bukamata.id – RSUD Bandung Kiwari mengalami peningkatan kunjungan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga membuat kapasitas pelayanan dan ketersediaan tempat tidur rawat inap dalam kondisi padat.
Informasi tersebut disampaikan RSUD Bandung Kiwari melalui akun Instagram resminya. Rumah sakit mengimbau pasien dan keluarga memahami kondisi tersebut karena dapat berdampak pada waktu tunggu pelayanan, proses pemeriksaan, hingga ketersediaan tempat tidur rawat inap.
Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari, Arief Budiman, mengatakan lonjakan kunjungan terlihat dalam periode 1 hingga 21 September 2026. Dalam kurun 21 hari tersebut, tercatat sebanyak 2.860 kunjungan IGD, atau rata-rata sekitar 136 pasien per hari.
“Berdasarkan data tanggal 1 September hingga 21 September, itu kunjungan IGD kami melonjak cukup tajam. Dalam tiga minggu terakhir ini kurang lebih 2.860 pasien totalnya,” kata Arief saat ditemui di RSUD Bandung Kiwari, Rabu (23/9/2026).
Jumlah kunjungan tertinggi tercatat pada 17 September 2026 dengan 178 pasien dalam sehari.
Dari total kunjungan tersebut, sebanyak 1.636 pasien atau 57,2 persen tercatat melakukan pendaftaran. Dari pasien yang terdaftar, 995 orang atau 60,8 persen kemudian menjalani rawat inap.
Sementara itu, 433 pasien atau 26,5 persen diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pelayanan, 114 pasien dialihkan perawatannya, 34 pasien pulang atas permintaan sendiri, sembilan pasien dirujuk, dan 11 pasien tercatat meninggal dunia.
Arief mengatakan kepadatan pelayanan juga berdampak pada antrean pasien yang membutuhkan ruang rawat inap. Dalam kondisi tertentu, terdapat pasien yang harus masuk daftar tunggu karena kapasitas ruangan belum tersedia.
“Kami ada daftar tunggu per harinya itu 10 pasien per hari yang tidak bisa dirawat inap. Tertinggi itu pada tanggal 12 September, ada 23 pasien yang tidak bisa masuk rawat inap,” ujarnya.
Meski demikian, Arief memastikan RSUD Bandung Kiwari tidak menutup pelayanan IGD. Setiap pasien yang datang tetap diperiksa dan dipilah berdasarkan tingkat kegawatdaruratan melalui proses triase.
“Kami ingin tegaskan bahwa di tengah lonjakan ini kami tidak pernah menutup pintu. Bagi siapa pun pasien yang datang, tetap kami periksa dan dipilah sesuai dengan kegawatan melalui proses triase,” katanya.
Pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa akan diprioritaskan untuk mendapatkan penanganan.
Arief juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mendatangi IGD apabila kondisi yang dialami masih ringan dan stabil. Menurutnya, pasien dengan kondisi tersebut dapat memperoleh pelayanan di Puskesmas, klinik, maupun poli rawat jalan.
“Datanglah ke IGD kalau memang keadaannya darurat, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat, atau kecelakaan. Untuk keluhan yang lebih ringan, ke Puskesmas, ke klinik, atau bisa di kami ada poli rawat jalan,” jelasnya.
Menurut Arief, salah satu alasan masyarakat tetap memilih IGD adalah karena ingin mendapatkan penanganan dengan cepat, terutama pasien yang datang di luar jam pelayanan poliklinik. Ia menyebut sebagian pasien juga datang setelah sebelumnya mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan lain namun masih merasa membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selain itu, RSUD Bandung Kiwari juga menerima sejumlah rujukan yang datang tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Padahal, menurut Arief, proses rujukan melalui Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) dapat membantu rumah sakit mengetahui kondisi dan ketersediaan tempat sebelum pasien tiba.
Untuk mengatasi kepadatan tersebut, pihak rumah sakit melakukan sejumlah langkah, mulai dari mempercepat pemindahan pasien yang sudah stabil dari IGD ke ruang rawat inap, mempercepat pemulangan pasien yang sudah layak pulang dengan kontrol lanjutan, hingga mengupayakan penambahan tenaga dokter dan perawat.
“Kami mengusulkan tambahan perawat dan dokter umum di ruangan untuk membantu memindahkan pasien,” ujarnya.
Arief mengatakan rumah sakit juga melakukan rotasi dan penguatan sumber daya manusia untuk menghadapi peningkatan beban pelayanan.
Sementara terkait penyakit yang banyak ditemukan, Arief mengatakan pasien anak menjadi salah satu kelompok yang cukup dominan. Berdasarkan data 10 besar penyakit, kasus terbanyak pada pasien anak adalah hiperpiresia sebanyak 166 kasus, dehidrasi 162 kasus, bronkopneumonia 151 kasus, dispepsia 149 kasus, serta viral infection 115 kasus.
Pada pasien dewasa, kasus terbanyak adalah pneumonia sebanyak 101 kasus, PPOK 90 kasus, dispepsia 85 kasus, stroke infark 71 kasus, dan GEA 64 kasus.
Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai influenza, Arief mengatakan pihak RSUD Bandung Kiwari memang menemukan pasien dengan keluhan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan. Namun, rumah sakit tidak melakukan pemeriksaan swab influenza sehingga tidak memiliki data yang dapat memastikan jumlah kasus influenza.
“Terkait influenza, saya kira kalau gambaran globalnya, pasien kita yang terbanyak itu pasien anak dengan demam tinggi, dan juga pasien dewasa dengan radang paru-paru,” kata Arief.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai influenza, ia menegaskan, “Kami tidak melakukan swab-nya, jadi kami tidak punya data.”
Dengan kapasitas total 333 tempat tidur, Arief menyebut tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) RSUD Bandung Kiwari saat ini berada di angka 74 persen.
Artinya, menurut Arief, ruang rawat inap masih tersedia. Namun, proses pemindahan pasien dari IGD ke ruang rawat inap tetap harus melalui pemilahan berdasarkan kondisi medis dan ketersediaan tempat.
RSUD Bandung Kiwari pun meminta masyarakat memahami kondisi pelayanan tersebut dan menggunakan fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan medis.
“Kami mohon pengertian dan dukungan Bapak-Ibu semua, bahwa kami di sini juga dengan segala keterbatasan,” ujar Arief.
Melalui informasi yang disampaikan di akun Instagram resminya, RSUD Bandung Kiwari juga memastikan pasien yang membutuhkan pelayanan kegawatdaruratan tetap akan ditangani berdasarkan kondisi dan tingkat kegawatdaruratannya sesuai prosedur yang berlaku.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










