Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya

Minggu, 11 Oktober 2026 14:02 WIB

Dari Bubur Ayam hingga Nasi Goreng, Ini 5 Tempat Makan 24 Jam di Bandung

Minggu, 11 Oktober 2026 13:02 WIB

Persib vs Dewa United: Igor Tolic Waspadai Egy, Tiga Pemain Maung Bandung Berpeluang Pulih

Minggu, 11 Oktober 2026 12:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya
  • Dari Bubur Ayam hingga Nasi Goreng, Ini 5 Tempat Makan 24 Jam di Bandung
  • Persib vs Dewa United: Igor Tolic Waspadai Egy, Tiga Pemain Maung Bandung Berpeluang Pulih
  • Chelsea Bantai Bournemouth 5-1, Henderson dan Joao Pedro Sama-sama Cetak Brace
  • Video Dugaan Bullying di Tel-U Viral, Satgas PPKPT Mulai Turun Tangan
  • Incess Bingung saat Live TikTok, Cerita Panik saat Pertama Kali Dapat Paus
  • Mau Nonton Persib vs Dewa United? Catat Lokasi dan Jam Tukar Tiketnya!
  • Cek Harga Emas Pegadaian Minggu 11 Oktober 2026, Antam Masih Rp2,631 Juta per Gram
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bikin Mewek! Duduk Rapi di Dalam Bus, Tatapan Orangutan Ini Simpan Tragedi Memilukan

By SusanaRabu, 3 Juni 2026 19:45 WIB5 Mins Read
Viral momen haru orangutan naik bus menuju Sekolah Hutan Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah pemandangan yang tak biasa sekaligus menghangatkan hati terekam di kawasan rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Sejumlah orangutan terlihat duduk rapi di dalam sebuah bus, ditemani para pengasuh dan tim dokter hewan, dalam perjalanan menuju lokasi rehabilitasi baru yang lebih tenang dan lebih dekat dengan habitat alami mereka.

Tatapan dari Balik Jendela yang Menyentuh Hati

Video yang diunggah oleh BOS Foundation itu langsung menyita perhatian publik. Dalam rekaman tersebut, ekspresi para orangutan membuat banyak orang terdiam sekaligus terharu.

Ada yang tampak memandangi pemandangan di luar jendela dengan tatapan tenang. Ada yang memegang erat kursi di depannya seolah sedang menikmati perjalanan panjang. Bahkan ada pula yang terlihat bergandengan tangan dengan sesama orangutan maupun pengasuhnya.

Momen sederhana itu ternyata menyimpan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar perjalanan menggunakan bus.

Di balik tatapan polos mereka, tersimpan cerita panjang tentang kehilangan induk, perburuan liar, perdagangan satwa ilegal, hingga habitat yang hilang akibat pembukaan lahan dan kebakaran hutan.

Selain itu, Orangutan dikenal sebagai primata yang memiliki kecerdasan tinggi dan kemampuan observasi yang luar biasa. Mereka mampu mengingat lokasi makanan, mengenali individu lain, bahkan membangun hubungan emosional dengan pengasuh yang merawatnya.

Tak heran jika banyak warganet mengaku tersentuh melihat momen tersebut.

“nak anak forest school, mau tamasya kemana? Sehat-sehat semua anak-anak dan ibu-bapak pengasuh,” tulis akun @kae***.

“Semoga mereka selalu dalam lindungan Tuhan, buat pengasuh-pengasuhnya sehat selalu dan semangat,” komentar akun @rin***.

Sementara akun @mel*** menulis, “LUCU BANGAAATTTTTT YA AMPON LUCU BANGAAATTTTTT!!!”

Bukan Sekadar Naik Bus, Tapi Memulai Kehidupan Baru

Perjalanan tersebut merupakan bagian dari relokasi fasilitas Forest School atau Sekolah Hutan Nyaru Menteng yang dikelola oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS Foundation).

Lokasi baru dirancang lebih alami dan lebih tenang agar para orangutan dapat belajar keterampilan hidup dengan lebih optimal sebelum dilepasliarkan kembali ke alam bebas.

Bagi manusia, berpindah sekolah mungkin hal biasa. Namun bagi orangutan yang sebagian besar merupakan korban konflik manusia dan satwa, perjalanan itu ibarat langkah awal menuju kesempatan kedua dalam hidup.

Mereka bukan sekadar pindah lokasi. Mereka sedang belajar menjadi orangutan liar kembali.

Mayoritas Adalah Korban Ulah Manusia

Banyak masyarakat belum mengetahui bahwa sebagian besar penghuni pusat rehabilitasi bukanlah orangutan yang lahir di penangkaran.

Mereka adalah korban. Sebagian kehilangan induk akibat perburuan. Sebagian ditemukan sendirian setelah kawasan hutan tempat tinggalnya dibuka untuk perkebunan, pertambangan, atau pembangunan.

Tak sedikit pula yang diselamatkan dari perdagangan satwa liar, di mana bayi orangutan dipelihara secara ilegal setelah induknya dibunuh.

Fakta yang jarang terungkap adalah satu bayi orangutan yang berhasil diperjualbelikan biasanya meninggalkan tragedi besar di belakangnya.

Dalam banyak kasus, pemburu harus membunuh induknya terlebih dahulu karena orangutan betina akan mempertahankan anaknya sampai mati.

Akibatnya, satu bayi yang selamat sering kali berarti satu induk telah kehilangan nyawa.

Sekolah yang Mengajarkan Cara Menjadi Orangutan

Berbeda dengan kebun binatang atau pusat penangkaran biasa, Nyaru Menteng memiliki sistem rehabilitasi yang menyerupai sekolah.

Para orangutan harus melalui berbagai tahapan sebelum dinyatakan siap hidup mandiri.

Tahap pertama dikenal sebagai Baby House, tempat bayi orangutan mendapatkan pengasuhan layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya.

Di fase ini, para pengasuh bertindak sebagai ibu pengganti. Mereka mengajari cara memanjat, bermain, dan membangun rasa percaya diri.

Setelah itu, mereka memasuki Forest School. Di sinilah pelajaran sesungguhnya dimulai.

Setiap hari, orangutan dibawa ke kawasan hutan untuk belajar mengenali tumbuhan liar, mencari makanan alami, memanjat pohon tinggi, hingga membuat sarang untuk tidur.

Kemampuan ini sangat penting karena orangutan liar membangun sarang baru hampir setiap malam.

Tahap terakhir adalah pulau pra-pelepasliaran, tempat mereka diuji apakah benar-benar mampu hidup tanpa bantuan manusia.

Menunggu Hari Kembali ke Alam Bebas

Data BOS Foundation menunjukkan ratusan orangutan masih menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng.

Masa rehabilitasi bisa berlangsung sangat lama, bahkan mencapai lima hingga tujuh tahun. Semua tergantung kemampuan masing-masing individu.

Ada yang cepat belajar. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama karena trauma masa lalu atau terlalu lama hidup bersama manusia.

Namun tujuan akhirnya tetap sama. Mereka harus kembali ke hutan. Bukan ke kandang. Bukan menjadi tontonan. Melainkan kembali menjadi bagian dari alam sebagaimana mestinya.

Ancaman Habitat Masih Mengintai

Di balik keberhasilan rehabilitasi, tantangan terbesar justru berada di luar sekolah hutan.

Habitat orangutan terus mengalami tekanan.

Pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, hingga kebakaran hutan menjadi ancaman yang belum sepenuhnya teratasi.

Ketika hutan hilang, orangutan kehilangan sumber makanan dan tempat tinggal.

Mereka akhirnya masuk ke perkebunan atau permukiman warga sehingga memicu konflik dengan manusia.

Ironisnya, banyak orangutan yang masuk pusat rehabilitasi sebenarnya tidak sakit. Mereka hanya kehilangan rumah. Karena itulah konservasi tidak cukup hanya menyelamatkan individu orangutan. Hutan tempat mereka hidup juga harus tetap terjaga.

Perjalanan yang Mengingatkan Manusia

Video orangutan naik bus mungkin hanya berdurasi beberapa menit. Namun pesan yang dibawanya jauh lebih panjang.

Di dalam bus itu duduk makhluk-makhluk yang pernah kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depannya akibat ulah manusia.

Kini mereka diberi kesempatan untuk belajar hidup kembali. Mereka belajar memanjat. Belajar mencari makan. Belajar membuat sarang.

Dan suatu hari nanti, mereka akan belajar mengucapkan selamat tinggal kepada manusia untuk kembali ke hutan yang menjadi rumah sejatinya.

Perjalanan menuju Sekolah Hutan Nyaru Menteng bukan sekadar perpindahan lokasi rehabilitasi.

Itu adalah perjalanan menuju harapan baru bagi satwa yang selama ini menjadi korban perburuan, perdagangan ilegal, dan pembabatan hutan di Kalimantan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya

Video Dugaan Bullying di Tel-U Viral, Satgas PPKPT Mulai Turun Tangan

Viral Dugaan Bullying di Asrama Telkom University, Mahasiswa Pilih Tidur di Lobi

Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.