bukamata.id – Aksi tegas manajemen SMAN 1 Pacet, Kabupaten Cianjur, yang melikuidasi barang sitaan berupa kosmetik milik para siswinya mendadak menyedot perhatian publik. Langkah drastis berupa pemusnahan massal di tengah lapangan sekolah tersebut diambil demi mencegah potensi terjadinya tindakan perundungan (bullying) hingga pelecehan verbal terhadap siswi yang berdandan mencolok.
Peristiwa ini mendadak ramai diperbincangkan usai rekaman singkat berdurasi 38 detik diunggah secara resmi oleh akun media sosial milik SMAN 1 Pacet. Dalam video yang memicu kehebohan di dunia maya itu, ribuan perhiasan wajah dan alat rias hasil razia dikumpulkan di area lapangan upacara. Gemuruh teriakan serta sorak-sorai para murid membahana ketika pihak pengajar bersama perwakilan siswa secara simbolis menghancurkan produk kosmetik yang tak sesuai regulasi sekolah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) SMAN 1 Pacet, Angga Dita Noviana, mengungkapkan bahwa batasan mengenai tata cara berdandan sebenarnya sudah diundangkan sejak permulaan tahun ajaran anyar.
“Sudah kami sampaikan itu pada siswa saat SPMB dan MPLS Panca Waluya. Bahkan saat disampaikan para rapat orangtua, mereka sangat menyetujui aturan tersebut,” ujar dia, Senin (26/10/2026).
Angga menerangkan, tim pengajar di gerbang masuk senantiasa mengawasi penampakan para murid dan memberikan peringatan berkala mengenai tata tertib penampilan.
“Ada penghapusan makeup yg berlebihan atau tebal menggunakan tisu basah/micellar water oleh kesiswaan,” ucap dia.
Tak cuma sekadar memberikan imbauan verbal, jajaran kesiswaan pun sejatinya telah berulang kali menggelar inspeksi mendadak (sidak) untuk mengamankan barang-barang terlarang tersebut.
“Sebelum penindakan yang viral juga kami seringkali razia, menyita alat makeupnya. Tapi saat itu langsung dikembalikan saat pulang sekolah atau diserahkan pada orangtua sambil memberikan kembali edukasi untuk tidak meyakinkan pelanggaran serupa,” kata dia.
Kendati tindakan persuasif dan penyitaan sementara sudah sering diaplikasikan, kepatuhan para murid tak kunjung membaik. Kondisi tersebut memaksa pihak sekolah untuk mengambil langkah pamungkas melalui eksekusi pemusnahan massal pada Jumat (23/10/2026) lalu.
“Sudah sering diingatkan dan dilakukan pembinaan, tapi tetap saja dibawa ke sekolah. Bahkan ada yang membawa set makeup lengkap dalam tasnya. Makanya kami lakukan razia hingga pemusnahan usai kegiatan salat Duha dan kegiatan siswanya pada Jumat pagi,” kata dia.
Lebih lanjut, Angga meluruskan bahwa tindakan tegas ini tidak menyapu bersih seluruh perlengkapan perawatan diri murid. Produk perawatan kesehatan kulit dasar masih ditoleransi dan diserahkan kembali ke pemiliknya.
“Kalau untuk alat makeup standar demi melindungi kulit diperkenankan. Makanya setelah razia kemarin langsung dikembalikan,” kata dia.
Faktor utama yang mendasari pengetatan tata tertib ini adalah mitigasi keselamatan dan perlindungan mental para siswi dari potensi bahaya sosial di lingkungan sekitar.
“Dengan makeup yang tebal, para siswi menjadi berpenampilan mencolok. Rentan ada yang cat calling, kemudian ada bully juga ketika make up-nya tebal, dan berpotensi mencari korban pelecehan. Makanya kami larang, kemudian lakukan tindakan ini demi melindungi siswi kami,” kata dia.
Sidak pencegahan ini nyatanya tidak berfokus pada pelajar putri saja. Pelajar putra turut menjadi sasaran pengawasan menyeluruh terhadap barang bawaan mereka.
“Tentu tidak hanya tas milik siswi yang diperiksa, tapi tas siswa laki-laki juga kami cek. Untuk memastikan tidak ada barang yang dilarang untuk pelajar, seperti rokok,” kata dia.
Meskipun memicu riak tanggapan kontroversial dari para warganet, jajaran civitas akademika SMAN 1 Pacet bergeming dan berikrar akan konsisten mengawal penegakan aturan demi kebaikan peserta didik.
“Kami sadar ini tidak populis, bahkan saat video diunggah di media sosial menimbulkan beragam tanggapan. Tapi ini sekali lagi kami tegaskan demi melindungi siswa,” tegasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











