bukamata.id – Kapolda Banten Irjen Hengki membeberkan secara rinci urutan peristiwa di balik raibnya kapal wisata Arupadhatu yang membawa rombongan jurnalis serta kru saat berlayar menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Peristiwa nahas ini bermula ketika kapal tersebut dilaporkan putus kontak selepas bertolak pada awal September lalu.
Dalam keterangannya, Irjen Hengki merinci identitas delapan orang yang berada di atas kapal nahas tersebut, yang terdiri atas lima wartawan dari berbagai media serta tiga awak kapal:
- M Bagus Khoirunnas (Antara)
- Arie Basuki (Merdeka.com)
- Yudistiro Pranoto (iNews)
- Firman Daus (Anadolu Agency)
- Donal Husni (jurnalis lepas/freelance)
- Warta (kapten kapal)
- Suratman (anak buah kapal/ABK)
- Heriyanto (pemandu)
Kronologi Keberangkatan dan Hilang Kontak (7 September)
Berdasarkan data penyelidikan kepolisian, kapal yang membawa para pencari berita ini mulanya berlayar meninggalkan Dermaga Pagedongan yang terletak di kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin sore tanggal 7 September, tepatnya pukul 14.00 WIB. Namun, situasi mulai berubah mencemaskan tatkala keesokan harinya, Selasa (8/9), pihak kepolisian menerima aduan resmi perihal kapal yang gagal kembali dan terputus komunikasi.
“Keluarga melaporkan kehilangan keluarganya yang belum kembali setelah tanggal 7 (September) berangkat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujar Hengki dalam sesi konferensi pers di Markas Kepolisian Daerah Banten, Rabu (23/9/2026).
Titik Terang Lewat Temuan Jenazah di Bengkulu (12 September)
Operasi pencarian gabungan yang digalakkan akhirnya membuahkan petunjuk penting pada hari kelima misi pencarian, yakni tanggal 12 September. Irjen Hengki menyebutkan pihaknya mendapat laporan ihwal penemuan sesosok jenazah tak dikenal (Mr X) yang terdampar jauh hingga wilayah perairan Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Polda Banten langsung membangun koordinasi lintas wilayah bersama jajaran Polda Bengkulu guna proses evakuasi. Setibanya di Banten, tim kedokteran forensik langsung bergerak mengumpulkan data pembanding berupa sampel DNA dari kedelapan keluarga korban yang hilang.
Hasil Tes DNA dan Identifikasi Korban (23 September)
Setelah melalui serangkaian uji laboratorium yang mendalam, teka-teki identitas jenazah tersebut akhirnya menemukan titik terang pada Rabu (23/9/2026). Berdasarkan kecocokan data antemortem, jasad yang ditemukan di Bengkulu dipastikan merupakan salah satu kru kapal, yakni Suratman.
“Teridentifikasi sebagai Suratman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat. Tuan Yayat ini adalah putra kandung dari Bapak Suratman,” ucap Hengki menandaskan hasil kecocokan tes DNA tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









