bukamata.id – Penemuan jasad pria di Pulau Enggano, Bengkulu, membuka fakta baru dalam kasus hilangnya kapal yang membawa rombongan jurnalis saat hendak melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Hasil pemeriksaan DNA memastikan jasad yang ditemukan di Pulau Enggano identik dengan salah satu Anak Buah Kapal (ABK) kapal yang membawa delapan orang tersebut.
Menariknya, lokasi penemuan jasad berada cukup jauh dari titik terakhir kapal terdeteksi. Berdasarkan pengukuran melalui Google Earth, jarak antara Pulau Enggano dan Pulau Sebesi mencapai sekitar 345,05 kilometer jika ditarik dalam garis lurus.
Pulau Enggano Berada di Samudra Hindia
Pulau Enggano merupakan wilayah yang berada di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Secara geografis, pulau tersebut berada di perairan Samudra Hindia, tepatnya di sebelah barat daya Pulau Sumatera.
Sementara itu, kapal yang membawa rombongan jurnalis diketahui terakhir terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Pulau Sebesi berada di kawasan Selat Sunda dan termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Perbedaan lokasi tersebut menjadi perhatian karena Pulau Enggano dan Pulau Sebesi terpisah ratusan kilometer.
Bila diukur menggunakan Google Earth dalam garis lurus, jarak antara kedua pulau tersebut sekitar 345,05 kilometer.
DNA Jasad di Enggano Identik dengan ABK Kapal
Sebelumnya, kepastian mengenai identitas jasad yang ditemukan di Pulau Enggano diperoleh setelah dilakukan pemeriksaan DNA.
Jasad tersebut ditemukan pada Sabtu (12/9/2026) dan kemudian dievakuasi untuk menjalani proses identifikasi.
Dokter forensik RS Bhayangkara Banten, Donald Rinaldi Kusumaningrat, membenarkan hasil pemeriksaan tersebut.
“Sudah, informasi begitu,” ujar Donald saat dikonfirmasi pada Rabu (23/9/2026).
Hasil pemeriksaan DNA menunjukkan jasad tersebut identik dengan salah satu ABK kapal yang membawa rombongan jurnalis menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kapal Jurnalis Hilang Saat Hendak Liputan Erupsi
Kapal tersebut membawa delapan orang yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru.
Mereka berangkat pada 7 September 2026 dengan tujuan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.
Namun, dalam perjalanan, kapal tersebut kemudian hilang kontak.
Pencarian pun dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur. Salah satu perkembangan penting terjadi pada 12 September ketika jasad ditemukan di wilayah Pulau Enggano.
Jasad tersebut selanjutnya dievakuasi dan menjalani pemeriksaan forensik, termasuk tes DNA untuk memastikan identitasnya.
Delapan Orang Masih Menjadi Fokus Pencarian
Sebelum hasil identifikasi jasad diumumkan, pencarian terhadap delapan orang yang berada di kapal tersebut telah dilakukan di sejumlah wilayah perairan.
Operasi pencarian resmi kini telah dihentikan setelah dilakukan sesuai prosedur dan evaluasi di lapangan.
Adapun delapan orang yang sebelumnya berada di kapal tersebut terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru, yakni:
- M Bagus Khoirunnas – ANTARA
- Arie Basuki – Merdeka.com
- Yudistiro Pranoto – iNews
- Firman Daus – Anadolu Agency
- Donal Husni – jurnalis lepas
- Warta/Surahman – kapten kapal
- Sukarman – Anak Buah Kapal (ABK)
- Heriyanto – pemandu
Penemuan jasad di Pulau Enggano dan hasil pemeriksaan DNA menjadi salah satu perkembangan penting dalam penanganan kasus kapal yang hilang saat membawa rombongan jurnalis untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sementara itu, koordinasi dengan wilayah pesisir dan sejumlah unsur terkait tetap dilakukan untuk menindaklanjuti informasi yang berpotensi berkaitan dengan korban maupun keberadaan benda dari kapal tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








