bukamata.id – Curah hujan berintensitas sedang hingga tinggi mulai mengguyur kawasan Bandung Raya dalam beberapa hari terakhir. Sayangnya, kedatangan musim hujan ini langsung memicu rentetan bencana hidrometeorologi, mulai dari peristiwa angin puting beliung dan tanah longsor di Padalarang, hingga terjangan banjir yang mengepung wilayah Kota Cimahi.
Merespons kondisi tersebut, BPBD Kota Cimahi menerbitkan peringatan dini terkait potensi ancaman bencana di seluruh penjuru kota. Kawasan perbukitan yang sempat dilanda kemarau panjang menjadi area yang paling rentan mengalami pergerakan tanah saat diguyur hujan deras.
“Perlu diwaspadai daerah-daerah yang mengalami kekeringan panjang bisa memicu longsor. Bencana hidrometeorologi berpotensi terjadi di semua kelurahan di Kota Cimahi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, Minggu (1/11/2026).
Waspada Tanah Retak dan Rongga Air
Masyarakat yang bermukim di area sekitar lereng tebing maupun lahan berkontur miring diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra. Struktur tanah yang sempat mengering dan berongga selama musim kemarau menjadi sangat labil ketika mendadak terisi pasokan air hujan berlebih.
“Jika ada tanah retak atau titik longsoran baru agar segera melapor ke BPBD atau aparat pemerintahan setempat,” kata Fithriandy.
Menghadapi ketidakpastian cuaca serta kerentanan geologis yang meningkat, BPBD Kota Cimahi meminta warga secara aktif melakukan upaya mitigasi mandiri di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Diharapkan warga periksa kondisi rumah khususnya struktur bangunan rumah pada bagian atap atau dinding yang berpotensi rapuh dan rawan rusak diterjang angin kencang atau hujan lebat. Bersihkan lingkungan agar bisa meminimalisir potensi banjir,” kata Fithriandy.
Jabar Siapkan Status Siaga Bencana Hingga April 2027
Di tingkat provinsi, BPBD Jawa Barat merekomendasikan penetapan status siaga bencana hidrometeorologi basah terhitung mulai 1 November 2026 hingga 30 April 2027. Keputusan ini dirumuskan berdasarkan rapat koordinasi lintas lembaga bersama BMKG, PVMBG, serta jajaran BPBD kabupaten/kota se-Jawa Barat.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, menjelaskan bahwa rekomendasi resmi tersebut akan segera diserahkan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk disahkan secara hukum.
“Maka dihasilkan kesepakatan yang pertama ditetapkan bahwa kita kemungkinan akan menetapkan, tapi nanti tunggu keputusan Pak Gubernur ya, Kepgub-nya. Kita merekomendasikan kepada Pak Gubernur untuk menetapkan siaga hidrometeorologi basah per tanggal 1 November 2026 sampai dengan 30 April 2027,” ujar Teten.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











