bukamata.id – Nama Hanania Group dalam beberapa tahun terakhir identik dengan wajah baru industri perjalanan umrah di Indonesia. Berbeda dengan biro perjalanan konvensional yang menyasar segmen keluarga dan usia matang, Hanania hadir membawa konsep yang lebih segar: umrah untuk generasi milenial dan Gen Z.
Melalui promosi masif di media sosial, kolaborasi dengan influencer, publik figur, hingga konten visual yang modern, Hanania berhasil mengubah persepsi sebagian masyarakat bahwa ibadah umrah tidak lagi identik dengan kelompok usia tertentu.
Namun pada pertengahan 2026, citra tersebut runtuh seketika.
Polda Metro Jaya resmi menetapkan Direktur Utama Hanania Group, Ahmad Syah Farhan Rachman alias ASF, sebagai tersangka kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana perjalanan umrah. Penetapan tersangka dilakukan pada 29 Mei 2026 setelah polisi menerima laporan dari para calon jemaah yang gagal diberangkatkan ke Tanah Suci meski telah melunasi biaya perjalanan.
Kasus ini bukan hanya mengguncang industri travel umrah nasional, tetapi juga mengingatkan publik pada salah satu skandal terbesar dalam sejarah perjalanan religi Indonesia: First Travel.
Bermula dari Mimpi Mahasiswa Indonesia di Kairo
Sebelum terseret kasus hukum, Hanania dikenal sebagai salah satu pemain paling agresif dalam industri perjalanan umrah.
Perusahaan yang berada di bawah PT Khazanah Tamma Internasional itu berdiri pada 2018. Konsep awalnya lahir dari gagasan sejumlah mahasiswa Indonesia di Kairo yang ingin menghadirkan layanan umrah dengan biaya lebih terjangkau dan pendekatan lebih modern.
Ide tersebut mendapat sambutan positif.
Saat banyak biro perjalanan masih mengandalkan pemasaran konvensional, Hanania justru membangun identitas digital yang kuat. Akun media sosial mereka dipenuhi dokumentasi perjalanan profesional, video sinematik, testimoni jemaah, hingga berbagai program kreatif yang menyasar generasi muda.
Mereka tidak hanya menjual perjalanan ibadah.
Hanania menjual pengalaman.
Konsep “Umrah Mewah Harga Pas” menjadi salah satu slogan yang paling sering muncul dalam berbagai kampanye pemasaran perusahaan.
Strategi Gen Z yang Membuat Hanania Tumbuh Pesat
Dalam waktu relatif singkat, Hanania berkembang menjadi salah satu travel umrah yang cukup dikenal di Indonesia.
Mereka membuka kantor cabang di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, hingga Makassar.
Tidak hanya itu, perusahaan juga memperkenalkan berbagai inovasi yang saat itu dianggap berbeda dibanding kompetitor.
Ada layanan fotografer profesional selama perjalanan ibadah.
Ada program Umroh Entrepreneur Journey yang menggabungkan ibadah dengan edukasi bisnis.
Ada pula paket perjalanan yang memasukkan destinasi tambahan seperti Dubai.
Bahkan sejumlah figur publik dan influencer populer tercatat pernah menggunakan layanan mereka.
Nama-nama seperti Karin Novilda, Keanu Angelo, hingga Lula Lahfah sempat muncul dalam berbagai publikasi dan promosi perusahaan.
Di tengah tren media sosial yang semakin dominan, strategi tersebut terbukti efektif.
Menurut berbagai publikasi perusahaan, jumlah jemaah yang diberangkatkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Hanania bahkan pernah mengklaim memberangkatkan sekitar 10 ribu jemaah pada 2024 dan menggelar acara Hanania Fest yang dihadiri puluhan ribu peserta.
Di mata publik, Hanania tampak seperti kisah sukses startup travel religi yang berhasil membaca kebutuhan pasar baru.
Namun di balik pertumbuhan pesat itu, sejumlah tanda tanya ternyata mulai bermunculan.
Munculnya Kritik dan Peringatan dari Dalam Lingkaran Bisnis
Seiring mencuatnya kasus Hanania, berbagai unggahan lama di media sosial kembali menjadi perhatian publik.
Salah satunya berasal dari seseorang yang mengaku pernah menjadi rekan kerja dan mitra bisnis perusahaan tersebut.
Dalam unggahannya yang kembali beredar luas, ia mengaku telah melihat sejumlah persoalan internal sejak beberapa tahun lalu dan mengklaim sudah memperingatkan potensi masalah yang kini menjadi kenyataan.
“Ribuan jemaah gagal berangkat, uang ratusan miliar entah ke mana, dan owner Travel Hanania (Farhan) kini digiring ke Polda. Banyak yang kaget kok bisa travel se-viral ini hancur? Sebagai mantan partner pertamanya di tahun 2020 untuk menjalani travel umroh dengan positioning travelnya milenial, jujur… saya tidak kaget. Bom waktu ini sudah saya prediksi 6 tahun lalu,” dikutip dari utas @alfachmi.
Kemunculan unggahan tersebut menunjukkan bahwa kontroversi mengenai pengelolaan bisnis Hanania ternyata bukan isu yang sepenuhnya baru.
Sejumlah warganet juga mulai mempertanyakan model ekspansi perusahaan yang dinilai sangat agresif dalam beberapa tahun terakhir.
“diamnya orang yg terzolimi benar2 dibayar kontan sama Allah suami saya jg ada kasus berhubungan sm travel yg pernah dia bangun bersama partnernya yg penuh kezaliman, skrg partnernya bisa diblg hancur&berkali2 nipu orang, yg namanya tabiat emg susah hilang…” tulis akun @alfiani.wlndr.
Ketika Promosi Besar Menjadi Bumerang
Dalam berbagai kesaksian korban yang beredar, salah satu faktor yang membuat mereka percaya kepada Hanania adalah citra profesional perusahaan.
Promosi dilakukan secara masif. Influencer digunakan secara intensif. Testimoni keberangkatan terus dipublikasikan.
Program diskon dan bonus ditawarkan kepada calon jemaah yang melakukan pelunasan lebih awal.
Bagi sebagian calon jemaah, strategi tersebut justru menjadi bukti bahwa perusahaan memiliki kondisi finansial yang sehat.
Namun dalam berbagai keterangan korban yang muncul setelah kasus ini mencuat, terdapat dugaan bahwa biaya promosi yang sangat besar justru menjadi salah satu faktor yang membebani keuangan perusahaan.
Beberapa korban mengaku mendengar langsung pengakuan pihak manajemen saat proses mediasi bahwa perusahaan mengalami tekanan finansial sejak 2025 akibat tingginya biaya operasional dan pemasaran.
Pernyataan tersebut masih menjadi bagian dari keterangan para korban dan belum diuji dalam proses persidangan.
Dalih Perang Iran dan Fakta yang Mulai Terungkap
Masalah mulai terlihat ketika keberangkatan sejumlah kloter pada Maret hingga Juli 2026 mendadak tertunda.
Awalnya, pihak perusahaan disebut menjelaskan bahwa kondisi geopolitik Timur Tengah menjadi penyebab utama.
Perang Iran dan situasi regional disebut sebagai faktor force majeure yang membuat keberangkatan tidak dapat dilakukan sesuai jadwal.
Namun seiring waktu, sejumlah jemaah mulai menemukan kejanggalan.
Mereka mengaku melakukan pengecekan mandiri terhadap tiket penerbangan dan hotel yang seharusnya telah dipesan.
Dari penelusuran tersebut muncul dugaan bahwa sebagian layanan perjalanan belum pernah diterbitkan meski jemaah telah melunasi pembayaran.
Temuan itulah yang kemudian memicu gelombang laporan polisi.
Dugaan Skema Gali Lubang Tutup Lubang
Salah satu tuduhan paling serius yang muncul dari para korban adalah dugaan penggunaan dana jemaah baru untuk menutupi kewajiban keberangkatan jemaah lama.
Dalam berbagai pernyataan kepada media, sejumlah korban menyebut praktik tersebut mirip dengan skema “gali lubang tutup lubang”.
Menurut pengakuan para korban, uang yang masuk dari pendaftar baru diduga digunakan untuk menutup kekurangan biaya keberangkatan yang telah terjadi sebelumnya.
Jika dugaan tersebut terbukti dalam proses hukum, maka pola tersebut memiliki kemiripan dengan sejumlah kasus travel bermasalah yang pernah terjadi di Indonesia.
Namun hingga kini, polisi masih mendalami aliran dana dan mekanisme keuangan perusahaan.
Jejak Kemewahan yang Kini Dipertanyakan
Di tengah penyidikan yang berlangsung, publik mulai menyoroti berbagai aktivitas promosi dan gaya branding Hanania selama masa kejayaannya.
Dokumentasi perjalanan mewah, acara besar, penggunaan influencer, hingga berbagai kampanye pemasaran berbiaya tinggi kembali menjadi bahan perbincangan.
Sebagian netizen mempertanyakan apakah ekspansi agresif dan strategi promosi tersebut sejalan dengan kondisi keuangan perusahaan saat itu.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada temuan resmi dari aparat penegak hukum yang menyatakan adanya pelanggaran terkait gaya hidup atau penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Karena itu, seluruh dugaan mengenai gaya hidup pemilik maupun manajemen masih harus menunggu hasil penyidikan lebih lanjut.
Mengingat Kembali Bayang-Bayang First Travel
Kasus Hanania membuat banyak masyarakat langsung teringat pada First Travel.
Pada 2017, Indonesia diguncang skandal besar ketika puluhan ribu calon jemaah gagal diberangkatkan ke Tanah Suci.
Kerugian yang ditimbulkan mencapai sekitar Rp905 miliar dengan lebih dari 63 ribu korban.
Saat itu, First Travel juga tumbuh sangat cepat.
Mereka menawarkan paket menarik, promosi besar-besaran, penggunaan figur publik, dan harga yang dianggap kompetitif.
Jumlah jemaah meningkat drastis setiap tahun.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, perusahaan ternyata mengalami persoalan keuangan serius yang berujung pada gagal berangkatnya ribuan calon jemaah.
Meski skala dan konstruksi hukumnya berbeda, kemiripan pola inilah yang membuat banyak pihak membandingkan Hanania dengan First Travel.
Keduanya sama-sama membangun citra kuat melalui pemasaran modern.
Keduanya berkembang pesat dalam waktu singkat.
Dan keduanya akhirnya menghadapi tuduhan serius terkait pengelolaan dana jemaah.
Menunggu Babak Berikutnya
Saat ini, penyidikan kasus Hanania masih terus berlangsung.
Polda Metro Jaya masih mendalami kemungkinan adanya korban tambahan serta menelusuri total kerugian yang ditimbulkan.
Bagi ribuan calon jemaah, persoalan ini bukan sekadar angka miliaran rupiah.
Di balik setiap pembayaran terdapat tabungan bertahun-tahun, hasil menjual aset, hingga impian keluarga untuk beribadah ke Tanah Suci.
Sebagian korban mengaku telah mempersiapkan keberangkatan selama bertahun-tahun.
Sebagian lainnya bahkan mendaftarkan seluruh anggota keluarga dengan nilai pembayaran mencapai ratusan juta rupiah.
Kini, mereka hanya bisa menunggu proses hukum berjalan dan berharap dana yang telah disetorkan dapat kembali.
Sementara itu, kasus Hanania menjadi pengingat bahwa dalam industri perjalanan ibadah, kepercayaan adalah aset terbesar sekaligus yang paling mudah hancur ketika pengelolaan bisnis tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









