Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Video Cut Syifa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya

Kamis, 4 Juni 2026 11:05 WIB
ilustrasi bansos

Kurs Rupiah Anjlok ke Rp18.020 per Dolar AS, Pasar Keuangan Beri Sinyal Bahaya?

Kamis, 4 Juni 2026 10:48 WIB

Bukan Matematika! Ini Pelajaran ‘Aneh’ di Pedalaman Papua yang Bikin Netizen Menangis Haru

Kamis, 4 Juni 2026 10:37 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Video Cut Syifa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya
  • Kurs Rupiah Anjlok ke Rp18.020 per Dolar AS, Pasar Keuangan Beri Sinyal Bahaya?
  • Bukan Matematika! Ini Pelajaran ‘Aneh’ di Pedalaman Papua yang Bikin Netizen Menangis Haru
  • Veda Ega Pratama Kembali Tampil! Ini Jadwal MotoGP Hungaria 2026 Lengkap
  • Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi Dadan Hindayana CS, Mark Up Motor Listrik Rp1 Triliun
  • Hatur Nuhun Kurzawa! Bek Eks PSG Resmi Berpisah dengan Persib
  • Update Harga Emas Antam Hari Ini 4 Juni 2026: Turun Rp15.000 per Gram
  • Bosan dengan Rutinitas? Ini 5 Destinasi Wisata Hits di Bogor yang Wajib Kamu Kunjungi Akhir Pekan Ini!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 4 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bukan Matematika! Ini Pelajaran ‘Aneh’ di Pedalaman Papua yang Bikin Netizen Menangis Haru

By Aga GustianaKamis, 4 Juni 2026 10:37 WIB9 Mins Read
Siswa di Papua belajar memasak. (Foto; Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jauh di balik gugusan pegunungan tengah Papua, di mana kabut tipis sering kali turun menyapa atap-atap rumah kayu dan dinginnya angin berembus membelah lembah, sebuah aktivitas tidak biasa sedang berlangsung di sebuah selasar bangunan sederhana. Tidak ada suara riuh mesin perkotaan, tidak ada layar gawai canggih yang berkedip-kedip, dan tidak ada proyektor digital yang memantulkan materi pelajaran ke dinding kelas. Yang ada hanyalah suara tawa renyah anak-anak, aroma gurih adonan yang digoreng, dan percikan semangat yang menyala di mata mereka.

Di Sekolah Lentera Harapan (SLH) Mamit, yang terletak di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, pendidikan sedang didefinisikan ulang dengan cara yang paling murni. Ruang kelas tidak lagi disekat oleh batas kaku papan tulis dan deretan bangku kayu. Hari itu, selasar sekolah disulap menjadi sebuah laboratorium kehidupan yang dinamis, penuh warna, dan sarat akan makna.

Sebuah rekaman video yang diunggah oleh akun Instagram @diaryelbyins baru-baru ini membuka mata publik tentang potret nyata perjuangan literasi dan pembentukan karakter di pedalaman Papua. Melalui lensa kamera tersebut, kita diperlihatkan sosok Elby Sikombong, seorang guru perempuan yang dengan penuh ketelatenan, kesabaran, dan limpahan kasih sayang sedang memandu anak-anak didiknya. Ia tidak sedang mengajarkan rumus matematika yang rumit atau meminta mereka menghafal teks sejarah yang asing bagi dunia mereka. Elby sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berharga untuk masa depan mereka: kemandirian, kerja sama, dan cara menghargai berkat dari tanah kelahiran mereka sendiri.

Filosofi Pendidikan Merdeka: Lebih dari Sekadar Buku Teks

Bagi masyarakat di kota besar, bersekolah mungkin identik dengan fasilitas lengkap, seragam rajat, dan kurikulum digital. Namun, bagi Elby Sikombong dan para pendidik di pelosok negeri, esensi menjadi seorang guru jauh melampaui tugas mentransfer ilmu pengetahuan yang tertera di dalam buku teks.

“Menjadi guru di daerah bukan sekadar mentransfer ilmu dari buku, tapi juga tentang bagaimana membentuk karakter dan kemandirian anak-anak,” ungkap Elby dalam narasi yang menyertai unggahan videonya.

Pernyataan ini bukan sekadar pemanis kata, melainkan sebuah manifestasi dari prinsip Pendidikan Merdeka yang sesungguhnya. Di daerah dengan keterbatasan akses logistik dan infrastruktur seperti Tolikara, memaksakan metode pembelajaran berbasis hafalan teoritis sering kali tidak relevan dengan kebutuhan hidup nyata anak-anak. Oleh karena itu, Elby memilih mendekatkan kurikulum sekolah dengan denyut nadi kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Anak-anak Papua di Lembah Mamit sangat akrab dengan kebun, tanah, dan hasil bumi. Mengapa tidak membawa kebun itu ke dalam ruang kelas? Mengapa tidak mengubah hasil bumi yang mereka tanam bersama orang tua mereka menjadi media pembelajaran interaktif? Dari sinilah sebuah proyek kolaborasi yang luar biasa lahir.

Gotong Royong Lintas Usia: Ketika TK dan Kelas 6 Memasak Bersama

Salah satu pemandangan paling menyentuh dalam rangkaian video tersebut adalah runtuhnya sekat-sekat perbedaan usia demi sebuah tujuan bersama. Proses pembelajaran hari itu melibatkan kolaborasi yang sangat apik antara anak-anak usia dini di jenjang TK A dengan kakak-kakak kelas mereka yang berada di Kelas 6 SD.

Baca Juga:  Hanya Ada di Indonesia! Jalan Menuju Sekolah yang Juga Jadi Landasan Pacu Pesawat Aktif!

Pembelajaran dimulai secara kontekstual sejak dari hulu. Anak-anak TK A dengan langkah-langkah kecil mereka yang menggemaskan, berjalan beriringan melintasi selasar sekolah. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam erat ikat-ikatan sayur hijau segar yang baru saja dipetik dari kebun sekolah. Sayuran itu bukan untuk mereka makan sendiri, melainkan sebuah “hadiah kolaborasi” yang mereka antarkan langsung ke ruang kelas kakak-kakak Kelas 6.

Sesampainya di dalam ruangan, sayuran tersebut disambut dengan senyum lebar dan sorak-sorai penuh antusias. Di sinilah proses pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dimulai. Anak-anak Kelas 6 membagi tugas mereka ke dalam beberapa kelompok kecil dengan pembagian peran yang sangat adil dan terstruktur.

Di sudut pertama, terlihat tiga orang anak laki-laki sedang berjongkok mengelilingi sebuah tungku darurat dengan wajan besar di atasnya. Mereka berbagi tugas dengan sangat kompak: ada yang bertugas menuangkan adonan sayur ke dalam minyak panas, ada yang menjaga kestabilan api, dan ada pula yang dengan telaten membolak-balik bakwan agar matang secara merata dan berwarna kuning keemasan. Asap tipis yang membubung dari tungku kayu bakar tersebut seolah membawa serta harapan-harapan besar mereka yang sedang dirajut lewat sepotong bakwan sayur.

Sementara itu, di sudut selasar yang lain, sekelompok siswa sedang sibuk bergelut dengan adonan berwarna putih dan hijau. Hari itu, mereka belajar mengolah ubi—salah satu makanan pokok yang paling melimpah di tanah Papua—menjadi penganan modern berupa donat ubi dan bakpao isi kacang yang lembut. Menggunakan mangkuk-mangkuk plastik sederhana, tangan-tangan terampil anak-anak ini dengan cekatan membentuk adonan ubi menjadi bulatan-bulatan donat yang rapi, lengkap dengan lubang di tengahnya, lalu membalurinya dengan taburan tepung putih. Tawa mereka sesekali pecah saat melihat ada adonan donat yang ukurannya terlalu besar atau bentuknya yang sedikit jenaka.

Belajar Berwirausaha Lewat Karton dan Pensil Warna

Pembelajaran tidak berhenti sampai di urusan dapur. Setelah semua hidangan—mulai dari bakpao hijau isi kacang yang cantik, donat ubi yang empuk, hingga bakwan sayur yang renyah—selesai dimasak, Elby Sikombong mengajak anak-anak didikannya melangkah ke tahap berikutnya: kewirausahaan dan komunikasi publik (presentasi).

Di atas selembar kertas karton putih berukuran besar yang dihamparkan di lantai, anak-anak ini menumpahkan kreativitas mereka. Tanpa bantuan aplikasi desain komputer, mereka mengandalkan pensil warna, spidol, dan imajinasi murni. Mereka menggambar ilustrasi bakpao dan donat, lalu menuliskan informasi produk dengan tulisan tangan yang rapi dan penuh warna.

Di salah satu sudut karton, tertulis slogan promosi yang jujur dan menggemaskan: “Ayo…! Beli. Bakpao Lembut Rasa Enak.” Mereka juga menuliskan resep, bahan-bahan yang digunakan, hingga langkah-langkah pembuatan (procedure text) sebagai bagian dari materi pelajaran bahasa dan sains yang diintegrasikan secara halus ke dalam praktik memasak tersebut.

Baca Juga:  Hanya Ada di Indonesia! Jalan Menuju Sekolah yang Juga Jadi Landasan Pacu Pesawat Aktif!

Ketika tiba waktunya untuk mempresentasikan hasil karya, suasana kelas berubah menjadi ajang unjuk rasa percaya diri. Satu per satu kelompok berdiri di depan meja yang telah ditata rapi seperti etalase toko darurat. Di atas meja tersebut, produk-produk makanan yang sudah dikemas rapi dalam plastik bening disajikan dengan apik.

Dengan memegang kertas karton promosi mereka, anak-anak ini menjelaskan proses pembuatan bakpao dan donat dengan mata yang berbinar-binar dan dada yang membusung bangga. Kehadiran para guru lain, termasuk kepala sekolah dan rekan pendidik, yang bertindak sebagai “pembeli” membuat simulasi pasar ini terasa sangat nyata dan mendebarkan bagi mereka. Tawa riang kembali pecah saat mereka berhasil menjawab pertanyaan dari para guru dengan penuh antusias dan keluguan khas anak-anak pedalaman.

Melalui simulasi sederhana ini, anak-anak Tolikara tidak hanya belajar bagaimana cara menghasilkan sebuah produk makanan, tetapi mereka juga belajar tentang nilai sebuah proses, esensi kerja keras, cara berkomunikasi di depan umum, serta dasar-dasar ilmu ekonomi tentang bagaimana memproduksi dan memasarkan sesuatu secara mandiri.

Mengikis Keterbatasan dengan Kasih Sayang

Melihat potret pendidikan di Sekolah Lentera Harapan Mamit ini memberikan kita sebuah tamparan sekaligus refleksi mendalam mengenai kondisi pendidikan nasional. Sering kali, kita terlalu fokus mengeluhkan kurangnya fasilitas fisik, minimnya perangkat teknologi, atau lambatnya distribusi buku pelajaran ke daerah-daerah terpencil. Namun, apa yang ditunjukkan oleh Elby Sikombong membuktikan bahwa variabel paling penting dalam dunia pendidikan bukanlah benda mati, melainkan jiwa dan semangat dari sang pendidik itu sendiri.

Dengan fasilitas yang sangat terbatas dan kesederhanaan alat masak yang digunakan, Elby mampu menciptakan sebuah momen pembelajaran yang tidak hanya bermutu tinggi secara akademis, tetapi juga sangat menyenangkan dan membekas di dalam sanubari anak-anak. Proses belajar yang dibalut dengan penuh kasih sayang dan kehangatan interaksi interpersonal antara guru dan murid terbukti mampu meruntuhkan segala keterbatasan fisik yang ada.

Anak-anak ini belajar bahwa ubi dan sayuran yang tumbuh di halaman rumah mereka bukanlah sekadar makanan pengisi perut belaka. Mereka belajar bahwa hasil bumi mereka memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika diolah dengan kreativitas dan pengetahuan. Ini adalah fondasi penting untuk membangun mentalitas “mental juara” dan rasa bangga terhadap identitas serta tanah kelahiran mereka sendiri, sehingga kelak ketika mereka dewasa, mereka tidak merasa inferior atau tertinggal dari anak-anak yang tumbuh di kota-kota besar.

Resonansi Positif di Dunia Maya: Harapan untuk Masa Depan Papua

Potret kehangatan dan ketulusan dari ruang kelas di Tolikara ini rupanya berhasil menyentuh hati ribuan pasang mata di jagat maya. Tak butuh waktu lama setelah video tersebut diunggah oleh akun @diaryelbyins, kolom komentar langsung dibanjiri oleh gelombang apresiasi, rasa haru, dan untaian doa dari netizen di berbagai penjuru Indonesia. Banyak warganet yang mengaku meneteskan air mata haru melihat kontrasnya kebahagiaan anak-anak Papua di tengah segala keterbatasan fasilitas yang mereka miliki.

Baca Juga:  Bukan untuk Orang Lemah! Intip Realita 'Jalur Poros' Siswa di Pedalaman Asmat Papua

Seorang netizen mencoba mencairkan suasana haru dengan memberikan pantun jenaka sekaligus pujian yang tinggi bagi dedikasi sang guru:

“Enaknya makan bakwan panas panas. keren ibu guru mengajarkanku banyak hal pada anak anak, semangat terus ibu,” tulisnya di kolom komentar.

Ada pula warganet yang memandang aksi nyata ini sebagai refleksi dari cita-cita luhur sistem pendidikan nasional yang sedang digaungkan oleh pemerintah, yaitu kemandirian berpikir dan kebebasan mengeksplorasi potensi diri tanpa terkekang oleh metode konvensional yang kaku.

“Keren ibu. Ini yang disebut pendidikan merdeka,” puji seorang netizen dengan nada kagum.

Bagi sebagian besar netizen, video ini bukan sekadar hiburan visual di media sosial, melainkan sebuah simbol harapan baru bagi masa depan tanah Papua yang sering kali dicitrakan negatif atau tertinggal dalam berbagai aspek pembangunan. Doa-doa tulus pun mengalir deras agar keadilan sosial di bidang pendidikan bisa segera merata hingga ke pelosok terdalam bumi Cendrawasih.

“Semangat adik adiiiik❤️ semoga papua semakin maju dan bisa dipenuhi dengan pendidikan bermutu kedepannya aamiin ya rabbal alamiin,” ujar seorang netizen dengan penuh harap.

Kesimpulan: Menyalakan Lilin di Tengah Kegelapan

Kisah dari Sekolah Lentera Harapan Mamit, Tolikara, memberikan sebuah pesan kuat kepada kita semua: daripada mengutuk kegelapan, jauh lebih baik jika kita mulai menyalakan lilin. Elby Sikombong adalah salah satu dari sekian banyak lilin-lilin kecil yang terus menyala dengan setia di berbagai pelosok terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) di Indonesia.

Melalui ketelatenannya membimbing anak-anak Papua mengolah bakpao, donat, dan bakwan, ia sedang menanamkan benih-benih karakter yang kuat. Benih-benih itu berupa rasa percaya diri bahwa mereka mampu, jiwa gotong royong yang tidak mementingkan diri sendiri, serta kemandirian untuk menciptakan peluang hidup di masa depan. Tawa ceria anak-anak Papua yang pecah di akhir video tersebut adalah sebuah konfirmasi bahwa di tangan guru yang tepat, pendidikan akan selalu menjadi sebuah petualangan yang indah dan membahagiakan.

Hormat, apresiasi, dan salut setinggi-tingginya layak kita sematkan untuk Elby Sikombong dan seluruh guru hebat di seluruh pelosok negeri. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya, yang dengan setia dan penuh dedikasi terus merawat asa serta menenun masa depan anak-anak bangsa demi Indonesia yang lebih maju, adil, dan bermartabat. Dari Lembah Mamit, Tolikara, seberkas cahaya literasi telah terpancar, mengingatkan kita semua bahwa mutiara hitam dari timur Indonesia siap bersinar dan mengguncang dunia dengan kemandiriannya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

elby sikombong guru hebat Pendidikan Papua sekolah lentera harapan mamit Tolikara
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Video Cut Syifa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya

Update Harga Emas Antam Hari Ini 4 Juni 2026: Turun Rp15.000 per Gram

Devoyage Bogor, salah satu wisata di Bogor yang Instagramble banget.

Bosan dengan Rutinitas? Ini 5 Destinasi Wisata Hits di Bogor yang Wajib Kamu Kunjungi Akhir Pekan Ini!

Heboh! Vell TikTok Blunder Viral di X, Link Video 8 Menit Jadi Buruan Warganet

Jangan Klik Sembarangan! Link Video Rok Hijau Tosca Diduga Berbahaya

Klaim Gratis! Ambil Kode Redeem FC Mobile Hari Ini 4 Juni 2026 Sebelum Kedaluwarsa

Terpopuler
  • Video Rok Hijau Tosca di Dapur Viral! Ini Fakta Sebenarnya di TikTok
  • Video ‘Rok Hijau 3 Menit’ Viral, Link Mencurigakan Mulai Menjebak Warganet
  • Video ‘Rok Hijau Tosca’ 3 Menit Bikin Heboh Warganet, Ternyata Ini yang Terjadi
  • Rok Hijau Tosca Viral Gegerkan TikTok, Link Asli Bikin Penasaran Warganet
  • Nama Vell Mendadak Trending Lagi, Benarkah Ada Video Viral Berdurasi 10 Menit?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.