bukamata.id – Unggahan dokumentasi kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Stasiun Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, mendadak jadi sorotan hangat netizen. Foto yang diunggah oleh Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, memicu kritik lantaran salah satu gambarnya disinyalir merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Peristiwa ini bermula dari postingan yang diunggah Eva seusai agenda kunjungan kerja Presiden pada Jumat (30/10/2026). Perhatian para pengikutnya tertuju pada slide bagian akhir yang memperlihatkan Prabowo tengah berswafoto bersama antusiasme warga. Visual dalam potret tersebut dinilai tidak natural dan menyisakan banyak kejanggalan.
Setelah ditelusuri, unggahan itu memang mengandalkan fitur rekayasa AI. Dalam unggahan di Instastory miliknya, Eva sempat menyertakan foto editan tersebut yang secara otomatis menampilkan label khusus “AI Content” di pojok kiri atas.
“Ujicoba jadi fotografer RI 1, memenuhi permintaan para Whooser yg rebutan foto bareng. Lulus gak ya,” tulis caption pada unggahan Eva.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Maraknya respons kritis di media sosial membuat Eva akhirnya buka suara melalui platform Threads miliknya pada Sabtu (31/10/2026). Ia membeberkan kronologi di balik terunggahnya foto kontroversial tersebut dan menyebut adanya kekeliruan teknis dari galeri ponselnya.
“Pagi rekan2 yang baik, Mohon maaf ya kalau sudah membuat ramai, Terima kasih untuk informasinya dapat saya jelaskan bahwa pada saat saya melakukan postingan dimedsos pribadi dengan klik foto dari galeri hp yang secara tidak sengaja terupload kiriman foto dari wa grup yg masuk ke galeri saya yang ternyata sudah di edit, Saya sempat tutup sementara akun saya untuk tidak menambah kegaduhan,” jelas Eva di akun Thread miliknya.
Eva juga tak lupa memohon maaf atas kehebohan yang sempat ditimbulkan dari postingan pribadi tersebut.
Gelombang Kritik Warganet Masih Bergulir
Kendati klarifikasi telah disampaikan, riak kekecewaan publik rupanya belum sepenuhnya surut. Banyak pengguna media sosial yang mempertanyakan tingkat kesadaran dan kehati-hatian dalam proses pemilihan materi sebelum dipublikasikan ke ruang publik.
“Kok bisa ya tidak sengaja ngepost? Wong jelas-jelas sadar kan diupload,” tulis seorang pengguna media sosial.
Tak sedikit pula warganet yang memberikan komentar menohok dan mengaitkannya dengan persoalan transparansi informasi.
“Benerr yaaak… terbukti! Penyebar hoax itu rezim,” tulis warganet lainnya.
Selain itu, nada miring juga berdatangan dari warganet yang membandingkan penanganan kekhilafan pejabat publik dengan respons terhadap penyampaian aspirasi masyarakat.
“Enaknya, jadi pemerintah/negara cuman minta maaf masalah selesai, giliran rakyat bersuara langsung bisa diproses hukum, ditangkap dan dipenjara,” tulis salah satu akun.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











