bukamata.id – Ada yang berbeda dari kemenangan Persib atas Melbourne Victory kali ini. Remontada dramatis itu memastikan Maung Bandung lolos ke babak 16 Besar AFC Champions League (ACL) Two 2026/2027.
Tapi di balik sorak bobotoh, ada lantunan ayat suci dari seorang anak yang lahir dan besar di kota lawan: Naufal Aziz Putra Setiawan.
Namanya mungkin sudah akrab bagi penonton televisi. Ia hafiz cilik berdarah Indonesia yang menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an saat usianya baru 9 tahun. Ia juga meraih Juara 2 Hafiz Indonesia 2025. Pekan ini namanya kembali ramai, kali ini lewat jalur yang tak terduga: sepak bola.
Al-Hujurat 13 untuk Laga Bandung Kontra Australia
Pada hari pertandingan, akun Instagram @naufalsetiawanofficial mengunggah video Naufal melantunkan Surah Al-Hujurat ayat 13. Ayat itu bicara soal manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal.
“Persib Day! 💙 From Bandung to Australia. Quran Al-Hujurat: 13… Created to know one another. 🤲 ⚽,” tulisnya dalam keterangan unggahan.
Pilihan ayatnya terasa pas sekali. Klub asal Bandung bertandang ke kandang tim Australia, dan doanya datang dari bocah Indonesia yang tumbuh di Melbourne. Dua identitas itu bertemu di satu malam.
Kolom komentar langsung dibanjiri bobotoh. “Masyaallah, pantesan remontadaa,” tulis akun @hii***. Akun @sek*** menimpali, “Masyaalloh, pantesan dibantu Malaikat.” Ada juga yang menulis, “Masyaallah, jalur langit tidak pernah gagal 💙” (@off***). Seorang warganet lain memakai bahasa Sunda: “Alhamdulillah, so proud Boy 💙 Bandung reueus, Bobotoh bagja!” (@muz***).
Hanya saja, di balik video berdurasi singkat itu ada perjalanan panjang yang jarang terlihat.
Bocah Pendiam yang Diam-diam Menghafal
Naufal tidak dirancang sejak awal menjadi penghafal Al-Qur’an. Di rumah, ia dikenal sebagai anak pendiam. Ia lebih sering mendengarkan.
Yang ia dengarkan ternyata suara kakaknya, Nova, saat mengaji. Nova kini juga sudah khatam 30 juz. Lantunan sang kakak yang terdengar setiap hari rupanya meresap tanpa disadari siapa pun.
Kejutan datang saat Naufal berumur 4 tahun. Sang ibu, Bunda Farah, iseng mengetes hafalannya. Ternyata Naufal sudah hafal Surah Al-Fajr, juga banyak surah lain, dan semuanya ia pelajari sendiri.
Dari situ arah hidupnya mulai berubah.
Sekolah Sore, Homeschooling, hingga Rumah Tahfidz Imigran
Begitu melihat bakat itu, Bunda Farah mendaftarkan Naufal ke kelas sore. Jadwalnya padat untuk anak seusianya: pukul 17.00 sampai 21.00, empat kali seminggu. Dalam satu setengah tahun, Naufal mengantongi 11 juz.
Setelah itu ia pindah ke homeschooling yang berfokus pada Al-Qur’an, lalu masuk sekolah tahfidz penuh waktu. Di sana ia dibimbing Syekh Uzair, pengajar asal Afrika Selatan yang mengelola rumah tahfidz bagi keluarga imigran di Melbourne. Syekh Uzair dikenal disiplin. Gaya mengajar seperti itulah yang membentuk hafalan Naufal hingga mutqin, alias benar-benar kuat dan melekat.
Semua itu berjalan di negeri tempat Muslim jadi minoritas. Bagi orang tuanya, menjaga nilai agama di lingkungan seperti itu jelas punya tantangan tersendiri. Masjid tak ada di setiap sudut. Suara azan juga tak terdengar dari jendela rumah.
Pulang ke Tanah Air, Ayah Tertahan di Australia
Panggung Hafiz Indonesia 2025 membawa Naufal pulang ke Indonesia. Tapi kepulangan itu tidak utuh. Sang ayah tak bisa ikut mendampingi karena harus menjalani perawatan sakit ginjal di Australia.
Naufal tetap naik panggung. Ia pulang membawa gelar Juara 2, dan kisahnya menyentuh banyak penonton di rumah.
Tetap Anak Laki-laki Biasa
Kalau melihat Naufal di layar kaca, orang mudah lupa bahwa ia masih anak-anak. Padahal di luar urusan hafalan, keseharian Naufal biasa saja. Ia suka main basket, senang merakit Lego, dan tidak menolak kalau diberi gadget.
Bunda Farah paham betul hal itu. Alih-alih memaksakan murajaah yang kaku, ia menjaga hafalan putranya lewat permainan “Tebak Ayat” di rumah. Sang ibu membaca potongan ayat, lalu Naufal menyambungnya. Hafalan jalan terus, masa kecilnya pun tidak hilang.
Ngajilah TV dan Qurra Asybal di Madinah
Selepas Hafiz Indonesia, langkah Naufal makin lebar. Pada 2026 ia resmi bergabung dengan manajemen Ngajilah TV di bawah asuhan qari nasional Muzammil Hasballah.
Kabar lain datang dari Tanah Suci. Berkat kualitas bacaannya, Naufal terpilih masuk program Qurra Asybal di Madinah.
Mungkin itu sebabnya unggahan “Persib Day” terasa lebih dari sekadar dukungan untuk tim sepak bola. Lewat satu ayat tentang saling mengenal, Naufal sedang menceritakan dirinya sendiri: anak Melbourne berdarah Indonesia yang berdiri di antara dua rumah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









