mengaitkan rangkaian erupsi gunung api Indonesia dengan kemungkinan lain yang dikaitkan dengan HAARP.
Terlepas dari kontroversi tersebut, pernyataan Ulta sendiri menegaskan bahwa ia tidak mengklaim memiliki bukti ilmiah mengenai hubungan HAARP dengan erupsi gunung api.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai kemungkinan campur tangan HAARP dalam aktivitas vulkanik Indonesia masih berada pada ranah spekulasi, bukan kesimpulan ilmiah.
Sementara itu, aktivitas erupsi gunung api tetap menjadi persoalan kebencanaan yang perlu dipantau berdasarkan data vulkanologi, status aktivitas gunung, serta informasi resmi dari lembaga berwenang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









