bukamata.id – Dunia sepak bola Indonesia kembali diselimuti awan hitam yang mendalam. Kebanggaan mendukung tim kesayangan di lapangan hijau lagi-lagi harus dibayar mahal dengan nyawa. Kasus memilukan terbaru menimpa seorang remaja berusia 16 tahun berinisial ARK, yang meregang nyawa usai menyaksikan bentrokan antara Garudayaksa FC melawan Persib Bandung di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (25/10/2026) malam.
Perjalanan pulang yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi mimpi buruk. Saat melintas mengendarai sepeda motor di area Jalan Raya Jakarta-Bogor kilometer 51, ARK mendadak diserang secara brutal menggunakan senjata tajam jenis celurit. Meski sempat dilarikan untuk mendapatkan pertolongan, luka bacok yang parah membuat nyawa remaja tersebut tak terselamatkan dalam perjalanan. Pihak kepolisian bergerak cepat dan berhasil meringkus terduga pelaku penyerangan berinisial MR.
Peristiwa merenggut nyawa ARK menambah panjang daftar kelam tragedi yang menimpa suporter Maung Bandung. Sepanjang sejarah perjalanan kompetisi, kabar duka seolah terus berulang dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga serta komunitas Bobotoh.
Tiga Nyawa Melayang di GBK (2012)
Tragedi memilukan menghantam komunitas Bobotoh pada musim 2012. Tiga orang suporter, yakni Lazuardi (29), Dani Maulana (16), serta Rangga Cipta Nugraha (22), tewas tragis setelah menjadi korban aksi pengeroyokan masif di area luar Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, usai duel sengit Persija kontra Persib.
Lazuardi merupakan pengemudi ojek online asal Jakarta Pusat, sementara Dani Maulana masih berstatus pelajar SMK asal Bekasi. Adapun Rangga, pemuda asal Bandung yang baru delapan bulan merantau di ibu kota, harus mengembuskan napas terakhir dalam pengalaman pertamanya merasakan atmosfer laga di GBK. Lebih dari lima pelaku berhasil ditangkap aparat kepolisian saat itu. Kendati gelombang seruan perdamaian antar-kelompok suporter mencuat kencang pasca-kejadian, ikhtiar tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil di lapangan.
Pengeroyokan Tragis Muhammad Rovi (2016)
Empat tahun berselang, duka kembali menghampiri. Pemuda berusia 17 tahun asal Cikarang Barat, Muhammad Rovi Arrahman atau yang akrab disapa Omen, tewas usai diserang rombongan oknum suporter lawan saat hendak menuju Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Minggu (23/10/2016).
Saat membonceng sepeda motor di Jalan Inspeksi Kalimalang, kendaraan Omen dilempari batu dan helm hingga korban terjatuh dan terseret di aspal. Dalam kondisi tak berdaya, korban dihantam secara brutal menggunakan batu, benda tumpul, hingga senjata tajam. Omen mengembuskan napas terakhir di rumah sakit akibat luka robek parah di wajah dan benturan keras di kepala. Polisi kemudian mengamankan delapan remaja yang terbukti terlibat, di mana seluruhnya mengonfirmasi keanggotaan dalam kelompok suporter Persija.
Korban Salah Sasaran: Ricko Andrean (2017)
Tragedi pada 2017 menjadi salah satu catatan paling ironis dan memukul batin Bobotoh. Ricko Andrean Maulana (22) tewas bukan karena diserang pendukung lawan, melainkan akibat menjadi korban salah sasaran dari sesama oknum Bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 22 Juli 2017.
Kala itu, Ricko berniat melindungi seorang suporter lain yang tengah dikeroyok massa. Namun, niat baiknya malah berujung fatal lantaran ia dituduh sebagai anggota suporter lawan. Kepolisian menetapkan Wugi F Rojak (19) sebagai tersangka yang menganiaya Ricko hingga tewas. Akibat insiden ini, Persib dijatuhi sanksi berat berupa larangan menggelar laga dengan penonton sebanyak lima pertandingan.
Petaka Desak-desakan di Pintu Stadion (2022)
Bukan hanya gesekan antarkelompok, persoalan tata kelola serta kelebihan kapasitas stadion juga pernah memakan korban jiwa. Pada ajang Piala Presiden 2022 di Stadion GBLA, dua Bobotoh yakni Ahmad Solihin (29) asal Cibaduyut dan Sopiyana Yusuf (19) asal Bogor, meninggal dunia akibat terhimpit di tengah kerumunan massa.
Insiden berdarah ini dipicu oleh membludaknya penonton tanpa tiket yang memaksakan diri masuk ke dalam arena. Dari estimasi kapasitas dan tiket terintegrasi sebanyak 15 ribu lembar, stadion justru dipadati hingga 40 ribu orang. Desakan hebat di pintu masuk membuat kedua korban kehabisan oksigen dan tak terselamatkan. Atas kejadian ini, komite disiplin memberikan sanksi denda puluhan juta serta larangan penggunaan GBLA untuk sisa turnamen pramusim tersebut.
Rentetan tragedi berdarah ini menjadi alarm keras yang tak kunjung padam: bahwasanya tak ada satu pun kemenangan atau pertandingan sepak bola yang seharga dengan nyawa manusia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









