Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kebakaran Hebat Gegerkan Panyileukan, Rumah Nyaris Ludes Dilalap Api

Kamis, 13 Agustus 2026 17:02 WIB

Uang Jajan Jadi Tabungan, Cara Sederhana Ajarkan Anak Kelola Keuangan Sejak Dini

Kamis, 13 Agustus 2026 16:14 WIB

Chelsea Beri Deadline Manchester City, Enzo Fernandez Dibanderol Rp2,8 Triliun

Kamis, 13 Agustus 2026 16:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kebakaran Hebat Gegerkan Panyileukan, Rumah Nyaris Ludes Dilalap Api
  • Uang Jajan Jadi Tabungan, Cara Sederhana Ajarkan Anak Kelola Keuangan Sejak Dini
  • Chelsea Beri Deadline Manchester City, Enzo Fernandez Dibanderol Rp2,8 Triliun
  • Lupa Isi Pulsa atau Kuota? Ini Cara Praktis Beli Lewat DIGI bank bjb
  • Tak Lagi Bergantung Browser, ChatGPT Resmi Bisa Dipakai Langsung di Desktop Linux
  • Daftar Lengkap Keluar-Masuk Pemain Persib 2026/2027: Kuota Asing Menumpuk, Bakal Makan Korban?
  • Kisah Pahit Relawan Kebakaran Gunung Gede: Tertahan Birokrasi Hingga Akhirnya Masal Angkat Kaki
  • Pertama Sejak 1433, Negara Ini Alami Gelap Gulita Saat Gerhana Matahari Total Berlangsung
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 13 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Siapa yang Bohong? Misteri di Balik Kasus Lahan 368 Hektare di Cineam, Antara Hak Petani dan Perintah Aparat

By SusanaMinggu, 21 Juni 2026 19:52 WIB3 Mins Read
Viral dugaan intimidasi petani di lahan eks HGU PT Wiria Cakra, Cineam, Tasikmalaya. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketegangan di lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PT Wiria Cakra, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan setelah video dugaan intimidasi terhadap petani viral di media sosial.

Peristiwa yang terjadi pada Kamis (18/6/2026) itu memperlihatkan suasana tegang antara petani yang tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP) dan sejumlah anggota TNI yang berada di lokasi lahan garapan.

Dalam video yang beredar luas, terlihat adanya dialog antara petani dan aparat di tengah aktivitas pertanian yang sedang berlangsung. Kejadian ini kemudian memicu perdebatan publik karena adanya perbedaan narasi dari pihak terkait.

Klaim SPP: Petani Diminta Tinggalkan Lahan

Sekretaris Jenderal SPP, Agustiana, menyebut sekitar 30 anggota TNI dari Koramil Cineam dan Kodim 0612/Tasikmalaya mendatangi lokasi dengan tujuan meminta petani meninggalkan lahan yang selama ini mereka garap.

SPP menegaskan bahwa lahan seluas sekitar 368 hektare tersebut merupakan eks HGU PT Wiria Cakra yang telah berakhir sejak 2017, dan sejak itu dikelola oleh petani untuk kebutuhan ekonomi serta ketahanan pangan keluarga.

Menurut SPP, kedatangan aparat tersebut menimbulkan tekanan psikologis bagi petani di lapangan.

Video Viral dan Pernyataan “Membela Rakyat”

Video yang kembali viral pada 21 Juni 2026 memperlihatkan dialog panas di lokasi. Dalam salah satu cuplikan, seorang anggota TNI menyatakan bahwa dirinya hadir untuk membela rakyat Indonesia.

“Saya membela rakyat,” ucap anggota TNI dalam video tersebut.

Namun pernyataan itu justru memicu respons beragam dari publik, terutama di media sosial, karena dianggap tidak sesuai dengan konteks situasi di lapangan oleh sebagian warganet.

Reaksi Warganet: Pro dan Kontra Menguat

Peristiwa ini langsung menuai berbagai komentar dari warganet di media sosial. Sebagian mempertanyakan tindakan aparat di lokasi, sementara lainnya menyoroti ketidakjelasan status lahan.

Beberapa komentar yang ramai diperbincangkan seperti dikutip dari kolom komentar Instagram @circlevox.

“kaya gitu melindungi?membela? wkwk menghakimi dan mengancam rakyat dimana membela dan melindungi?” tulis akun @myn*

“Mulai sekarang rakya indonesia harus bersatu untuk membalikkan pemerintah” yang berkuasa di Indonesia, semangat rakya indonesia,” tulis akun @jun*

“Membela apa ? Lah itu depan lu rakyat,” tulis akun @ast***

Konflik Agraria yang Berulang

Kasus di Cineam kembali menyoroti persoalan klasik konflik agraria di Indonesia, terutama pada lahan eks HGU yang belum memiliki kejelasan redistribusi.

Petani menganggap lahan tersebut sebagai sumber penghidupan yang telah lama mereka garap, sementara negara masih memiliki kewenangan administratif atas status tanah tersebut.

Situasi ini kerap memicu ketegangan ketika muncul rencana pemanfaatan baru di atas lahan yang sudah lama dikelola masyarakat.

Klarifikasi Kodim 0612: Tidak Ada Intimidasi

Komandan Kodim 0612/Tasikmalaya, Letkol Czi M Imvan Ibrahim, menegaskan bahwa narasi yang beredar di media sosial tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Ia menyebut tidak ada penggusuran maupun intimidasi terhadap petani.

“Yang dilakukan adalah kegiatan korve atau pembersihan lahan, bukan penggusuran,” jelasnya.

Menurutnya, personel yang berada di lokasi hanya berjumlah 18 orang dan bukan ratusan seperti yang disebut dalam video viral.

Situasi Masih Menunggu Kejelasan

Hingga kini, peristiwa di Cineam masih berada dalam tahap perbedaan narasi antara petani, organisasi masyarakat sipil, dan pihak aparat.

Proses klarifikasi dari berbagai pihak masih berlangsung, sementara publik terus menyoroti kasus ini sebagai bagian dari problem klasik konflik agraria di Indonesia.

Penutup

Kasus di Tasikmalaya menunjukkan bahwa konflik agraria masih menjadi isu sensitif yang membutuhkan penyelesaian menyeluruh. Di tengah tarik menarik kepentingan, kejelasan status hukum tanah dan komunikasi antar pihak menjadi kunci untuk mencegah ketegangan serupa terulang di masa depan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Cineam viral video HGU Wiria Cakra konflik agraria Tasikmalaya lahan eks HGU 368 hektare SPP petani Pasundan TNI AD klarifikasi Tasikmalaya
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kebakaran Hebat Gegerkan Panyileukan, Rumah Nyaris Ludes Dilalap Api

Uang Jajan Jadi Tabungan, Cara Sederhana Ajarkan Anak Kelola Keuangan Sejak Dini

Kisah Pahit Relawan Kebakaran Gunung Gede: Tertahan Birokrasi Hingga Akhirnya Masal Angkat Kaki

Pertama Sejak 1433, Negara Ini Alami Gelap Gulita Saat Gerhana Matahari Total Berlangsung

Kasus Dugaan Penistaan Agama The Sound Project Mencuat, 2 Orang Diamankan Polisi

Pemkot Bandung Tertibkan 58 Bangunan di Rajawali Tanpa Relokasi dan Kompensasi

Terpopuler
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • FOTO: Lebih dari Sepak Bola: Momen Hangat Penuh Respek di Final Piala Presiden 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.