bukamata.id – Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan pemutakhiran data tingkat kemiskinan nasional per Maret 2026. Berdasarkan laporan tersebut, dinamika kesejahteraan masyarakat di berbagai pulau besar menunjukkan pergeseran yang menarik, di mana Pulau Jawa mendominasi jumlah penduduk prasejahtera secara absolut, sementara Kalimantan mencatatkan rekor paling minim.
Laporan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai sebaran ketimpangan ekonomi di Tanah Air, sekaligus membawa angin segar lewat tren penurunan angka kemiskinan secara nasional dalam kurun waktu setengah tahun terakhir.
Dominasi Pulau Jawa dalam Peta Kemiskinan
Sebagai pusat konsentrasi populasi terpadat di Nusantara, Pulau Jawa secara otomatis menyerap proporsi penduduk miskin terbesar dibanding wilayah regional lainnya.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M Edy Mahmud, memaparkan secara transparan dalam sesi jumpa pers yang digelar pada Selasa (5/8/2026). Ia menegaskan bahwa mayoritas warga prasejahtera di Indonesia masih terpusat di pulau ini.
“Jumlah penduduk miskin masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yaitu sebanyak 12,02 juta atau sekitar 52,42 persen dari keseluruhan penduduk miskin yang ada di Indonesia,” ujar Edy.
Faktor demografi menjadi alasan utama mengapa angka absolut di Jawa melonjak tinggi. Tingginya tingkat kepadatan penduduk secara langsung berdampak pada besarnya jumlah warga yang masuk dalam kategori miskin secara nasional.
Kalimantan Catat Rekor Penduduk Prasejahtera Paling Minim
Berbanding terbalik dengan Jawa, kawasan Kalimantan justru memperlihatkan kondisi sebaliknya. Berdasarkan catatan BPS, wilayah pulau Borneo ini menjadi region dengan jumlah warga miskin paling sedikit di antara pulau-pulau besar lainnya.
Total populasi prasejahtera di Kalimantan berada di angka sekitar 870 ribu jiwa, atau hanya mencakup 3,79 persen dari total keseluruhan penduduk miskin di Indonesia. Capaian ini menempatkan Kalimantan di posisi paling buncit dalam hal jumlah kemiskinan jika dikomparasikan dengan Sumatera, Sulawesi, kepulauan Bali-Nusa Tenggara, hingga kawasan Indonesia Timur meliputi Maluku dan Papua.
Rincian Sebaran Penduduk Miskin per Wilayah (Maret 2026)
Untuk melihat lebih jeli bagaimana distribusi kemiskinan menyebar di berbagai penjuru nusantara, berikut adalah rekapitulasi data resmi yang dirilis oleh BPS:
| Wilayah Regional | Jumlah Penduduk Miskin | Persentase terhadap Nasional |
| Pulau Jawa | 12,02 juta orang | 52,42% |
| Sumatera | 5 juta orang | 21,81% |
| Bali dan Nusa Tenggara | 1,83 juta orang | 7,98% |
| Sulawesi | 1,77 juta orang | 7,72% |
| Maluku dan Papua | 1,44 juta orang | 6,28% |
| Kalimantan | 870 ribu orang | 3,79% |
Data statistik di atas menegaskan bahwa lebih dari setengah total kemiskinan nasional terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan porsi terkecil dipegang teguh oleh wilayah Kalimantan.
Tren Positif: Angka Kemiskinan Nasional Menyusut
Di balik dominasi angka absolut di Pulau Jawa, terselip kabar menggembirakan menyangkut perbaikan taraf hidup masyarakat secara makro. BPS mengonfirmasi adanya reduksi signifikan pada angka kemiskinan nasional.
Sepanjang periode Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia menyentuh angka 22,93 juta jiwa, atau merepresentasikan sekitar 8,07 persen dari total keseluruhan populasi.
Jika ditarik perbandingan dengan posisi data pada September 2025, terjadi penyusutan yang cukup impresif sebanyak 430 ribu jiwa. Angka ini merefleksikan adanya progres positif pada pemulihan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, kendati agenda pengentasan kemiskinan tetap membutuhkan pengawalan intensif dari berbagai pemangku kebijakan.
Penurunan Terdalam Terjadi di Pulau Jawa
Menariknya, meskipun memegang predikat sebagai wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak, Pulau Jawa sekaligus mencatatkan performa terbaik dalam hal kecepatan penurunan tingkat kemiskinan dibanding region lainnya.
Merujuk pada hasil analitis BPS, perbaikan kesejahteraan merata di seluruh wilayah Indonesia sejak September 2025, namun laju penurunan paling masif justru berpusat di Pulau Jawa dengan persentase reduksi mencapai 0,21 persen.
“Jika dibandingkan dengan September 2025, penurunan tingkat kemiskinan terjadi di semua wilayah di Indonesia. Penurunan paling dalam terjadi di Pulau Jawa yaitu turun sebesar 0,21 persen,” pungkas Edy.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










