bukamata.id – Suaranya bergetar, dan air matanya jatuh di podium. Dalam bahasa Arab yang fasih, seorang wisudawati asal Indonesia menyampaikan rasa syukurnya di hadapan para syekh dan dosen Universitas Al-Azhar, Kairo.
Wisudawati itu adalah Yelly Putriyani, perempuan asal Nagari Balai Gurah, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Momen haru itu kemudian menyebar luas di media sosial Mesir, bahkan diunggah oleh akun resmi Al-Azhar.
Pidato tersebut membawanya pada kehormatan yang jarang didapat mahasiswa asing, yaitu bertemu langsung dengan Imam Besar Al-Azhar dan diberi kesempatan melanjutkan studi magister (S2).
Namun, kisah Yelly tidak dimulai di podium wisuda. Jauh sebelumnya, ia sudah lebih dulu mengharumkan nama Indonesia lewat hafalan Al-Qur’an.
Air Mata di Podium Wisuda Al-Azhar
Wisuda Universitas Al-Azhar pada 25 Januari 2026 awalnya berjalan seperti seremoni akademik pada umumnya. Suasana berubah ketika Yelly, yang dipercaya mewakili para wisudawati asing, naik ke podium.
Lulusan jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini menyampaikan pidato dengan bahasa Arab formal. Di tengah pidatonya, emosinya tak tertahan. Kata-kata syukur yang ia ucapkan mengalir apa adanya, tanpa dibuat-buat.
Momen itu direkam dan diunggah ke berbagai platform media sosial Mesir. Banyak warganet Mesir ikut tersentuh, karena pidato Yelly bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan cerita seorang perantau yang berjuang menuntut ilmu jauh dari rumah.
Diterima Langsung Imam Besar Al-Azhar
Viralnya pidato itu tidak berhenti sebagai sensasi di media sosial. Al-Azhar mengungkapkan bahwa Imam Besar Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al-Tayyib, menerima Yelly yang memang menyampaikan keinginan untuk bertemu.
Pertemuan berlangsung hangat. Dalam pertemuan itu, Syekh Al-Azhar memberikan arahan khusus untuk Yelly.
“Beliau (Syaikh Al-Azhar) kemudian memberikan arahan agar Yelly diberi kesempatan melanjutkan studi Magister di Al-Azhar, sebagai bentuk dukungan terhadap perjalanan akademisnya,” tulis Al-Azhar melalui akun resminya di media sosial X, Kamis (29/1/2026).
Syekh Al-Azhar juga menyebut Yelly sebagai teladan bagi perempuan Muslim.
“Syekh Al-Azhar menekankan bahwa Yelly merupakan teladan yang membanggakan bagi perempuan Muslim, yang mampu berkontribusi bagi kemajuan masyarakat melalui ilmu dan pengetahuan,” tulis Al-Azhar.
Al-Azhar berharap lulusan seperti Yelly dapat menjadi contoh alumni yang menyebarkan pesan moderasi, baik di negara asal maupun ke seluruh dunia.
Bagi Yelly, pertemuan itu adalah jawaban atas doa panjang. Ia mengaku sangat bahagia, karena bertemu langsung dengan pemimpin tertinggi Al-Azhar adalah keinginan yang ia simpan sejak awal kuliah di Kairo.
Pidato yang Menyentuh Hati
Dalam pidatonya, Yelly berterima kasih kepada para syekh dan dosen yang telah mengajarkan ilmu dan adab, serta menanamkan cinta pada bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.
Ia juga mengingat kedua orang tuanya di Indonesia.
“Setelah Allah, merekalah sebab saya bisa sampai pada tingkatan ini melalui doa, dorongan, dan pengorbanan mereka,” ucapnya.
Yelly lalu mengenang hari pertama menginjakkan kaki di Mesir dengan perasaan campur aduk antara takut dan harap. Bagian paling menyentuh dari pidatonya adalah ketika ia bercerita tentang makna merantau.
“Semakin jauh kami dari tanah air, semakin kami merasakan nikmatnya dekat dengan Allah,” tuturnya.
Ia juga tidak melupakan teman-teman seperjuangan dan para mahasiswi Mesir yang membantunya memahami pelajaran. Menurutnya, kebaikan mereka mencerminkan kemurahan hati rakyat Mesir.
Di akhir pidato, Yelly berdoa agar kelulusan itu menjadi awal jalan baru untuk mengabdi pada agama dan menyebarkan ilmu setibanya di tanah air.
Dari Balai Gurah, Berbekal Beasiswa Baznas
Yelly lahir pada 17 Maret 2003. Sebelum berangkat ke Mesir, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi, dan termasuk angkatan Suluah Palito 111.
Ia kemudian berangkat ke Kairo sebagai penerima beasiswa Baznas pusat. Di Universitas Al-Azhar, ia kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah, jurusan Bahasa dan Sastra Arab.
Bekal bahasanya sudah disiapkan sejak di Tanah Air. Yelly berhasil mencapai level tiga dalam tes kemampuan dasar bahasa Arab yang diselenggarakan Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) di Jakarta.
Cinta terhadap Al-Qur’an sudah melekat dalam dirinya sejak kecil. Kecintaan itulah yang menjadi alasan utamanya memilih bidang bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an.
Juara 1 Tahfiz Al-Qur’an di Tahun-Tahun Awal Kuliah
Prestasi Yelly di Mesir sudah terlihat sejak awal masa kuliahnya. Pada 2022, ia memberanikan diri mengikuti lomba hafalan Al-Qur’an kategori 7,5 juz yang diselenggarakan Rumah Quran Masjid Shalih Ja’fari.
Persaingannya ketat. Yelly harus berhadapan dengan sekitar 70 peserta perempuan dari berbagai negara, termasuk Mesir, Thailand, dan Nigeria.
Ia sempat gugup. Namun, Yelly menguatkan hati dengan membaca basmalah dan menyerahkan semua usahanya kepada Allah.
Keberanian itu berbuah manis. Yelly keluar sebagai juara pertama kategori perempuan.
Atas prestasinya, ia menerima mushaf tahajud berukuran besar, piagam penghargaan, serta tabungan senilai 500 pound Mesir. Bagi Yelly, yang paling berharga bukanlah hadiahnya, melainkan kesempatan membawa nama kampung halaman ke panggung internasional, meski saat itu ia baru memulai perjalanan kuliahnya.
Empat Tahun Tak Pulang demi Ilmu
Ada satu pengorbanan yang jarang terlihat di balik prestasi Yelly. Selama empat tahun kuliah, ia tidak pernah pulang ke Indonesia.
Keputusan itu bukan karena ia tidak rindu keluarga. Yelly memilihnya dengan sadar, demi fokus menuntut ilmu.
Rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun itulah yang akhirnya pecah menjadi air mata di podium wisuda.
Inspirasi dari Agam untuk Generasi Muda
Kisah Yelly Putriyani menunjukkan bahwa prestasi besar lahir dari proses panjang yang sering kali sunyi. Ia tekun menjaga hafalan, berani bersaing dengan peserta dari berbagai negara, dan sabar menahan rindu bertahun-tahun.
Dari Balai Gurah ke Kairo, dari juara tahfiz hingga podium wisuda, Yelly membuktikan bahwa anak muda dari daerah pun bisa mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.
Kini, dengan kesempatan S2 dari Syekh Al-Azhar, perjalanan ilmunya masih terus berlanjut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










