Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Pasundan Beri Rapor Merah dan Desak Evaluasi Kebijakan

Selasa, 20 Oktober 2026 17:53 WIB

Banyak Murid Belum Lancar Calistung, Disdik Cirebon Setuju Kebijakan ‘Tidak Otomatis Naik Kelas’

Selasa, 20 Oktober 2026 17:39 WIB

Dari Kuah Santan hingga Petis, 5 Kupat Tahu Bandung Ini Wajib Masuk Daftar Kuliner

Selasa, 20 Oktober 2026 17:37 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Pasundan Beri Rapor Merah dan Desak Evaluasi Kebijakan
  • Banyak Murid Belum Lancar Calistung, Disdik Cirebon Setuju Kebijakan ‘Tidak Otomatis Naik Kelas’
  • Dari Kuah Santan hingga Petis, 5 Kupat Tahu Bandung Ini Wajib Masuk Daftar Kuliner
  • Jerit Mencekam di Ruko Pecel Lele: Pedagang dan Suporter Persib Dikeroyok Belasan Geng Motor di Tasikmalaya
  • Madura United Pede Jaga Rekor Kandang, Persib Datang Bawa Modal Kemenangan
  • Massa Aksi Blokade Simpang Lima Bandung, Sampaikan Empat Tuntutan ke Pemerintahan Prabowo-Gibran
  • Hutan Pinus di Kaki Tangkuban Parahu Terbakar, 2 Hektare Lahan Hangus
  • Dua Orang Dibacok Kelompok Bermotor di Bandung Kulon, Begini Kronologinya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Pasundan Beri Rapor Merah dan Desak Evaluasi Kebijakan

By Mulki AlbarSelasa, 20 Oktober 2026 17:53 WIB3 Mins Read
Keluarga Mahasiswa Pasundan memberi rapor merah dua tahun Prabowo-Gibran dan mendesak evaluasi kebijakan. Foto: bukamata.id/ Mulki Albar.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Keluarga Mahasiswa Pasundan memberikan rapor merah terhadap dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Melalui konsep Panca Cipta, mahasiswa mendesak evaluasi kebijakan pemerintah, mulai dari sektor ekonomi dan pendidikan hingga program prioritas, keterlibatan militer dalam urusan sipil, serta pemerataan pembangunan.

Kritik tersebut disampaikan dalam aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (20/10/2026). Mahasiswa menilai sejumlah persoalan mendasar belum mendapat penyelesaian yang memadai sehingga perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah.

Presiden Keluarga Mahasiswa Pasundan, Muamar Bahsir, mengatakan Panca Cipta memuat lima agenda utama yang menjadi dasar mahasiswa dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

“Yang pertama itu kita berfokus kepada ekonomi. Yang kedua adalah pendidikan. Yang ketiga adalah sikap represivitas daripada TNI-Polri. Yang keempat itu tentang kebijakan, dan yang terakhir adalah pembangunan,” ujar Muamar.

Menteri Kajian Aksi Strategis Mahasiswa Pasundan, Arya Rangga, menjelaskan persoalan ekonomi menjadi salah satu sorotan utama. Mahasiswa mempertanyakan kondisi nilai tukar rupiah, pergerakan pasar saham, hingga transparansi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Baca Juga:  TKN Tegaskan Pengancam Anies Tak Ada Kaitannya dengan Paslon 02

Mereka mendesak pemerintah membuka informasi secara jelas mengenai pengelolaan anggaran, terutama keseimbangan antara pendapatan dan belanja negara. Menurut mahasiswa, kebijakan ekonomi harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas dan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.

Sorotan berikutnya menyasar sektor pendidikan, khususnya program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Mahasiswa mempertanyakan prioritas pemerintah dalam mengembangkan program baru ketika sejumlah sekolah yang telah beroperasi dinilai masih membutuhkan pembenahan.

“Kenapa pada akhirnya tidak diselaraskan ataupun tidak dimaksimalkan terkait dengan sekolah-sekolah yang sudah ada? Kenapa harus membuat kebijakan-kebijakan baru yang mengakibatkan anggaran yang keluar lebih besar,” kata Arya.

Dalam agenda Panca Cipta, mahasiswa juga menyoroti dugaan tindakan represif aparat TNI-Polri serta keterlibatan militer dalam jabatan sipil. Mereka menilai persoalan tersebut perlu dievaluasi karena berkaitan dengan perlindungan masyarakat dan prinsip supremasi sipil dalam demokrasi.

Baca Juga:  Nyatakan Dukungan, Ribuan Purnawirawan TNI-Polri Jabar Siap Dulang Suara untuk Prabowo-Gibran

Arya bahkan menilai perkembangan tersebut menunjukkan kembalinya praktik dwifungsi militer yang selama ini menjadi perhatian dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

“Bagaimana per hari ini Dwifungsi ABRI sudah kembali,” ujarnya.

Selain itu, Keluarga Mahasiswa Pasundan mendesak evaluasi terhadap sejumlah program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Mahasiswa menilai pelaksanaan program berskala besar perlu didukung perencanaan matang, kajian yang memadai, serta uji coba agar pelaksanaannya efektif.

Mereka juga menyoroti kondisi fasilitas sekolah yang dinilai masih belum memadai. Pemerintah diminta memastikan program baru tidak mengesampingkan kebutuhan dasar pendidikan yang masih harus dipenuhi.

Persoalan struktur kabinet turut menjadi perhatian. Mahasiswa mempertanyakan efektivitas susunan kabinet yang dinilai semakin besar dan meminta evaluasi terhadap kinerja para pejabat agar penyelenggaraan pemerintahan lebih terarah serta memberikan hasil nyata bagi masyarakat.

Baca Juga:  Soal Dukungan pada Prabowo-Gibran, Khofifah: Ini Secara Personal

Pada agenda pembangunan, mahasiswa menekankan pentingnya pemerataan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan. Mereka meminta pemerintah memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah, termasuk daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan.

Tak hanya itu, Keluarga Mahasiswa Pasundan mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional. Mereka menilai dampak kebakaran perlu ditangani secara serius karena berpotensi mengancam keselamatan masyarakat dan menimbulkan dampak lintas negara.

“Kami dari Bumi Pasundan melihat hal ini bukanlah hal yang biasa dan tidak boleh disepelekan,” kata Arya.

Melalui aksi tersebut, mahasiswa menegaskan evaluasi terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran harus diwujudkan melalui langkah konkret, bukan sebatas formalitas. Mereka meminta keberhasilan pemerintahan diukur dari efektivitas kebijakan, transparansi anggaran, perlindungan masyarakat, serta pemerataan hasil pembangunan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

aksi mahasiswa Bandung dua tahun Prabowo-Gibran mahasiswa Pasundan Prabowo-Gibran rapor merah Prabowo-Gibran
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Banyak Murid Belum Lancar Calistung, Disdik Cirebon Setuju Kebijakan ‘Tidak Otomatis Naik Kelas’

Jerit Mencekam di Ruko Pecel Lele: Pedagang dan Suporter Persib Dikeroyok Belasan Geng Motor di Tasikmalaya

Massa Aksi Blokade Simpang Lima Bandung, Sampaikan Empat Tuntutan ke Pemerintahan Prabowo-Gibran

Hutan Pinus di Kaki Tangkuban Parahu Terbakar, 2 Hektare Lahan Hangus

Dua Orang Dibacok Kelompok Bermotor di Bandung Kulon, Begini Kronologinya

Kabar Kim Jong-un Meninggal Viral, Benarkah Pemimpin Korea Utara Telah Tiada?

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.