Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Setara PNS, PPPK Dapat Hak Jaminan Sosial Lengkap, Apa Saja?

Kamis, 30 April 2026 05:00 WIB

Ramai Dicari! Link Video Tasya Gym Ternyata Banyak Jebakan

Kamis, 30 April 2026 04:00 WIB

Bobotoh Wajib Tahu! Jadwal dan Lokasi Nobar Persib Terbaru

Kamis, 30 April 2026 03:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Setara PNS, PPPK Dapat Hak Jaminan Sosial Lengkap, Apa Saja?
  • Ramai Dicari! Link Video Tasya Gym Ternyata Banyak Jebakan
  • Bobotoh Wajib Tahu! Jadwal dan Lokasi Nobar Persib Terbaru
  • Fenomena Video Viral di Bandar Batang: Mengapa Kita Harus Lebih Bijak Menyikapi Tren Media Sosial?
  • Koordinasi Amburadul, Spanduk Penutupan Jalan Diponegoro Dicopot Usai Viral
  • Terungkap! Ini Dugaan di Balik Video Viral ‘Bandar Bergetar’
  • Laga Krusial! Persib Wajib Tundukkan Bhayangkara FC Demi Gelar Juara
  • Jangan Lewatkan! Jadwal Upacara Hardiknas 2026 dan Filosofinya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 30 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dedi Mulyadi Harus Ubah Gaya, Kepemimpinan ‘Superman’ Dinilai Tak Sehat dan Tak Efektif

By Aga GustianaKamis, 29 Mei 2025 19:04 WIB3 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi.
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan. Direktur Riset Indonesian Political Studies (IPS), Arman Salam, menilai pendekatan Dedi yang cenderung individualistik dan menonjolkan diri sebagai tokoh tunggal bukanlah model yang tepat dalam tata kelola pemerintahan modern.

“Baik dari aspek kultur maupun sistem pemerintahan saat ini, termasuk di Jawa Barat, cara superman Dedi Mulyadi sangat buruk, tidak sehat dan dijamin tidak efektif,” ujar Arman kepada awak media di Jakarta, Kamis (29/5/2025).

Menurutnya, saat ini Jawa Barat memerlukan pemimpin yang mengedepankan kerja kolektif dan sinergis. “Sudah saatnya beliau bertransformasi menjadi pemimpin yang membangun pola supertim, bukan lagi superman,” imbuh Arman.

Minimnya Kolaborasi dengan Wakil Gubernur

Arman menyoroti minimnya kerja sama antara Dedi Mulyadi dan wakilnya di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ia menilai, gaya Dedi yang cenderung berjalan sendiri berpotensi menghambat efektivitas kerja tim.

Baca Juga:  Pelaku Pagar Laut Bekasi Didenda Rp2 Miliar

“Dia terkesan jalan sendiri dan ingin menonjol sendiri tanpa memberi peran wakilnya,” tegasnya.

Bahkan, Arman mencatat kecenderungan Gubernur Dedi mengambil alih fungsi-fungsi kepala daerah di tingkat kabupaten dan kota, hingga menimbulkan kesan merendahkan kewenangan bupati dan wali kota.

“Dalam beberapa kasus, KDM seperti mempermalukan mereka. Ini pasti tidak sehat dari aspek manajemen pemerintahan. Semua masalah sepertinya ingin dia atasi sendiri. Kalau benar dia bisa, tentu bagus-bagus saja. Tapi ujungnya, para bupati dan walikota juga yang harus membereskan,” jelasnya.

Kritik atas Gaya Komunikasi Digital

Tak hanya soal gaya kepemimpinan, Arman juga mengkritisi cara Dedi Mulyadi memanfaatkan media sosial, seperti YouTube dan TikTok. Menurutnya, meski media digital bisa menjadi sarana transparansi publik, konten yang dibuat oleh Dedi justru dinilai lebih mengedepankan pencitraan dibanding edukasi.

Baca Juga:  LPG Nonsubsidi Meroket, Dedi Mulyadi Ajak Warga Jabar Beralih ke Kayu Bakar

“Salah satu yang sering dilihat di sosmednya KDM, aksi dia membagi-bagi uang. Dari satu sisi tentu baik-baik saja. Tapi, apa efeknya buat penanganan tingginya angka kemiskinan di Jawa Barat?” kata Arman.

Ia mempertanyakan dampak jangka panjang dari aksi simbolik tersebut, mengingat bantuan yang diberikan hanya menjangkau sebagian kecil masyarakat dan dilakukan dalam momen yang tampak dikemas untuk keperluan tayangan media sosial.

“Berapa banyak sih orang yang bisa dikasih uang oleh KDM dibanding jutaan warga miskin di Jabar? Apalagi, memberi uangnya dipilih-pilih hanya saat ada kamera saja supaya bisa tayang di sosmed. Ini kan tidak menyelesaikan masalah kemiskinan,” ujarnya kritis.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Ungkap 4 Kerangka Pemikiran untuk Bangun Jawa Barat

Desakan Transparansi Sumber Dana

Arman juga menyoroti pentingnya transparansi terkait sumber dana yang digunakan dalam berbagai aksi sosial Dedi Mulyadi. Ia menegaskan bahwa publik berhak mengetahui apakah uang yang dibagikan berasal dari APBD atau dari hasil monetisasi konten pribadi.

“Yang tak kalah penting, dalam melakukan aksi bagi-bagi uang itu, KDM harus transparan. Karena sekarang dia gubernur. Rakyat harus tahu, apakah uang yang dibagikan itu dari APBD, atau dari hasil ngonten. Terbuka saja,” tutup Arman.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Gaya Kepemimpinan Gubernur Jabar jawa barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Setara PNS, PPPK Dapat Hak Jaminan Sosial Lengkap, Apa Saja?

Koordinasi Amburadul, Spanduk Penutupan Jalan Diponegoro Dicopot Usai Viral

Jangan Lewatkan! Jadwal Upacara Hardiknas 2026 dan Filosofinya

Pemerintah Tetapkan Gaji ke-13 2026, Simak Jadwal dan Ketentuannya

Wanita di KBB Ditemukan Tewas Misterius, Polisi Kuatkan Dugaan Pembunuhan

Miris! Bocah Disabilitas di Bandung Barat Makan Rumput, Keluarga Ungkap Tak Pernah Sentuh Bansos

Terpopuler
  • Link Asli Video Bandar Membara Full Durasi, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Link Video Bandar Batang Viral! Waspada Phising
  • Viral ‘Video Bandar Membara’ di Media Sosial, Warganet Cari Link Asli No Sensor
  • Gebrakan Mewah di Bursa Transfer: Persib Bandung Incar Bintang-bintang Eks Eropa
  • Heboh Link Video “Bandar Membara Viral” : Waspada Jeratan UU ITE Menanti!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.