bukamata.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempercepat pengerjaan dan rehabilitasi drainase serta trotoar di sejumlah wilayah. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan infrastruktur pengendali air dapat berfungsi optimal sekaligus mengantisipasi genangan saat curah hujan meningkat.
Pengerjaan saat ini berlangsung di sejumlah titik, mulai dari proyek drainase berskala besar hingga pekerjaan crossing yang bersinggungan langsung dengan badan jalan.
Kepala Bidang Drainase dan Trotoar Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Kiki Rosani Rifqi, mengatakan sejumlah proyek drainase bernilai miliaran rupiah tengah dikebut penyelesaiannya.
Proyek Drainase Besar di Soekarno-Hatta dan Cisaranten
Salah satu pekerjaan yang menjadi perhatian berada di koridor Samsat Soekarno-Hatta. Proyek drainase tersebut saat ini telah mencapai progres fisik sekitar 30 persen.
“Kalau dari segi beberapa paket lelang yang penting-penting, yang besar nilainya miliaran, memang ada dua paket lelang drainase yang sudah hampir selesai,” kata Kiki, Rabu (30/9/2026).
Selain kawasan Soekarno-Hatta, proyek drainase berskala besar juga dikerjakan di Cisaranten. Progres fisik pekerjaan di lokasi tersebut telah mencapai sekitar 60 persen.
Di luar dua proyek utama tersebut, Pemkot Bandung juga mengerjakan sejumlah paket drainase dengan skala lebih kecil di berbagai wilayah melalui mekanisme penunjukan langsung.
Proyek Crossing Drainase Jalan Turangga Capai 93 Persen
Salah satu pekerjaan yang membutuhkan penanganan khusus berada di Jalan Turangga. Proyek tersebut merupakan crossing drainase atau pembangunan saluran yang melintasi badan jalan yang masih digunakan kendaraan.
Hingga saat ini, progres pekerjaan crossing drainase Jalan Turangga telah mencapai sekitar 93 persen. Pemkot Bandung menargetkan proyek tersebut rampung pada 9 Oktober 2026.
Pengerjaan crossing memiliki tantangan tersendiri karena berhubungan langsung dengan aktivitas lalu lintas. Karena itu, pekerjaan harus dilakukan dengan waktu yang sangat terbatas agar tidak mengganggu mobilitas masyarakat.
“Kalau crossing yang sifatnya menyeberang jalan, tentunya lalu lintas tidak bisa terganggu. Jadi harus satu malam beres,” jelas Kiki.
Selain lalu lintas, kondisi cuaca juga menjadi salah satu kendala dalam penyelesaian pekerjaan drainase. Perubahan cuaca yang cepat, khususnya hujan deras, dapat menghambat pekerjaan teknis seperti pengecoran saluran.
“Kadang-kadang cuaca ekstrem seperti ini. Hari ini panas, besok hujan, itu mengganggu juga perencanaan yang sudah kita buat. Rencana mengecor, akhirnya hujan,” tutur Kiki.
Drainase Bandung Ditargetkan Rampung Sebelum Hujan Lebat
Pemkot Bandung menetapkan penyelesaian proyek drainase secara bertahap hingga Oktober 2026. Target tersebut disusun untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan yang berpotensi memicu genangan di sejumlah wilayah.
“Rata-rata targetnya sebelum musim hujan. Oktober awal, Oktober akhir minimal, menjelang hujan lebat sudah selesai semuanya,” ujar Kiki.
Berdasarkan rekapitulasi pekerjaan drainase dan trotoar per 30 September 2026, terdapat 79 paket pekerjaan dengan total cakupan penanganan mencapai 15,4 kilometer.
Berikut rincian pekerjaan yang telah direalisasikan:
- Rehabilitasi drainase: 50 paket dengan panjang 7,2 kilometer dari target tahunan 14 kilometer.
- Pembangunan drainase baru: 9 paket sepanjang 3,9 kilometer atau telah mencapai 100 persen dari target tahunan.
- Rehabilitasi trotoar: 9 paket sepanjang 1,9 kilometer atau 100 persen dari target tahunan.
- Pembangunan trotoar baru: 11 paket sepanjang 2,4 kilometer atau 100 persen dari target tahunan.
Dengan percepatan pembangunan drainase baru dan penyelesaian rehabilitasi saluran lama, Pemkot Bandung menargetkan seluruh pekerjaan fisik dapat dituntaskan sebelum memasuki periode hujan lebat.
Penyelesaian proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan fungsi saluran air sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi risiko genangan di berbagai titik Kota Bandung.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










