bukamata.id – Di usianya yang sudah 78 tahun, Mbah HS masih bisa berjalan sendiri. Ingatannya masih utuh, tidak pikun.
Namun, satu hal yang tak pernah ia mengerti hingga kini: apa kesalahannya hingga anak kandungnya sendiri memilih menyerahkannya ke panti jompo.
“Saya sendiri gak pernah tau saya tuh salahnya dimana, meskipun saya merasa tidak pernah salah, tapi saya terus berulang kali meminta maaf,” tutur Mbah HS usai diserahkan ke panti.
Kakek asal Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, itu diserahkan anak kandung dan menantunya ke Griya Lansia Husnul Khatimah di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Penyerahan dilakukan secara total, disertai satu permintaan yang membuat publik terenyuh: keluarga tak perlu dikabari jika sang ayah meninggal dunia.
Kisah ini viral di media sosial sejak Selasa (13/10/2026) dan memicu gelombang simpati sekaligus kecaman dari warganet.
Diserahkan Total, Bahkan Tak Mau Dikabari Saat Meninggal
Ketua Yayasan Griya Lansia, Arief Camra, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, saat proses penyerahan, sang anak membuat pernyataan tertulis yang menyatakan menyerahkan perawatan ayahnya sepenuhnya kepada yayasan. Dalam pernyataan itu, keluarga juga bersedia untuk tidak dikabari sama sekali jika sang ayah meninggal di kemudian hari.
Artinya, seluruh tanggung jawab atas Mbah HS, termasuk pemakamannya kelak, kini berada di tangan pihak panti.
Arief menyayangkan keputusan tersebut. Apalagi, Griya Lansia sejatinya diprioritaskan bagi lansia yang benar-benar tidak punya siapa-siapa.
“Kami sangat menyayangkan sikap anak dan menantunya. Griya Lansia ini sebenarnya kami prioritaskan untuk lansia telantar, kaum dhuafa, atau mereka yang benar-benar sebatang kara dan tidak punya keluarga. Namun, karena kondisinya mendesak dan sang ayah telantar, akhirnya kami sepakat untuk merawatnya,” ujar Arief.
Tawaran Solusi Ditolak Keluarga
Sebelum menerima Mbah HS, pihak yayasan sempat berupaya memediasi. Mereka menawarkan sejumlah alternatif agar keluarga tetap menjaga hubungan dan komunikasi dengan sang ayah.
Namun, semua tawaran itu ditolak secara halus. Pasangan suami istri tersebut bersikukuh menyerahkan sang ayah secara penuh. Hal itu juga tergambar dalam keterangan unggahan yang beredar di media sosial.
“Disuruh merawat gak mau, Jalur wakaf gak mau, maunya secara total. Bersedia dengan syarat yang berat; kalau meninggal nggak perlu di kabari,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Hingga kini, alasan di balik keputusan keluarga tersebut belum diketahui.
Detik-detik Perpisahan yang Jadi Sorotan
Momen penyerahan Mbah HS turut terekam dan beredar luas. Dalam unggahan yang viral, ekspresi sang anak di detik-detik terakhir penyerahan menjadi sorotan. Tak tampak tangis perpisahan di wajahnya. Unggahan itu menggambarkan sang anak seolah tak lagi peduli pada ayahnya.
Berbeda dengan sang anak, Mbah HS justru menerima keputusan itu dengan lapang dada. Ia hanya bisa pasrah, meski tak pernah tahu di mana letak kesalahannya. Ia bahkan mengaku sudah berulang kali meminta maaf.
Saat ditanya soal kemungkinan tutup usia tanpa kehadiran keluarga, Mbah HS menjawab dengan tenang.
“Alhamdulillah, lillahitaala,” ungkapnya.
Kini Tampil Lebih Segar di Griya Lansia
Kini, Mbah HS menjalani hari-harinya di bawah perawatan para relawan Griya Lansia Malang. Di sana, ia mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari, perawatan kesehatan, serta bimbingan keagamaan.
Begitu tiba di panti, Mbah HS langsung dirawat. Rambut dan jenggotnya dicukur rapi, membuat penampilannya kini terlihat lebih segar.
Kisah Mbah HS mengundang ribuan reaksi. Di kolom komentar unggahan Instagram @ariefcamra, banyak warganet mendoakan sang kakek agar betah dan tenang menjalani hari tuanya.
“Mbahnya wajahnya teduh sekali, terlihat bliau orang baik, insyaaAllah di griya lansia lebih enak ya mbak, bisa fokus ibadah,” tulis akun @sha***.
Ada pula yang menyebut wajah Mbah HS mengingatkannya pada sosok ulama kharismatik.
“Wajah dan alisnya mirip dengan Kyai Maimoen Zubair , insya Allah Mbah nya kerasan , ibadah bisa tenang dan akhir yg Husnul khatimah,” tulis akun @nam***.
Sebagian warganet tak bisa menyembunyikan kekesalannya terhadap sikap anak dan menantu sang kakek.
“Pak @ariefcamra jangan sering di up mbh nya,nanti anak nya kesenengen.. kalo kangen orang tua nya,bisa liat ig udah bisa liat bapak nya😢😢..kan perjanjian gak boleh jenguk dan tau kabar bapak nya kan..kok aku jadi jahat begini..,” tulis akun @tri***.
Yang lain meyakini, di balik ketabahannya, Mbah HS menyimpan kesedihan mendalam.
“Yakin dalam hati kecil nya pasti mbah kung sediiih bgt atas perlakuan anak mantu nya. Ga bisa di bohongi. Sehat2 mbahkung, bahagia disana banyak teman dn yg sayang,” tulis akun @put***.
Pengingat bagi Kita Semua
Apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan keluarga Mbah HS mungkin hanya mereka yang tahu. Setiap keluarga menyimpan cerita, pergulatan, dan luka yang tak selalu tampak dari luar. Karena itu, kisah ini tak semestinya berhenti pada kecaman semata.
Namun, ada satu hal yang tak terbantahkan dari kisah ini: di usia senja, orang tua tak hanya membutuhkan tempat tinggal, makanan, dan perawatan. Mereka membutuhkan kehadiran, kabar, dan kasih sayang dari anak-anak yang dulu mereka besarkan.
Mbah HS kini memang tak lagi telantar. Ia punya tempat bernaung, teman sebaya, dan para relawan yang merawatnya dengan tulus. Doa dari ribuan warganet pun terus mengalir untuknya.
Meski begitu, ketenangan yang ia tunjukkan lewat ucapan “Alhamdulillah, lillahitaala” menyisakan pertanyaan yang menggantung bagi siapa pun yang mendengarnya. Mungkin kita tak akan pernah tahu jawabannya. Tapi kisah ini bisa menjadi alasan untuk menelepon orang tua kita hari ini, sebelum kesempatan itu tak lagi ada.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











