bukamata.id – Cuaca panas terik dan kering tengah melanda berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum di Jawa Barat menembus 39°C pada 21 Oktober 2026.
Lonjakan suhu ekstrem juga terdeteksi di wilayah lain. Pada hari yang sama, suhu di Lampung mencapai 39,2°C, sementara Kalimantan Selatan menyentuh 38,7°C pada 20 Oktober 2026.
Penyebab Cuaca Panas Ekstrem Menurut BMKG
BMKG menjelaskan, gelombang panas dan kondisi kering ini dipicu kombinasi dua fenomena iklim, yakni El Nino berintensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif atau Dipole Mode Index (DMI) positif.
Kombinasi tersebut memicu tiga kondisi berikut:
- Minim tutupan awan. Pembentukan awan berkurang drastis sehingga sinar matahari langsung memanaskan permukaan bumi tanpa penghalang.
- Aktivitas konvektif melemah. El Nino dan IOD positif menekan pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga curah hujan sangat terbatas.
- Pemanasan permukaan lebih intens. Minimnya awan dan hujan membuat permukaan tanah memanas lebih cepat pada siang hari serta mempercepat turunnya kadar air pada tanaman.
Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat
BMKG memperingatkan, turunnya kadar air vegetasi akibat cuaca panas membuat hutan dan lahan lebih mudah terbakar.
Dalam sepuluh hari terakhir, ribuan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau di sejumlah wilayah, seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Papua Selatan.
Jawa Barat Tetap Waspada Hujan Lebat
Meski cuaca panas dan kering mendominasi, BMKG menegaskan dinamika atmosfer lokal dan regional masih bisa memicu hujan lebat secara tiba-tiba di sejumlah daerah.
Jawa Barat bahkan masuk kategori “Siaga” untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang, dalam sepekan ke depan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










