Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Guncang Piala Dunia 2026! Ucapan Pelatih Senegal Ini Bikin Ruang Pers Langsung Hening!

Selasa, 16 Juni 2026 14:48 WIB

Sentimen Damai AS-Iran Pecah, Rupiah Menguat Jadi Mata Uang Terbaik di Asia

Selasa, 16 Juni 2026 14:20 WIB

Kenaikan BBM Nonsubsidi Bebani Pemkot Bandung, Farhan Akui Harus Lakukan Efisiensi Besar-besaran

Selasa, 16 Juni 2026 14:12 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Guncang Piala Dunia 2026! Ucapan Pelatih Senegal Ini Bikin Ruang Pers Langsung Hening!
  • Sentimen Damai AS-Iran Pecah, Rupiah Menguat Jadi Mata Uang Terbaik di Asia
  • Kenaikan BBM Nonsubsidi Bebani Pemkot Bandung, Farhan Akui Harus Lakukan Efisiensi Besar-besaran
  • Berusia Hampir 6 Abad, DPRD Ungkap Posisi Strategis Cirebon dalam Sejarah Jawa Barat
  • Strategi Lolos Pengajuan KUR BRI 2026 Rp100 Juta: Panduan Syarat, Langkah Online, dan Simulasi Cicilan Terbaru
  • Farhan Tegaskan Trotoar Bukan Tempat Parkir, Pelanggar akan Ditindak
  • Hilang Misterius 3 Tahun, Perempuan Asal Antapani Ternyata Disekap dan Dianiaya Kekasihnya
  • Jadwal Lengkap MotoGP Ceko 2026 Akhir Pekan Ini: Misi Marquez Lampaui Rekor Rossi di Brno
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 16 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Usulan Menteri Bencana di Tengah Kabinet Terbesar: Perlukah Indonesia Membentuk Kementerian Baru?

By Aga GustianaRabu, 10 Desember 2025 10:01 WIB5 Mins Read
Kabinet Merah Putih. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ruang rapat Komisi I DPR RI pada Senin (9/12/2025) awalnya berlangsung dengan ritme biasa: paparan, tanya jawab, dan evaluasi program. Namun ketika Ketua Komisi I Utut Adianto mengangkat isu yang tak terduga—bahkan terdengar nyeleneh bagi sebagian orang—suasana seketika berubah lebih tegang dan penuh perhatian. Di hadapan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Utut melemparkan ide besar: Indonesia perlu memiliki Menteri Bencana.

Bukan sekadar pejabat koordinatif, melainkan sebuah kementerian penuh yang menangani risiko bencana dari hulu ke hilir. Utut bahkan membayangkan struktur khusus: “Dirjen Longsor, Dirjen Banjir, Dirjen Angin Topan, dan satu dirjen lagi apa,” ujarnya sambil menegaskan bahwa kebutuhan ini muncul dari kenyataan pahit yang sedang dihadapi Indonesia.

Bencana yang Tak Pernah Redup

Usulan itu bukan lahir dari ruang kosong. Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai daerah di Indonesia diterjang banjir bandang, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem yang mengganggu aktivitas masyarakat dan menelan korban jiwa. Utut merujuk secara khusus pada daerah pemilihannya, Banjarnegara, yang baru saja diguncang bencana.

“Di Banjarnegara, dapil saya, yang wafat 17, yang belum ketemu 11,” tuturnya dengan nada berat. Ia menggambarkan bagaimana daerah yang ia wakili seakan tidak diberi jeda untuk bernapas dari ancaman bencana, sebuah kondisi yang menurutnya membutuhkan perubahan struktural besar-besaran dalam cara negara menangani krisis.

Indonesia, negara yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik, dikenal rawan gempa, tsunami, erupsi gunung api, hingga hidrometeorologi seperti banjir dan angin puting beliung. Setiap tahun, data BNPB menunjukkan ribuan kejadian bencana. Namun selama ini, penanganan berada di bawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lembaga non-kementerian yang bekerja lintas sektor tetapi kerap terhambat oleh kompleksitas koordinasi dan keterbatasan anggaran.

Baca Juga:  Bursa Calon Kapolri Menguat, Dua Nama Komjen Masuk Daftar Pengganti Listyo Sigit

Utut menyinggung masalah klasik: APBN tidak sanggup menopang kebutuhan penanganan bencana yang terus berulang. “APBN itu konsepnya belanja, bukan menabung,” katanya. Kalimat itu menunjukkan urgensi untuk memiliki mekanisme manajemen risiko yang lebih sistematis dan terintegrasi, bukan sekadar reaktif setelah bencana terjadi.

Pertanyaan Besar di Tengah Kabinet Raksasa

Namun, ada ironi besar di balik usulan tersebut. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah memasuki sejarah sebagai kabinet tergemuk sejak Orde Baru hingga era Reformasi. Dengan 48 menteri dan 56 wakil menteri dalam Kabinet Merah Putih, total ada lebih dari seratus pejabat tingkat tinggi yang memikul mandat eksekutif.

Pelantikan berlangsung dalam dua sesi di Istana Negara pada 21 Oktober. Pagi hari, Prabowo melantik para menteri serta kepala lembaga setingkat menteri—mulai dari Jaksa Agung hingga Kepala Staf Kepresidenan. Sore harinya, ia kembali mengenakan selempang pelantik untuk menetapkan 56 wakil menteri, termasuk nama-nama populer seperti mantan pebulutangkis Taufik Hidayat.

Sederet figur baru dan lama mengisi struktur pemerintahan, termasuk Luhut Binsar Pandjaitan yang kali ini dipercaya sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional. Semua ini menegaskan bahwa Prabowo membangun kabinet dengan sistem kompartemenisasi yang sangat besar—strategi yang diyakini untuk mempercepat kerja pemerintahan namun sekaligus menuai kritik karena dianggap boros dan tidak efisien.

Baca Juga:  Komisi Yudisial Optimistis Calon Hakim Agung dan ad hoc HAM Bakal Diterima DPR

Di tengah komposisi yang telah membengkak, muncul pertanyaan penting: Apakah Indonesia memang membutuhkan satu kementerian tambahan lagi? Jika ditambahkan, struktur kabinet bisa menjadi semakin besar dan berisiko memperumit mekanisme birokrasi.

Dilema Antara Efektivitas dan Beban Struktur

Gagasan tentang Menteri Bencana tentu menarik. Dengan kompleksitas geografis dan frekuensi bencana yang terus meningkat akibat perubahan iklim, tidak sedikit ahli kebencanaan yang menilai Indonesia memerlukan institusi dengan otoritas lebih kuat daripada BNPB. Dalam kacamata itu, keberadaan kementerian khusus bisa memastikan perencanaan mitigasi yang lebih matang, koordinasi lebih gesit, serta anggaran yang lebih terjamin.

Namun, pembentukan kementerian baru berarti menambah lagi struktur yang sudah dianggap terlalu gemuk. Kabinet Prabowo kini bukan saja yang terbesar dalam sejarah Indonesia modern, tetapi juga salah satu yang paling terfragmentasi dalam jumlah portofolio. Kritik tentang pemborosan anggaran, tumpang tindih kewenangan, hingga potensi perpolitikan jabatan menjadi hal yang tidak bisa dihindari.

Di sinilah dilema itu muncul: ketika realitas bencana menuntut respons luar biasa, tetapi struktur pemerintahan sudah berada di titik maksimal. Penambahan kementerian berpotensi melahirkan solusi jangka panjang, namun juga menimbulkan persoalan tata kelola baru.

Baca Juga:  Transparansi Pendidikan DPR Disorot, Data BPS Sebut Banyak Lulusan SMA

Refleksi yang Menggantung di Ruang Publik

Meski masih berupa wacana yang dilemparkan dalam rapat komisi, ide Menteri Bencana membuka percakapan lebih besar: sejauh mana Indonesia siap menghadapi kenyataan bahwa hidup di negeri rawan bencana adalah kondisi permanen, bukan situasi musiman. Apakah lembaga yang sudah ada hanya membutuhkan penguatan, atau apakah memang diperlukan kementerian baru dengan kewenangan penuh?

Di sisi lain, publik juga mempertanyakan bagaimana prioritas pemerintah dalam menyusun struktur kabinet. Jika tujuan awal memperbesar kabinet adalah mempercepat eksekusi kebijakan, maka munculnya usulan baru mengindikasikan bahwa ada aspek yang belum sepenuhnya terakomodasi.

Ketika banjir masih merendam kota, tanah longsor menutup akses desa, dan angka korban terus bertambah, wacana ini mungkin bukan hanya permainan konsep politik, melainkan panggilan darurat agar negara lebih siap menghadapi bencana yang datang silih berganti. Usulan Utut Adianto, meskipun belum tentu akan terwujud dalam waktu dekat, telah menempatkan isu kebencanaan kembali sebagai prioritas utama yang tidak boleh diabaikan.

Dan mungkin, di tengah kabinet supergemuk yang kini memegang kendali negara, wacana ini akan menjadi salah satu bahan refleksi terbesar: apakah memperbesar struktur adalah jawaban—atau apakah yang dibutuhkan adalah merampingkan yang ada sambil memperkuat fondasi penanggulangan bencana secara menyeluruh?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

dpr Kabinet Prabowo kabinet tergemuk menteri bencana Penanggulangan bencana politik Indonesia Utut Adianto
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sentimen Damai AS-Iran Pecah, Rupiah Menguat Jadi Mata Uang Terbaik di Asia

Kenaikan BBM Nonsubsidi Bebani Pemkot Bandung, Farhan Akui Harus Lakukan Efisiensi Besar-besaran

Berusia Hampir 6 Abad, DPRD Ungkap Posisi Strategis Cirebon dalam Sejarah Jawa Barat

Farhan Tegaskan Trotoar Bukan Tempat Parkir, Pelanggar akan Ditindak

Hilang Misterius 3 Tahun, Perempuan Asal Antapani Ternyata Disekap dan Dianiaya Kekasihnya

Farhan Pastikan Kebebasan Demonstrasi Tetap Dijaga, Sebut Aksi Mahasiswa di Bandung Berjalan Kondusif

Terpopuler
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya yang Mengejutkan
  • Link Video Cut Salwa Viral ‘No Sensor’, Warganet Diminta Jangan Asal Klik!
  • Link Asli Video Cut Salwa di Hotel Diburu Warganet, Apa Isinya?
  • Viral! Daftar Nama yang Diserahkan Sony Sonjaya ke Kejagung Terkait Kasus BGN, Siapa Saja?
  • Antisipasi Demo Mahasiswa Memanas, 2.300 Personel Gabungan TNI-Polri Jaga Ketat Kota Bandung
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.