Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
ilustrasi bansos

Kabar Gembira! Pencairan Bansos 2026 Dipercepat, Cek Jadwal Terbarunya

Selasa, 19 Mei 2026 21:57 WIB

Laga Terakhir Super League 2026: Persib Ditinggal Marc Klok, Ini Kondisi Tim

Selasa, 19 Mei 2026 21:53 WIB

Geger! Video ‘Guru Bahasa Inggris vs Murid’ Viral, Warganet Temukan Kejanggalan

Selasa, 19 Mei 2026 21:33 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kabar Gembira! Pencairan Bansos 2026 Dipercepat, Cek Jadwal Terbarunya
  • Laga Terakhir Super League 2026: Persib Ditinggal Marc Klok, Ini Kondisi Tim
  • Geger! Video ‘Guru Bahasa Inggris vs Murid’ Viral, Warganet Temukan Kejanggalan
  • Link Video Viral “TKW Taiwan 3 Vs 1” Diincar Netizen, Waspada Jebakan Siber!
  • Menuju Tangga Juara, Manajemen Persib Akhirnya Buka-bukaan Soal Masa Depan Bojan Hodak
  • Ambisi Juara Ternoda, Persib Bandung Terpaksa ‘Bakar Uang’ Rp5 Miliar Akibat Sanksi
  • Kisah Kartika: Kuliah Kelar, Toga Terpasang, Tapi Kondisi Ayahnya Saat Ditelepon Bikin Semua Orang Terdiam
  • Heboh! Transfer Mengejutkan Striker Brasil Ini Jadi Incaran Persib
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 19 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tiga Ribu Buruh di Ujung Tali Sepatu: Cerita di Balik PHK Massal Pabrik Nike di Tangerang

By Aga GustianaJumat, 31 Oktober 2025 19:04 WIB6 Mins Read
PHK Massal pabrik sepatu di Tangerang. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suara mesin jahit yang biasanya riuh kini perlahan meredup di sebuah pabrik besar di kawasan Kabupaten Tangerang. Di antara barisan meja produksi yang mulai kosong, sejumlah pekerja perempuan tampak berpelukan, sebagian lain menyalami rekan-rekannya sambil menahan air mata. Seorang pria muda menunduk dan menandatangani seragam temannya—sebuah kenang-kenangan kecil sebelum mereka benar-benar berpisah.

Suasana haru itu menyelimuti ribuan buruh PT Victory Chingluh Indonesia, pabrik yang selama bertahun-tahun memproduksi sepatu merek global ternama, Nike. Di akhir Oktober 2025 ini, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali menggemparkan publik. Sekitar 3.000 karyawan resmi diberhentikan, dan kisah mereka menjadi potret getir di tengah geliat industri alas kaki nasional yang disebut-sebut masih “positif”.

Gelombang PHK yang Tak Kunjung Usai

PHK massal di pabrik sepatu itu bukanlah yang pertama. Menurut catatan serikat buruh, sejak Januari 2025 hingga kini, sudah tiga kali gelombang pemangkasan terjadi. Awal tahun, 2.400 pekerja terpaksa angkat kaki dari pabrik dengan alasan serupa—penurunan pesanan dan efisiensi produksi. Kini, gelombang baru datang lagi, menambah panjang daftar pekerja yang kehilangan mata pencaharian.

“Perusahaan menyampaikan bahwa order saat ini tidak cukup untuk menghidupi jumlah pekerja yang berjumlah sekitar 15 ribu orang. Sehingga, mereka harus melakukan PHK kurang lebih 3.000 buruhnya,” ujar Sekretaris Jenderal Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Andi Kristiantono, saat dikonfirmasi pada Kamis (30/10/2025).

Kabar yang beredar di media sosial menyebutkan, PHK itu dilakukan karena pabrik berencana memindahkan lokasi produksinya ke Pekalongan, Jawa Tengah. Namun sebagian informasi menyebut arah relokasi justru ke wilayah Cirebon. Apa pun tujuannya, yang jelas ribuan buruh kini menghadapi kenyataan pahit: mereka kehilangan pekerjaan.

Baca Juga:  MUI Dukung Pemilik Pagar Laut Tangerang Didenda dan Diproses Hukum

“Buruh Jadi Tumbal Krisis”

Andi Kristiantono menegaskan bahwa KASBI menolak keras kebijakan PHK massal ini. Ia menilai, langkah perusahaan merupakan bentuk pengalihan beban krisis kepada para pekerja.

“Kami menilai bahwa di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Manajemen PT Victory Chingluh Indonesia kembali menjadikan buruh sebagai tumbal atas krisis yang lahir dari kegagalan tata kelola sistem produksi perusahaan,” ujarnya tegas.

Menurut Andi, alasan perusahaan tidak cukup kuat. Ia menyebut, hasil investigasi serikat menunjukkan bahwa beberapa pabrik dalam satu grup yang sama justru tengah mengalami peningkatan pesanan.

“PT Chingluh Cikupa satu grup dengan PT VCI (Victory Chingluh Indonesia) dan memproduksi sepatu yang sama. Saat ini, pabrik justru sedang banjir orderan sehingga banyak lemburan,” katanya.

Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan besar. Jika benar permintaan menurun, mengapa masih ada lembur di pabrik satu grup yang sama? Apakah benar efisiensi menjadi alasan utama, atau ada strategi bisnis lain yang sedang dijalankan?

Guncangan di Tengah Pertumbuhan

Di sisi lain, pemerintah melalui Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian, Rizky Aditya Wijaya, menilai situasi industri alas kaki nasional sebenarnya masih cukup baik.

“Alas kaki sangat baik kondisinya. Pertumbuhannya sekitar 8-an persen tahun ini,” ujarnya di Jakarta, Kamis (30/10/2025). Menurut Rizky, industri sepatu memang padat karya, sehingga komponen biaya terbesar adalah tenaga kerja.

Karena itu, ia menjelaskan, PHK di beberapa wilayah bukan berarti pabrik menghentikan produksi. “Jadi, bukan berarti mereka PHK terus setop produksi, nggak. Mereka pindah ke daerah tengah. Yang upahnya jauh lebih murah. Untuk konteks yang di Tangerang kemarin, itu infonya mereka pindah ke Cirebon,” tambahnya.

Rizky mengakui, informasi tersebut masih bersifat informal, sebagian besar diperoleh dari asosiasi perusahaan alas kaki di Indonesia, Aprisindo. Ia memastikan, pemerintah akan memantau perkembangan ini lebih jauh.

Baca Juga:  Rezeki Diatur Tuhan, Tapi Dihambat Manusia! Viral Pedagang Kreatif Diduga Diusir Karena Terlalu Laris

“Baru dari asosiasi (komunikasi). Dari perusahaannya belum. Nanti kita coba kawal lah. Jadi artinya, untuk alas kaki saat ini kita masih bagus, kita masih jadi basis produksi merek-merek terkenal,” ujarnya.

Namun ia juga mengakui adanya fenomena “shifting” lokasi produksi dari wilayah barat ke daerah dengan upah lebih rendah. “Fenomena PHK yang terjadi di Banten atau Jawa Barat itu terjadi karena adanya shifting lokasi ke tempat-tempat yang upahnya lebih rendah,” sambungnya.

Dari sudut pandang pemerintah, langkah perusahaan untuk berpindah lokasi bisa dilihat sebagai upaya mempertahankan efisiensi. Namun bagi para buruh yang kehilangan pekerjaan, ini adalah bencana sosial dan ekonomi yang nyata.

Jejak Luka di Lantai Pabrik

Pemandangan di pabrik Tangerang pasca-pengumuman PHK bagaikan potongan adegan dalam film duka industri. Para pekerja yang tersisa masih berusaha tersenyum. Namun di antara tawa, ada mata yang sembab, ada tangan yang menggenggam erat, dan ada seragam pabrik yang kini menjadi simbol perpisahan.

Beberapa video yang tersebar di media sosial memperlihatkan momen perpisahan penuh haru. Seorang pekerja perempuan memeluk sahabatnya sambil berkata pelan, “Jaga diri, ya.” Di pojok lain, beberapa pekerja laki-laki berfoto bersama di depan mesin produksi—tempat mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Meski terlihat sederhana, bagi mereka seragam biru pabrik itu bukan sekadar pakaian kerja, melainkan simbol identitas dan kebanggaan. Kini, seragam itu mungkin akan disimpan sebagai kenangan masa lalu.

Bukan Kali Pertama

Bagi PT Victory Chingluh Indonesia, gelombang PHK semacam ini bukanlah hal baru. Pada Maret 2025, perusahaan juga dikabarkan memangkas sekitar 2.000 pekerja. Saat itu, Aprisindo mengonfirmasi bahwa langkah tersebut memang terjadi karena tekanan bisnis dan penurunan order sejak November 2024.

Baca Juga:  Hari Ketujuh Kampaye, Gibran Bagikan Susu dan Buku Tulis di Tangerang

Namun sumber dari serikat buruh menilai, kondisi ini lebih kompleks dari sekadar “penurunan pesanan”. Sebab, perusahaan yang sama masih memasok merek internasional besar dan disebut tetap mendapat order rutin.

Kenyataan ini menimbulkan ironi: di tengah pertumbuhan industri yang disebut pemerintah masih positif, ribuan buruh justru kehilangan pekerjaan.

Nasib di Tengah Persaingan Global

Indonesia memang masih menjadi basis produksi untuk banyak merek sepatu terkenal di dunia. Namun tekanan global seperti efisiensi biaya, persaingan upah dengan negara tetangga, serta fluktuasi permintaan pasar membuat posisi buruh semakin rapuh.

Rizky Aditya Wijaya menegaskan, dari sisi pemerintah, kondisi industri masih terkendali. “Persaingan ok. Memang pasar agak turun naik ya,” ujarnya.

Namun bagi ribuan buruh yang kini menganggur, situasinya jauh dari “ok”. Mereka harus kembali mencari pekerjaan baru di usia yang tak lagi muda, di tengah biaya hidup yang terus naik, dan di pasar kerja yang semakin sempit.

Menatap Masa Depan dengan Ketidakpastian

Malam hari setelah pengumuman PHK, sebagian buruh masih duduk di depan gerbang pabrik, memandangi bangunan tempat mereka menghabiskan bertahun-tahun hidup. Beberapa dari mereka membawa kotak berisi perlengkapan pribadi: sarung tangan kerja, botol air, sepatu keselamatan. Barang-barang kecil itu kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang mereka.

Kata-kata itu menggema di antara riuh berita tentang pertumbuhan ekonomi, relokasi pabrik, dan efisiensi biaya. Di balik semua data dan strategi industri, ada ribuan wajah yang kehilangan harapan—dan itu, mungkin, adalah sisi lain dari kemajuan yang jarang terlihat di layar kaca.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

buruh pabrik industri alas kaki Nike PHK massal sepatu Tangerang
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

ilustrasi bansos

Kabar Gembira! Pencairan Bansos 2026 Dipercepat, Cek Jadwal Terbarunya

Kisah Kartika: Kuliah Kelar, Toga Terpasang, Tapi Kondisi Ayahnya Saat Ditelepon Bikin Semua Orang Terdiam

Penangkapan Jurnalis WNI Asal Bandung di Misi Kemanusiaan Gaza Tuai Kecaman

Bisnis Kios Kripto Hancur Lebur, Raksasa ATM Bitcoin Global Resmi Nyatakan Bangkrut!

Geger Video Lorong RSUD Palabuhanratu: Niatnya Bikin Vlog Malah Diikuti Bocah Misterius

Terjerat utang

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.669 Triliun, ke Mana Saja Aliran Dananya?

Terpopuler
  • Link Asli Video Viral? Guru Vs Murid Durasi 6 Menit Bikin Penasaran Publik
  • Dicari Link Full 6 Menit, Video Guru Bahasa Inggris Ini Justru Bikin Publik Curiga
  • Video 6 Menit Guru Bahasa Inggris Viral di TikTok dan X, Ternyata Banyak Kejanggalan
  • Link Video Viral Tukang Cilok, Konten Prank Bikin Penasaran!
  • Link Video Viral Skandal Guru Bahasa Inggris vs Murid, Benarkah Ada Kelanjutannya?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.