Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Keracunan Makanan

14 Siswa SDN Garuda Cisarua Diduga Keracunan, Sampel Makanan MBG Diperiksa

Jumat, 2 Oktober 2026 10:40 WIB

Drama Rp10 Ribu Bikin Bali Panen Hujatan! Sisi Gelap Pariwisata Lokal yang Dibongkar Kasus Billy Syahputra

Jumat, 2 Oktober 2026 10:27 WIB
llustrasi olahraga padel yang sedang booming di Indonesia.

Dua Wakil Indonesia ke Semifinal Padel Asian Games 2026, Medali Sudah di Tangan

Jumat, 2 Oktober 2026 10:11 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • 14 Siswa SDN Garuda Cisarua Diduga Keracunan, Sampel Makanan MBG Diperiksa
  • Drama Rp10 Ribu Bikin Bali Panen Hujatan! Sisi Gelap Pariwisata Lokal yang Dibongkar Kasus Billy Syahputra
  • Dua Wakil Indonesia ke Semifinal Padel Asian Games 2026, Medali Sudah di Tangan
  • Jelang Port FC vs Persib, Maung Bandung Dihadapkan pada Ancaman Bruno Moreira
  • Skandal HGB Kota Baru Parahyangan: KPK Amankan Berkas dan Ungkap Aliran Suap Miliaran
  • BSU 2026 Cair Rp900 Ribu? Cek NIK dan Jadwal Pencairan Oktober-Desember
  • Pesta 9 Gol Timnas Indonesia Berujung Tiket Final, Herdman Kaget Malaysia Menang 6-0
  • Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Masih Rp2,581 Juta, Ada Pecahan hingga 1 Kg
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 2 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Ditinggal Otak di Balik AI Gemini ke OpenAI, Saham Induk Google Langsung Terjun Bebas

By Aga GustianaRabu, 24 Juni 2026 12:06 WIB2 Mins Read
Kantor Google. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Raksasa teknologi Alphabet Inc., induk perusahaan Google, baru saja melewati hari terkelamnya di lantai bursa Wall Street dalam setahun terakhir. Kepercayaan investor goyah menyusul hilangnya dua otak penting di balik pengembangan kecerdasan buatan (AI) mereka, ditambah sentimen negatif yang membayangi masa depan monetisasi teknologi canggih tersebut.

Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, saham Alphabet terjun bebas hingga mendekati angka 5%. Penurunan tajam ini menjadi rapor merah terburuk Alphabet sejak koreksi dalam sebesar 7% yang sempat terjadi pada Mei 2025 lalu.

Kehilangan Dua Pilar Utama AI ke Tangan Pesaing

Kelesuan saham ini dipicu oleh kabar miring dari internal perusahaan. Google harus merelakan kepergian Noam Shazeer, Wakil Presiden Teknik sekaligus salah satu tokoh kunci di balik proyek AI Gemini. Shazeer memilih hengkang dan menyeberang ke rival abadi mereka, OpenAI.

Ironisnya, kepindahan ini terjadi kurang dari dua tahun setelah Google bersusah payah memboyongnya kembali pada Agustus 2024 lewat kemitraan dengan Character.AI—startup yang didirikan Shazeer setelah sempat keluar dari Google di tahun 2021. Padahal, Google baru saja memamerkan lini inovasi teranyar mereka, termasuk Gemini 3.5 Flash dan Gemini Spark, dalam gelaran tahunan Google I/O.

Tak berhenti di situ, pukulan telak kembali menghantam lini DeepMind Google. John Jumper, sang pemenang Hadiah Nobel 2024 sekaligus pionir sistem AlphaFold yang merevolusi dunia medis, resmi menyatakan pamit setelah sembilan tahun mengabdi. Jumper memilih melanjutkan kariernya bersama Anthropic, kompetitor utama Google dalam pengembangan LLM (Large Language Model).

Efek Pernyataan Satya Nadella dan Tekanan Margin

Kepanikan pasar kian beralasan setelah CEO Microsoft, Satya Nadella, melontarkan pandangan tajam dalam wawancaranya bersama Wall Street Journal. Nadella secara tersirat mengingatkan pelaku industri untuk tidak terjebak dalam ketergantungan pada beberapa raksasa teknologi tertentu. Ia menilai bahwa teknologi kecerdasan buatan kini mulai bergeser menjadi produk komoditas yang umum.

Pernyataan tersebut langsung menjadi hantaman psikologis bagi para pemegang saham Alphabet. Pasalnya, sejak Oktober lalu, Alphabet telah menggelontorkan dana fantastis hingga USD 141 miliar (sekitar Rp2.200 triliun) lewat skema utang dan ekuitas demi merajai ekosistem AI terintegrasi.

Jika narasi Nadella terbukti—di mana model AI ke depan akan semakin murah, generik, dan mudah digantikan satu sama lain—maka investasi masif yang dilakukan Alphabet dikhawatirkan gagal menciptakan benteng bisnis yang kokoh (moat), melainkan justru menggerogoti margin keuntungan perusahaan.

Melengkapi hari buruk raksasa mesin pencari tersebut, di hari yang sama sejumlah pengguna global juga mengeluhkan adanya kendala teknis berupa gangguan akses (down) pada dua platform terbesar mereka, yakni Gmail dan YouTube.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Drama Rp10 Ribu Bikin Bali Panen Hujatan! Sisi Gelap Pariwisata Lokal yang Dibongkar Kasus Billy Syahputra

Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Masih Rp2,581 Juta, Ada Pecahan hingga 1 Kg

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Siap-siap! BSU 2026 Rp900 Ribu Segera Disalurkan, Cek Jadwal Pencairan dan Aturan Barunya

Google Resmi Rilis Gemini 4 Argon, AI Baru yang Bisa Deteksi dan Perbaiki Celah Keamanan

Berburu Sarapan di Bandung? 7 Kuliner Legendaris Ini Wajib Masuk Daftar

Batal Cerai atau Prank? Kemunculan Demian di Live Sara Wijayanto Bikin Heboh, Cinta Belum Usai?

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.