Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kepulan Asap di Pool Damri Kebon Kawung, Kebakaran Gegerkan Warga Bandung

Minggu, 8 November 2026 17:19 WIB

Lelah Usai dari Australia, Persib Malah Bikin Pelatih Java United Ketar-ketir

Minggu, 8 November 2026 16:30 WIB
CPNS

CPNS 2026 Resmi Dibuka November! Siapkan Dokumen Ini dari Sekarang

Minggu, 8 November 2026 15:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kepulan Asap di Pool Damri Kebon Kawung, Kebakaran Gegerkan Warga Bandung
  • Lelah Usai dari Australia, Persib Malah Bikin Pelatih Java United Ketar-ketir
  • CPNS 2026 Resmi Dibuka November! Siapkan Dokumen Ini dari Sekarang
  • Viral Pengendara Mobil Diacungi Senjata di Cangkuang, Remaja 17 Tahun Diamankan
  • Ogah Cari Istri Baru! Demian Aditya Blak-blakan Tak Kepikiran Nikah Lagi Usai Cerai dari Sara Wijayanto
  • Jelang Persib vs Java United, Igor Tolic Minta Bobotoh Utamakan Keselamatan
  • Kabar Duka! Bobotoh Meninggal saat Menuju Laga Persib di Semarang
  • Lelah Bukan Alasan! Marc Klok Minta Persib Habis-habisan di Jatidiri
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 8 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Banjir yang Tak Pernah Pergi: Bandung Raya Terjebak dalam Krisis Tanpa Langkah Serius

By Aga GustianaSenin, 15 Desember 2025 09:00 WIB5 Mins Read
Ilustrasi banjir di Bandung Raya. (Foto: ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Hujan yang turun beberapa jam saja kini cukup untuk melumpuhkan Bandung Raya. Air kembali menggenangi permukiman, jalan raya, hingga kawasan pusat aktivitas ekonomi. Di Kabupaten Bandung, kawasan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang kembali menjadi titik terparah. Sungai Citarum dan anak-anak sungainya meluap, merendam ribuan rumah warga hingga setinggi pinggang orang dewasa. Aktivitas warga berhenti, sekolah diliburkan, dan kerugian material kembali tak terhindarkan.

Di Kota Bandung dan Cimahi, genangan air muncul di banyak ruas jalan akibat sistem drainase yang tak mampu menampung debit air hujan. Kemacetan panjang, gangguan transportasi, serta meningkatnya risiko penyakit pascabanjir menjadi persoalan lanjutan yang harus ditanggung masyarakat. Banjir telah menjadi fenomena tahunan yang seolah diterima sebagai keniscayaan, bukan kegagalan kebijakan.

Upaya Pemerintah yang Berulang, Parsial, dan Tak Pernah Tuntas

Pemerintah pusat dan daerah kerap menyatakan telah melakukan berbagai langkah untuk menanggulangi banjir. Pembangunan kolam retensi, normalisasi sungai, hingga program Citarum Harum terus diklaim sebagai bentuk keseriusan negara. Namun, banjir tetap berulang dari tahun ke tahun dengan pola yang hampir sama.

Kolam retensi yang dibangun di sejumlah titik belum mampu menahan limpasan air dalam skala besar. Normalisasi sungai hanya memberi dampak sementara karena sedimentasi cepat kembali terjadi. Program Citarum Harum pun dinilai lebih fokus pada penanganan sampah dan pencemaran, sementara persoalan tata ruang dan alih fungsi lahan masih dibiarkan berjalan.

Penanganan banjir di Bandung Raya masih bersifat parsial dan sporadis. Setiap daerah bergerak sendiri-sendiri berdasarkan batas administratif, tanpa kerangka kebijakan regional yang terintegrasi. Akibatnya, banjir tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah lokasi.

Baca Juga:  Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya

Bandung di Bawah Permukaan Laut: Peringatan dari Gubernur

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut kondisi Bandung Raya sudah berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan bahwa penurunan permukaan tanah di Bandung telah membuat wilayah ini berada di bawah permukaan laut.

“Bandung ini permukaannya sudah sangat di bawah laut. Itulah kenapa air selalu naik setiap musim hujan,” ujar Dedi, Rabu (10/12/2025).

Menurut Dedi, banjir di Bandung Raya tidak semata-mata disebabkan oleh hujan deras. Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah, pembangunan yang tidak terkendali, serta rusaknya lingkungan menjadi faktor utama yang memperparah genangan. Dalam kondisi tersebut, hujan dengan intensitas sedang pun sudah cukup untuk menyebabkan banjir meluas.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengidentifikasi penurunan muka tanah sebagai salah satu penyebab utama banjir tahunan, khususnya di wilayah Bandung bagian selatan. Namun, persoalan ini belum sepenuhnya diikuti oleh kebijakan pengendalian yang tegas.

Tanggapan Pakar: Persoalan Struktural dan Multidimensional

Pakar Kebijakan Publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, mengatakan, masalah banjir yang terus berulang di Bandung Raya tidak dapat disederhanakan sebagai akibat dari satu kebijakan yang keliru semata, melainkan merupakan persoalan struktural dan multidimensional yang telah terakumulasi selama puluhan tahun.

“Banjir di kawasan Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, hingga Sumedang terjadi karena kombinasi antara lemahnya pengendalian tata ruang, masifnya alih fungsi lahan resapan di wilayah hulu dan perkotaan, degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, serta keterbatasan kapasitas sistem drainase dan sungai dalam menampung debit air yang terus meningkat,” ujar Kristian kepada bukamata.id, Minggu (14/12/2025).

Baca Juga:  Pj Gubernur Jabar Bersama Tiga Menteri Luncurkan Program Penanganan PPKS Perkotaan

Ia menambahkan, urbanisasi yang sangat cepat tidak diimbangi dengan penegakan regulasi lingkungan dan perencanaan berbasis daya dukung. “Akibatnya, banyak kawasan yang seharusnya menjadi area resapan justru berubah menjadi kawasan terbangun,” katanya.

Menurut Kristian, selain faktor tata ruang, persoalan teknis dan kelembagaan juga menjadi penghambat utama dalam penanganan banjir di Bandung Raya. “Pembangunan kolam retensi, misalnya, sering terhenti pada masalah pembebasan lahan, konflik kepemilikan, keterbatasan anggaran, serta resistensi sosial dari masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, program besar seperti Citarum Harum memang menunjukkan kemajuan pada aspek kebersihan dan penertiban. Namun, dampaknya terhadap pengendalian banjir belum signifikan. “Masalah banjir tidak hanya berada di badan sungai, melainkan juga di hulu DAS, kawasan permukiman, dan sistem drainase perkotaan,” jelasnya.

Kristian juga menyoroti penurunan muka tanah di beberapa wilayah Bandung Raya akibat eksploitasi air tanah. Menurutnya, kondisi tersebut memperparah genangan yang terjadi setiap musim hujan. “Pernyataan bahwa Bandung sudah berada di bawah permukaan mencerminkan kondisi ekologis yang serius dan berisiko jangka panjang,” tegasnya.

Ia menilai, faktor lain yang tidak kalah penting adalah lemahnya koordinasi lintas wilayah dan sektor. “Bandung Raya terdiri atas beberapa pemerintah daerah dengan kewenangan masing-masing, sementara banjir bekerja secara ekologis lintas batas administratif,” katanya.

Ketika penanganan dilakukan secara parsial dan sporadis, lanjut Kristian, hasilnya tidak akan berkelanjutan. “Normalisasi sungai di satu kota atau pembangunan drainase lokal tanpa kerangka kebijakan regional yang terintegrasi hanya akan menghasilkan solusi tambal sulam dan reaktif, bukan preventif dan sistemik,” ujarnya.

Baca Juga:  Ma’ruf Amin Sebut Pemangkasan Hibah Pesantren di Jabar Sebagai Anomali

Oleh karena itu, Kristian menegaskan pemerintah harus mengubah pendekatan penanganan banjir. “Pendekatan sektoral dan jangka pendek harus diubah menjadi pendekatan regional berbasis DAS dan jangka panjang,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas kabupaten dan kota melalui mekanisme kelembagaan yang jelas dan memiliki mandat kuat. “Perencanaan tata ruang harus berbasis risiko banjir dan perubahan iklim,” ujarnya.

Menurut Kristian, pengendalian alih fungsi lahan di kawasan hulu, restorasi lingkungan, reboisasi, serta pengelolaan air tanah harus berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur seperti kolam retensi, taman resapan, dan perbaikan sistem drainase. “Pada saat yang sama, pemerintah juga harus berani mengambil kebijakan tidak populer, seperti moratorium pembangunan di zona rawan banjir dan relokasi permukiman bantaran sungai dengan pendekatan yang adil dan manusiawi,” katanya.

“Dengan kata lain, banjir di Bandung Raya bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari masalah tata kelola pemerintahan, konsistensi kebijakan, dan keberanian politik,” pungkas Kristian. “Selama penanganan masih bersifat parsial, tidak terintegrasi, dan lebih menekankan respons darurat daripada pencegahan struktural, maka banjir akan terus menjadi langganan. Hanya dengan kebijakan yang tegas, terkoordinasi, dan berbasis keberlanjutan ekologis, persoalan banjir di Bandung Raya dapat dikurangi secara signifikan dalam jangka panjang.”

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

HL jawa barat kebijakan publik lingkungan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kepulan Asap di Pool Damri Kebon Kawung, Kebakaran Gegerkan Warga Bandung

CPNS

CPNS 2026 Resmi Dibuka November! Siapkan Dokumen Ini dari Sekarang

Viral Pengendara Mobil Diacungi Senjata di Cangkuang, Remaja 17 Tahun Diamankan

Kabar Duka! Bobotoh Meninggal saat Menuju Laga Persib di Semarang

Gagal Refund Gegara Aplikasi Error dan Tenggat 7×24 Jam, Penumpang Gugat KAI ke PN Bandung

Hilang Kontak Hampir Sebulan, PMI Cililin Diduga Korban TPPO Akhirnya Ditemukan

Terpopuler
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ramai Dicari Netizen! Terbongkar Kebenaran Isu Link Video Egar dan Fina Asal Banyuwangi
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.