Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Viral di TikTok dan X, Link Telegram Video Rok Hijau Jadi Buruan Warganet

Kamis, 28 Mei 2026 11:05 WIB
Ilustrasi emas antam

Update Harga Emas Antam Hari Ini, Kamis 28 Mei 2026: Turun Drastis!

Kamis, 28 Mei 2026 11:04 WIB

Crystal Palace Juara Eropa! Oliver Glasner Tutup Era dengan Gelar Bersejarah

Kamis, 28 Mei 2026 10:58 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Viral di TikTok dan X, Link Telegram Video Rok Hijau Jadi Buruan Warganet
  • Update Harga Emas Antam Hari Ini, Kamis 28 Mei 2026: Turun Drastis!
  • Crystal Palace Juara Eropa! Oliver Glasner Tutup Era dengan Gelar Bersejarah
  • Tinggalkan Kursi Pelatih, Bojan Hodak Bongkar Rahasia Persib Juara 3 Kali Beruntun
  • Skandal Riset Palsu, Peneliti Indonesia Tipu Ilmuwan Dunia Pakai AI Demi Jalan-jalan Gratis?
  • Link Full Video Rok Hijau Tosca Viral 3 Menit Jadi Buruan, Waspada Phishing!
  • Full Lirik Lirik Lagu ‘My Little Bolu Ketan’, Nama Bahlil Ikut Jadi Sorotan!
  • Video Rok Hijau Tosca Viral 3 Menit Bikin Heboh TikTok, Link Full Banyak Jebakan!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 28 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Babak Baru Sengketa Lahan Punclut: Petani Bersatu Deklarasikan MAPAS demi Keadilan Agraria

By Aga GustianaSenin, 23 Februari 2026 21:52 WIB3 Mins Read
Masyarakat Pager Wangi Bersatu (MAPAS). (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kawasan Punclut kembali memanas, namun kali ini bukan karena deru mesin pengembang, melainkan karena suara kolektif para petani penggarap. Setelah bertahun-tahun merasa diabaikan oleh negara terkait status lahan ex-Erfpacht Verponding 12, warga resmi membentuk wadah perjuangan bernama Masyarakat Pager Wangi Bersatu (MAPAS) di Kabupaten Bandung Barat, Minggu (22/02/2026).

Langkah ini diambil sebagai respons atas ketimpangan struktural kepemilikan tanah yang kian menghimpit ekonomi warga lokal. MAPAS hadir bukan sekadar sebagai organisasi formal, melainkan benteng pertahanan bagi para petani yang telah menggarap lahan tersebut secara turun-temurun.

Misi Besar di Balik Deklarasi MAPAS

Ketua MAPAS, Hery Garnady, menegaskan bahwa kelahiran organisasi ini membawa misi besar yang mencakup aspek hukum, ekonomi, hingga lingkungan. Fokus utamanya adalah mendesak pemerintah menjalankan Reforma Agraria yang nyata di kawasan Pagerwangi.

“MAPAS didirikan untuk memperjuangkan kepastian hak atas tanah melalui Reforma Agraria, sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi warga — salah satunya melalui pembentukan koperasi agraria dan aksi penghijauan,” tegas Hery.

Baca Juga:  Dorong Ekonomi Desa, Bandung Barat Segera Realisasikan Koperasi Merah Putih

Gerakan ini tidak berjalan sendirian. MAPAS kini berafiliasi dengan Serikat Petani Pasundan (SPP) dan menggandeng Perkumpulan Aktivis 98 untuk memperkuat daya tawar warga di hadapan klaim sepihak perusahaan swasta.

Reforma Agraria: Bukan Sekadar Bagi-Bagi Sertifikat

Momen deklarasi ini terasa kian sakral karena bertepatan dengan peringatan 27 tahun Reformasi. Sekretaris Jenderal Perkumpulan Aktivis 98 (PA 98), Lukman Nurhakim, memberikan sorotan tajam bahwa selama ini ada kesalahpahaman mendasar mengenai makna reforma agraria di mata penguasa.

Menurut Lukman, kepemilikan tanah secara legal hanyalah langkah awal. Hal yang jauh lebih krusial adalah pemberdayaan petani pasca-mendapatkan hak atas tanah tersebut.

“Reforma agraria tidak cukup hanya dipahami sebagai urusan bagi-bagi tanah (land reform) semata. Ia harus mencakup pula pendampingan ekonomi (access reform) yang nyata bagi para petani, agar mereka benar-benar berdaya di atas tanah yang mereka perjuangkan,” ujar Lukman.

Baca Juga:  Longsor Terjang Lembang Akibat Hujan Deras, 8 Orang Jadi Korban

Baginya, pembentukan koperasi agraria dalam tubuh MAPAS adalah instrumen kunci agar petani tidak terjebak dalam kemiskinan struktural meskipun sudah memiliki lahan.

Walhi Jabar: Lawan Penggusuran, Selamatkan Ekosistem Punclut

Dukungan kuat juga datang dari pegiat lingkungan. Dedi Kurniawan, Ketua Dewan Daerah Walhi Jawa Barat, menolak keras adanya ancaman penggusuran terhadap lahan garapan warga. Ia mengingatkan bahwa penggusuran adalah bentuk pengingkaran terhadap konstitusi.

“Lahan yang selama ini digarap oleh warga adalah bagian dari hak petani penggarap yang telah lama berdiam dan bekerja di sana. Penggusuran bukan solusi — itu adalah pengingkaran terhadap hak-hak rakyat yang telah dijamin oleh konstitusi kita,” kata Dedi.

Dedi juga mendesak pemerintah untuk meninjau ulang klaim lahan oleh pihak swasta di Kawasan Bandung Utara (KBU), termasuk klaim dari PT DUSP. Ia mewanti-wanti agar Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tidak disalahgunakan untuk kepentingan pemilik modal.

Baca Juga:  Tanah Longsor di Lembang Akibat Hujan Deras, Puluhan Warga Mengungsi

“Jangan sampai undang-undang yang sejatinya hadir untuk melindungi rakyat justru dimanipulasi untuk melegitimasi perampasan lahan oleh segelintir pihak yang memiliki modal dan koneksi,” tegasnya.

Ancaman Ekologis di Balik Konflik Lahan

Selain urusan keadilan sosial, sengketa ini memiliki dimensi lingkungan yang sangat serius. Sebagai daerah resapan air vital bagi Bandung Raya, alih fungsi lahan di Punclut bisa memicu bencana lingkungan skala besar.

Dedi mengingatkan bahwa jika Punclut terus dikonversi menjadi area bangunan komersial, maka krisis air, banjir, hingga longsor akan menjadi ancaman nyata bagi jutaan nyawa di bawahnya. Perjuangan MAPAS, dengan demikian, juga menjadi perjuangan untuk menjaga keseimbangan ekosistem Jawa Barat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

aktivis 98 Bandung Barat MAPAS Punclut Reforma Agraria sengketa lahan Walhi Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Skandal Riset Palsu, Peneliti Indonesia Tipu Ilmuwan Dunia Pakai AI Demi Jalan-jalan Gratis?

Dari Penarik Gerobak Jadi ‘Anak Emas’: Kisah Haru Sapi Matilda yang Bikin Netizen Mewek

Pengendara Motor Masuk Tol Purbaleunyi Berujung Kecelakaan, Polisi Lakukan Penyelidikan di KM 123 Bandung Barat

Teror Pocong di Bandung Barat Ternyata Hoaks AI, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan

Gencatan Senjata AS-Iran di Ujung Tanduk, Ketegangan Timur Tengah Kian Membara

Kurs Rupiah Nyaris Sentuh Rp 17.800, Menkeu Purbaya: Ini Nggak Masuk Akal!

Terpopuler
  • Tebing Keraton
    Menjelajahi Pesona “Swiss van Java”: 5 Destinasi Unggulan di Bandung Barat yang Wajib Dikunjungi
  • Viral Video ‘3 vs 1’ TKW Taiwan: Jebakan Link Phishing di Balik Konten Sensasional
  • Pengusaha Tasikmalaya Bawa Rp1,3 Miliar Cash, Nekat Tawar Ikan Koi Irfan Hakim dan Bos Hartono tapi Ditolak!
  • Bandung Siap-siap Macet Total! Ini Skema Pengalihan Jalan dan Rute Konvoi Juara Persib
  • Dicap Sensasional! Video TKW Taiwan 3 Vs 1 Viral, Netizen Ramai Cari Link Aslinya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.