bukamata.id – Pemerintah Kota Bandung masih menyelidiki dugaan keracunan makanan yang dilaporkan terjadi setelah warga mengonsumsi makanan di restoran 88 Seoul di kawasan Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) telah melakukan pemeriksaan terhadap kondisi restoran tersebut.
Farhan menyebut pemeriksaan mencakup sejumlah aspek, mulai dari tempat penyimpanan bahan makanan basah dan kering, peralatan bersih dan kotor, hingga penyimpanan bahan pembersih kimia.
“Hal ini sudah dilakukan langsung oleh Dinas Kesehatan dan DKPP. Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan, di antaranya tempat penyimpanan, tempat jarak antara penyimpanan bahan makanan basah, bahan makanan kering, alat-alat bersih, alat-alat kotor, bahan pembersih kimia, sampai bahan-bahan kotor,” ujar Farhan saat ditemui di Bandung, Rabu (7/10/2026).
Menurut Farhan, dari pemeriksaan tersebut ditemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki oleh pihak restoran.
Di antaranya, alur dapur masih membutuhkan perbaikan. Area pencucian peralatan makan juga dinilai memiliki risiko kontaminasi terhadap bahan makanan akibat penggunaan sabun dan peralatan pencucian.
Selain itu, pengaturan penyimpanan bahan makanan beku belum menunjukkan penerapan sistem first in first out (FIFO) secara jelas. Tempat penyimpanan makanan dingin juga diminta dilengkapi alat pengukur suhu.
“Untuk bahan keringnya, khususnya penyimpanan minyak jelantah, tidak dalam kondisi tertutup. Penyimpanan bahan kimianya agar disediakan kontainer tertutup,” katanya.
Dinkes juga menemukan persoalan pada proses pengolahan makanan. Farhan menyebut para penjamah makanan belum menggunakan masker.
“Proses pengolahan makan, para penjamah makanan tidak menggunakan masker. Itu menjadi risiko,” ujarnya.
Selain itu, restoran belum menyediakan bank sampel makanan. Kemasan makanan juga disebut belum dilengkapi keterangan waktu kedaluwarsa.
Meski demikian, Farhan menyebut sejumlah aspek lainnya dinilai baik, seperti kegiatan general cleaning dan penggunaan tempat sampah dengan pedal kaki.
Jumlah Kasus Masih Diverifikasi
Terkait jumlah warga yang diduga mengalami keracunan, Farhan menegaskan angka yang beredar di media sosial hingga mencapai 280 orang lebih masih perlu diverifikasi.
Sebelumnya, Dinkes Kota Bandung menyatakan telah menerima laporan 24 kasus warga yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut hingga Selasa (6/10/2026).
Farhan mengatakan pemerintah masih melakukan penelusuran untuk memastikan jumlah kasus yang sebenarnya.
“Ya, itu makanya perlu diverifikasi. Belum banyak, saya belum tahu persis, tapi itu sedang diverifikasi. Betul nggak segitu,” katanya.
Dinkes juga akan memantau kondisi kesehatan warga yang telah melaporkan keluhan dengan berkoordinasi bersama fasilitas kesehatan dan rumah sakit.
Farhan menekankan, setiap laporan harus dapat ditelusuri secara jelas, termasuk identitas warga yang mengaku mengalami gangguan kesehatan, restoran yang disebut sebagai sumber makanan, serta tenaga medis yang memberikan diagnosis.
“Kalau saya bilang, saya keracunan makan di restoran A karena kata si dokter B, maka sayanya mesti diidentifikasi, restoran A-nya diidentifikasi, dokter B-nya yang memberikan diagnosis harus diidentifikasi dan memberikan pertanggungjawaban medisnya,” ujarnya.
88 Seoul Tutup Sementara 7-8 Oktober
Di tengah proses pemeriksaan, pihak 88 Seoul bersama manajemen 23 Paskal menyatakan menghentikan sementara operasional gerai pada 7-8 Oktober 2026.
Berdasarkan pernyataan yang disampaikan melalui media sosial 23 Paskal, penghentian sementara dilakukan untuk menjalankan pembersihan dan sanitasi menyeluruh sekaligus mengevaluasi proses serta standar operasional di gerai.
“Pemeriksaan dari pihak terkait juga telah dilakukan dan proses tindak lanjut masih berjalan. Kami akan terus mengikuti perkembangan serta langkah perbaikan yang dilakukan oleh pihak tenant,” dilansir dari media sosial 23 Paskal.
Pihak manajemen 23 Paskal juga menyatakan telah melakukan kunjungan secara bertahap kepada konsumen yang terdampak kejadian tersebut bersama pihak tenant.
“Kami berkomitmen untuk terus mengawal proses penanganan ini,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









