bukamata.id – Kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada agenda penyambutan peserta didik anyar di Universitas Padjadjaran (Unpad) Agustus lalu sempat memicu perhatian publik. Di tengah orasi ilmiahnya, pria yang akrab disapa KDM ini menyempatkan diri berdialog dengan seorang mahasiswi baru bernama Keisha dari program studi Sarjana Terapan Administrasi Pemerintahan.
Dalam obrolan tersebut, mahasiswi asal Leles, Garut itu membagikan kisah perjuangannya menembus perguruan tinggi. Ia mengaku dibesarkan oleh ibunya yang bekerja di lini bisnis kuliner dengan penghasilan terbatas setelah orang tuanya berpisah. Meski diwarnai gelak tawa akibat kelakar KDM di panggung, keberanian Keisha berkuliah dengan keterbatasan finansial itu menyentuh hati sang gubernur hingga memberikan santunan.
Dokumentasi interaksi tersebut mendadak tular di berbagai platform digital. Namun, dinamika internet bergulir cepat; tanggapan netizen meramai karena menganggap beberapa candaan seputar latar belakang keluarga dan prodi Keisha tergolong kurang peka. Beredar kabar burung bahwa sang mahasiswi mengalami tekanan mental hingga enggan melanjutkan studi.
Menanggapi kehebohan di ruang publik, pihak rektorat Unpad memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan simpang siur informasi. Rektor Unpad Arief S. Kartasasmita memastikan bahwa anak didiknya tersebut dalam keadaan aman dan tetap menjalani kegiatan akademik sebagaimana mestinya.
“Kuliahnya sih baik-baik saja. Dia enggak ada apa-apa,” kata Arief di Rektorat Unpad, Kamis (20/8/2026). “Justru saya ingin tidak memperbesar ini menjadi masalah lebih meluas, karena kasihan pada anaknya,” tambahnya.
Arief menegaskan bahwa kehebohan yang terjadi di jagat maya jauh berbeda dengan realitas di lapangan. Ia memastikan interaksi internal kampus berjalan kondusif.
“Jadi prinsipnya, konteksnya, kalau ada sesuatu, semua sudah terkontrol kok. Enggak ada masalah apa-apa,” tuturnya.
Pihak universitas juga bergerak aktif memastikan seluruh elemen pendukung dipersiapkan untuk mendampingi Keisha selama proses pembelajarannya berjalan.
“Semua anak kalau ada permasalahan kuliah, tentu akan kami tangani, kami beri pendampingan. Tapi saya sudah bertemu, kemarin lusa bertemu, kita tanya betul-betul,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa narasi yang berkembang luas di ruang siber dinilai terlalu berlebihan dibandingkan kondisi sebenarnya.
“Mungkin itu ada masalah yang terlalu dibesar-besarkan di masyarakat. Jadi adiknya sih sebenarnya udah enggak ada masalah apa-apa, dan dia berkuliah seperti biasa,” tambahnya.
Mengenai aspek finansial maupun latar belakang sosial peserta didik, Unpad menegaskan komitmennya untuk menjamin keberlanjutan studi seluruh mahasiswanya melalui berbagai skema bantuan resmi.
“Oh tentu, tentu. Jadi kami punya banyak sekali mahasiswa yang ada permasalahan dengan keluarga, baik secara ekonomi, secara hubungan, dan seterusnya. Tentu sekarang menjadi mahasiswa kami, tentu akan kami berikan pendampingan. Jadi kami akan bantuan, kuliahnya kalau kurang kami berikan KIP-K Pemerintah dan seterusnya. Jadi kami akan lakukan semacam itu,” tuturnya.
Arief menutup tanggapannya dengan mengimbau masyarakat agar tidak terpancing oleh kegaduhan media sosial yang kerap membesar-besarkan masalah.
“Jadi enggak ada masalah. Ini kan situasinya memang sekarang ini seolah-olah lebih ramai di media daripada kenyataannya, tapi sebetulnya tidak,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









