Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Baru Kembali Berlatih, Luciano Guaycochea Langsung Kirim Sinyal Bahaya untuk Rival Persib

Senin, 13 Juli 2026 01:00 WIB

Densus 88 Geledah Kontrakan Pedagang Es Teh Usai Ledakan Dadaha

Minggu, 12 Juli 2026 21:25 WIB

Luka Menalo Bongkar Alasan Pilih Persib, Pengakuannya soal Bobotoh Bikin Bangga!

Minggu, 12 Juli 2026 21:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Baru Kembali Berlatih, Luciano Guaycochea Langsung Kirim Sinyal Bahaya untuk Rival Persib
  • Densus 88 Geledah Kontrakan Pedagang Es Teh Usai Ledakan Dadaha
  • Luka Menalo Bongkar Alasan Pilih Persib, Pengakuannya soal Bobotoh Bikin Bangga!
  • Demi Viral Berujung Penjara? Lagu Vulgar Icha Chellow Akhirnya Diseret ke Jalur Hukum
  • Ledakan Keras Hancurkan Toko Bangunan di Purwakarta, Satu Korban Meninggal Dunia
  • Persib Punya Skuad Mewah, Adam Alis Pede Bisa Bersaing di Empat Kompetisi
  • Lansia di Cimahi yang Sempat Hilang Ditemukan Tewas di Sumur Sedalam 14 Meter
  • Empat Raksasa Lolos! Ini Jadwal Lengkap Semifinal Piala Dunia 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 13 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dedi Mulyadi: Gubernur Rasa Raja di Jabar

By Aga GustianaSabtu, 3 Mei 2025 15:20 WIB5 Mins Read
Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Rafki Razif/bukamata.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi pusat perhatian. Ia dinilai kerap melontarkan wacana spontan yang berujung kontroversi, seolah-olah memiliki kekuasaan mutlak layaknya seorang “raja” di Jawa Barat. Hal ini memicu kritik tajam dari berbagai kalangan, yang mempertanyakan pendekatan kurang terukur dalam pengambilan kebijakan.

Salah satu contoh yang menjadi sorotan adalah gaya duduk Dedi Mulyadi saat bertemu dengan Bupati Indramayu, Lucky Hakim. Dalam video yang viral di TikTok @luckyhakimpedia, Dedi terlihat duduk santai dengan kaki kanan diangkat lebih tinggi dan bersandar di kursi, berbeda dengan Lucky Hakim yang duduk tegap. Gaya duduk ini memicu komentar dari netizen yang menyebutnya “kaya raja”.

Kontroversi terbaru muncul saat Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau akrab disapa Om Zein, mengantar siswa bermasalah untuk dibina di barak militer TNI. Dalam video yang diunggah Dedi Mulyadi di Instagram, Om Zein terlihat memanggil gubernur tersebut dengan sebutan “Raja”.

Dalam video itu, Dedi menjelaskan bahwa para siswa memiliki catatan kenakalan seperti tawuran, merokok, dan penyalahgunaan narkoba. Purwakarta menjadi kabupaten pertama di Jabar yang mengirimkan siswa bermasalah untuk dididik di lingkungan militer.

Ketika Dedi menanyakan kesiapan anggaran untuk program pembinaan enam bulan, Om Zein menjawab, “Siap raja, (duitnya) ada Raja.”

Sapaan “Raja” ini memicu beragam reaksi. Sebagian melihatnya sebagai bentuk penghormatan atau keakraban, namun banyak yang mengkritik penggunaan gelar tersebut dalam konteks pemerintahan. Mereka berpendapat bahwa hal itu bertentangan dengan prinsip kesetaraan dan hierarki administrasi yang seharusnya dijunjung tinggi.

Baca Juga:  PMII Jabar Kritik Kebijakan Dedi Mulyadi: Pembangunan Terlalu Fokus Infrastruktur, Abai Kebutuhan Dasar

Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Universitas Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, memberikan analisis mendalam mengenai gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi. Menurutnya, pola kepemimpinan ini dapat dikategorikan sebagai “Neo-Patrimonialisme”.

“Gaya kepemimpinan ini ditandai oleh sentralisasi kekuasaan pada satu figur yang memegang kendali atas alokasi sumber daya melalui jaringan patron–client,” jelas Kristian.

“Legitimasi pemimpin dibangun bukan hanya lewat mekanisme formal seperti pemilihan atau regulasi, tetapi juga melalui simbolisme budaya dan ritualitas—gelar kehormatan, seremonial, atau gaya komunikasi yang menegaskan status ‘raja kecil’,” lanjutnya.

Kristian menambahkan bahwa model ini berpotensi memupuk nepotisme, korupsi, dan ketergantungan berlebihan pada satu sosok pemimpin, sehingga akuntabilitas publik dan kapasitas inovasi dalam organisasi menjadi hilang dan tergerus.

Di era media sosial, gaya ini berlanjut dengan pejabat publik menampilkan citra diri yang terkurasi, termasuk foto-foto berkualitas tinggi, video pidato dramatik, dan sorotan agenda kerja yang menonjolkan peran ‘pelindung rakyat’.

“Kebiasaan narsistik—cenderung mencari pujian berlebih, memamerkan kekuasaan, dan mempertahankan citra sempurna, menjadi instrumen penting dalam strategi kepemimpinan ini,” ujar Kristian.

Ia juga menyoroti bagaimana media sosial digunakan untuk memonopoli informasi, dengan menyebarkan narasi yang memuji pemimpin dan meminimalkan kritik. Hal ini menciptakan ketergantungan warga pada narasi terpusat dan mereduksi masyarakat sipil menjadi ‘klien’ pasif.

Baca Juga:  Amanda Resmikan Dekranasda Art Space Kota Bogor

“Implikasi pemerintahan semacam ini adalah terdistorsinya akuntabilitas publik dan ruang deliberasi demokratis,” tegas Kristian.

“Keseimbangan antara efektivitas birokrasi dan partisipasi demokratis menjadi tipis, dan pemerintahan berisiko menciptakan ‘kerajaan virtual’ yang kuat secara citra, tetapi rapuh dalam akuntabilitas substantif,” ujarnya.

Analisis ini memberikan konteks yang lebih dalam mengenai kontroversi yang muncul, dan menyoroti potensi dampak negatif dari gaya kepemimpinan yang dianggap neo-patrimonialistik.

Serangkaian Kebijakan Kontroversial Dedi Mulyadi

Sejak resmi dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat pada 20 Februari 2025, Dedi Mulyadi langsung tancap gas dengan berbagai gebrakan kebijakan. Namun, langkah-langkahnya tak jarang memantik kontroversi dan menuai perdebatan publik. Berikut beberapa kebijakan paling menyita perhatian yang telah ia lontarkan dalam tiga bulan pertama kepemimpinannya.

Menangis di Puncak: Antara Simpati dan Sensasi

    Hanya dua pekan menjabat, Dedi menjadi sorotan usai terekam menangis saat sidak ke kawasan wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor. Tangisannya disebut dipicu oleh kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan di kawasan Puncak.

    Momen ini menuai reaksi beragam. Ada yang menganggapnya sebagai ekspresi kepedulian, namun tak sedikit pula warganet yang menyebutnya sekadar pencitraan atau “konten belaka”.

    Satgas Premanisme: Tangguh tapi Menyinggung?

    Pada pertengahan Maret, Dedi membentuk Satgas Pemberantasan Premanisme demi menciptakan iklim investasi yang sehat. Namun, kebijakan ini mendapat reaksi keras, terutama dari Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Jawa Barat.

    Baca Juga:  Rutin Gelar Event Tiap Minggu, Cara Disparbud Jabar Promosikan Bandara Kertajati

    GRIB menilai keberadaan satgas justru menyudutkan ormas, dan bahkan ketua mereka, Rosario de Marshal alias Hercules, mengancam akan mendatangi kantor gubernur jika dianggap terus dimusuhi. Meski Dedi sempat meminta maaf, polemik seputar satgas ini masih belum sepenuhnya mereda.

    Kirim “Anak Nakal” ke Barak Militer

    Menjelang akhir April, Dedi kembali menggegerkan publik lewat rencana mengirimkan anak-anak bermasalah ke barak militer, termasuk mereka yang kecanduan gim online. Tujuannya: menanamkan disiplin dan mengubah perilaku.

    Namun, pendekatan ini mendapat kritik dari kalangan pemerhati pendidikan. Salah satunya datang dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, yang mempertanyakan efektivitas serta nilai edukatif dari pendekatan militeristik terhadap anak.

    Wajib Vasektomi untuk Pria Penerima Bansos

    Yang paling memantik reaksi tajam adalah wacana wajib vasektomi bagi pria dari keluarga miskin yang ingin menerima bantuan sosial (bansos). Dedi menyebut kebijakan ini sebagai upaya menekan angka kelahiran di kelompok rentan.

    Ia bahkan menawarkan insentif sebesar Rp500.000 bagi pria yang bersedia menjalani prosedur tersebut.

    “Saya ingin laki-laki juga bertanggung jawab dalam program KB. Jangan semua dibebankan ke perempuan,” ujar Dedi dalam pernyataannya.

    Wacana ini dinilai diskriminatif dan problematik, karena mempersyaratkan intervensi medis untuk hak mendapatkan bantuan negara.

    Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

    Dedi Mulyadi gubernur HL jawa barat raja
    Share. Facebook Twitter WhatsApp
    ADVERTISEMENT

    Jangan Lewatkan

    Densus 88 Geledah Kontrakan Pedagang Es Teh Usai Ledakan Dadaha

    pembunuhan

    Ledakan Keras Hancurkan Toko Bangunan di Purwakarta, Satu Korban Meninggal Dunia

    Lansia di Cimahi yang Sempat Hilang Ditemukan Tewas di Sumur Sedalam 14 Meter

    Jalan Diponegoro Bandung Resmi Ditutup Permanen, Ini Rute Alternatif Terbaru di Sekitar Gedung Sate

    Mobil Hantam Tiang PJU di Jalan Dago Bandung, Polisi Selidiki Dugaan Pengemudi Mabuk

    Hancur Luar Dalam! Bupati Gowa Kini Dilaporkan Mantan Suami dan Didepak Keluarga Kandung?!

    Terpopuler
    • Sosok Febrie Adriansyah, Sang Pemburu Jadi Buruan? Menguak Sisi Lain Kasus Korupsi yang Mengguncang Negeri!
    • Polemik Aksi Kamisan, Kehadiran Kelompok LGBT dalam Gerakan HAM Jadi Sorotan
    • Muhammad Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit, Ini Kondisi Terbarunya
    • Selangor Malaysia Bidik Pasar Indonesia Lewat Promosi Wisata Medis di Bandung
    • Tragis! Tiga Warga Bandung Barat Tewas Diduga Akibat Ledakan Mortir
    Facebook Instagram YouTube TikTok
    Bukamata.id © 2023
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Disclaimer

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.