bukamata.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, sidang isbat kembali menjadi perhatian utama umat Islam di Indonesia.
Penetapan awal Ramadhan melalui sidang isbat dinilai sangat krusial karena berpengaruh langsung terhadap pelaksanaan ibadah puasa hingga penentuan Hari Raya Idul Fitri.
Sidang isbat memiliki peran penting sebagai forum pengambilan keputusan bersama, mengingat Indonesia memiliki beragam organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam dengan metode dan pandangan berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah. Tak heran jika publik mulai bertanya-tanya, awal puasa Ramadhan 2026 jatuh pada 18 Februari atau 19 Februari.
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan ditentukan melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) pada 17 Februari 2026 saat waktu Magrib.
Apa Itu Sidang Isbat?
Secara definisi, sidang isbat merupakan forum resmi yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menetapkan awal bulan dalam kalender Hijriah, termasuk Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Tujuan utama sidang isbat adalah memberikan kepastian hukum dan keagamaan bagi umat Islam agar dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan syariat. Sidang isbat pertama kali dilaksanakan pada tahun 1962 dan hingga kini terus menjadi rujukan nasional dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Dalam pelaksanaannya, sidang isbat diawali dengan pemaparan hasil kajian para ahli falak dan ulama, dilanjutkan dengan pandangan Ormas Islam, sebelum akhirnya pemerintah mengumumkan keputusan resmi kepada masyarakat.
Metode Penentuan Awal Ramadhan
Penentuan awal Ramadhan dalam sidang isbat mempertimbangkan tiga aspek utama, yaitu hisab, rukyat, dan rukyatul hilal.
Hilal merupakan fase bulan sabit muda pertama yang muncul setelah terjadinya ijtimak atau konjungsi (bulan baru). Hilal diamati di ufuk barat saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan Hijriah.
Metode rukyat adalah pengamatan langsung hilal, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu seperti teropong. Sementara itu, hisab merupakan metode perhitungan matematis berbasis ilmu falak atau astronomi yang menghitung posisi bulan dan matahari secara akurat.
Berbeda dengan rukyat, metode hisab tidak bergantung pada kondisi cuaca dan dapat dilakukan menggunakan perhitungan serta perangkat lunak astronomi.
Kriteria Hilal Penentu Awal Bulan Hijriah
Sejak 2016, Indonesia menggunakan kriteria yang disepakati dalam forum MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria tersebut menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi bulan-matahari minimal 6,4 derajat.
Pengamatan hilal dilakukan pada hari ke-29 menjelang matahari terbenam. Jika hilal terlihat, maka ditetapkan masuk bulan baru.
Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari atau disebut istikmal.
Perbedaan metode dalam penentuan awal bulan Hijriah kerap menjadi dinamika di tengah masyarakat. Meski demikian, keberadaan sidang isbat menjadi ruang dialog yang memadukan pendekatan keagamaan dan ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk menjaga keselarasan ibadah umat Islam di tengah keberagaman.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











