bukamata.id – Di tepian sebuah genangan air luas yang tenang tapi menyimpan kisah pilu, seorang perempuan paruh baya berdiri dengan sorot mata lelah. Suaranya lantang, bukan karena ingin terkenal, tapi karena keputusasaannya sudah sampai puncak.
Perempuan itu adalah salah satu dari puluhan warga Desa Sukasirnarasa, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang sejak tujuh tahun terakhir hidup dalam bayang-bayang genangan air akibat pembangunan proyek besar: Tol Cisumdawu. Dalam video berdurasi singkat yang beredar luas, ia juga melontarkan pertanyaan tajam kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Sudah tujuh tahun. Kenapa kalau yang di luar Jawa Barat cepat ditangani, kenapa kami yang di bawah ini didiemin? Padahal udah sampai ke Pakuan juga.”
Kalimat itu menggambarkan rasa frustrasi yang menumpuk bertahun-tahun. Sejak aktivitas pembangunan jalan tol dimulai, kehidupan warga berubah drastis. Lahan pertanian mereka yang dahulu hijau dan produktif kini berubah menjadi hamparan air menyerupai danau besar. Setiap musim hujan, genangan meluas, mengancam rumah-rumah penduduk dan merusak sendi ekonomi desa.
Proyek Triliunan Rupiah di Balik Penderitaan Warga
Ya, inilah Tol Cisumdawu, singkatan dari Cileunyi–Sumedang–Dawuan. Panjang total jalan tol ini mencapai 61,6 kilometer (km), membentang menghubungkan wilayah Bandung dan Majalengka. Jalan tol ini terkoneksi langsung dengan ruas Jalan Tol Cipularang (Cikampek–Purwakarta–Padalarang) dan Jalan Tol Cipali (Cikopo–Palimanan), sehingga menjadi jalur strategis untuk mobilitas barang dan manusia di Jawa Barat.
Pembangunan Tol Cisumdawu menelan anggaran sebesar Rp18,3 triliun. Sekitar Rp9,08 triliun atau setengah dari total biaya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara sisanya dibiayai melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Proyek ini digadang-gadang sebagai salah satu proyek strategis nasional yang akan menjadi urat nadi konektivitas baru di Pulau Jawa.
Presiden Joko Widodo meresmikan Tol Cisumdawu pada Selasa, 11 Juli 2023, tepatnya di KM 169, Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang — tak jauh dari lokasi twin tunnel atau terowongan kembar sepanjang 472 meter yang menjadi ikon jalan tol ini. Saat itu, Jokowi menyebut tol ini akan mempercepat akses ke Bandara Kertajati dan menggerakkan roda ekonomi kawasan timur Jawa Barat.
Namun, tak jauh dari lokasi peresmian megah tersebut, warga Desa Sukasirnarasa justru menghadapi kenyataan pahit. Proyek puluhan triliun rupiah ini membawa dampak lingkungan serius bagi mereka. Tumpukan tanah buangan atau disposal proyek yang tidak ditangani dengan baik menutup lima sumber mata air alami dan menghambat aliran sungai. Akibatnya, air menggenang secara permanen, menciptakan “danau buatan” yang menenggelamkan lahan pertanian warga.
Sawah Hilang, Penghidupan Ikut Tenggelam
Sebelum tol berdiri, warga Sukasirnarasa hidup dari sawah. Setiap musim, mereka menanam padi, sayur, atau palawija. Panen menjadi sumber utama penghasilan. Tapi kini, lahan yang sama tak lagi bisa digarap. Seluas delapan hektare sawah berubah menjadi kolam besar dengan kedalaman mencapai sekitar 30 meter.
Musim kemarau pun tak lagi berarti apa-apa, karena genangan itu tidak pernah benar-benar kering. Bagi para petani, ini berarti tujuh tahun kehilangan sumber penghidupan. Tujuh tahun tanpa panen. Tujuh tahun menatap air menggenang di lahan yang dulu memberi mereka makan.
“Dulu di sini sawah subur. Saya biasa tanam padi dua kali setahun,” kata seorang warga yang rumahnya berada di tepi genangan. “Sekarang tinggal air saja. Kami hanya bisa lihat. Setiap hari rasanya sakit, seperti kehilangan bagian hidup sendiri.”
Rumah Retak, Ancaman Longsor Mengintai
Genangan air tak hanya menelan sawah. Rumah-rumah warga di sekitar lokasi kini terancam ambruk. Dinding yang dulu kokoh kini retak-retak. Pondasi bangunan perlahan melemah akibat rembesan air yang terus terjadi. Setiap hujan deras turun, warga dicekam rasa was-was. Mereka takut genangan kembali meluap atau tanggul buatan jebol seperti beberapa tahun lalu.
Puluhan kepala keluarga telah terdampak langsung. Beberapa keluarga bahkan pernah dievakuasi ketika area genangan mengalami kebocoran. Situasi ini bukan hanya persoalan infrastruktur, tapi sudah menyangkut keselamatan jiwa manusia.
Jeritan Viral dan Respon Pemerintah
Jeritan emak-emak Sukasirnarasa itu akhirnya sampai ke telinga Kang Dedi Mulyadi (KDM). Melalui akun TikTok resminya, @dedimulyadiofficial, KDM merespons keluhan warga dan langsung mengirim Tim Bantuan Hukum Jabar Istimewa ke lokasi.
Tim Hukum dari Dedi Mulyadi itu sudah turun ke lapangan dan langsung bertemu dengan warga.
Di sisi lain, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir menerangkan bahwa genangan di Bendung Cihamerang, Desa Sukasirnarasa, memang merupakan dampak langsung aktivitas proyek tol.
“Genangan di Cihamerang terjadi karena aktivitas disposal proyek Tol Cisumdawu yang menutup lima sumber mata air alami. Akibatnya, air tertahan dan membentuk kolam besar di lahan pertanian warga,” ujar Dony dalam keterangannya, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, Pemkab Sumedang telah melakukan berbagai langkah darurat, mulai dari evakuasi warga terdampak, pemasangan police line di sekitar area genangan, penyedotan air menggunakan pompa selama 20 jam per hari, hingga pembangunan saluran pembuangan sementara sepanjang 430 meter. Namun semua itu belum mampu mengembalikan kondisi seperti sedia kala.
“Penyedotan dilakukan bertahap karena kalau sekaligus dikhawatirkan tanah di sekitarnya bisa longsor akibat kehilangan tekanan air,” tambahnya.
Masalah Tak Sederhana: Menunggu Tangan Pemerintah Pusat
Persoalan ini tidak berhenti di level kabupaten. Bupati Dony menyebut penyelesaiannya membutuhkan campur tangan pemerintah pusat, sebab sebagian lahan yang terdampak berada di luar area right of way (ROW) proyek jalan tol.
“Ganti rugi belum seluruhnya tuntas karena sebagian lahan berada di luar ROW jalan tol. Kami berkomitmen membantu agar proses penyelesaiannya berjalan baik dan masyarakat tidak dirugikan,” tegasnya.
Pemkab Sumedang kini berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BPPJN) untuk merancang solusi permanen. Tahap awal direncanakan dengan proses pengeringan bertahap agar kondisi tanah tetap aman, sebelum dibangun sistem pengendali air yang lebih permanen.
Antara Megaproyek dan Kehidupan Rakyat Kecil
Proyek Tol Cisumdawu yang menelan anggaran Rp18,3 triliun memang membawa banyak harapan bagi pembangunan Jawa Barat. Namun, di Desa Sukasirnarasa, proyek raksasa ini juga menyisakan luka mendalam. Tujuh tahun warga hidup berdampingan dengan genangan air, kehilangan mata pencaharian, dan tinggal di rumah yang mulai retak.
Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin kehidupan mereka kembali normal — sawah yang bisa digarap, rumah yang aman, dan masa depan yang pasti.
“Kami bukan minta ganti rugi besar-besaran. Kami cuma ingin sawah kami kembali, rumah kami aman,” kata seorang warga dengan mata berkaca.
Tujuh tahun berlalu. Sawah masih tenggelam, rumah masih retak, dan janji solusi masih menggantung. Di tepian genangan itu, emak-emak yang viral tadi kembali berdiri. Ia tak lagi hanya berbicara untuk dirinya, tapi untuk seluruh tetangganya yang hidup dalam ketidakpastian.
“Kami cuma minta keadilan,” katanya lirih.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











