Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Wagub Jabar Minta Jurnalis Jaga Nurani dan Integritas di Tengah Gempuran AI

Rabu, 26 Agustus 2026 12:26 WIB

Kontrak Sudah Diperpanjang, Tapi Ramon Tanque Tak Masuk Skuad Persib, Ada Apa?

Rabu, 26 Agustus 2026 12:19 WIB

HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun

Rabu, 26 Agustus 2026 11:37 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Wagub Jabar Minta Jurnalis Jaga Nurani dan Integritas di Tengah Gempuran AI
  • Kontrak Sudah Diperpanjang, Tapi Ramon Tanque Tak Masuk Skuad Persib, Ada Apa?
  • HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun
  • Buruan Daftar! Seleksi Petugas Haji 2027 Dibuka, Ini Jadwal dan Syarat Lengkap PPIH
  • Mimpi Jadi Nyata! Carlos Baleba Resmi Gabung Manchester United
  • Harga Emas Antam Hari Ini 26 Agustus 2026: 1 Gram Masih Rp2,768 Juta, Cek Daftar Lengkapnya
  • Pesta Biru 2026 Pecah! 32 Penggawa Persib Diperkenalkan, Target Gelar Keempat Makin Nyata
  • Dari Veteran Perang Dingin Italia Jadi KRI Gajah Mada: Sejarah Kapal Induk Pertama Indonesia!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Gara-Gara Benda Ini Diperlihatkan, Warga Nekat Berebut Air Bekas Cucian Pusaka Wali Songo

By SusanaSelasa, 25 Agustus 2026 10:41 WIB10 Mins Read
Air bekas cucian pusaka Wali Songo diperebutkan warga karena dipercaya membawa berkah. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Puluhan benda berusia ratusan tahun dikeluarkan dari ruang penyimpanan Keraton Kasepuhan Cirebon. Piring, guci, botol minyak mawar, hingga benda-benda pusaka peninggalan yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati dibersihkan dalam prosesi Siraman Panjang, Kamis (20/8/2026)

Namun, perhatian masyarakat tidak berhenti pada benda-benda bersejarah tersebut.

Sesaat setelah prosesi pencucian selesai, air yang digunakan untuk membasuh benda pusaka justru menjadi sesuatu yang paling diburu. Sejumlah warga berusaha mendapatkan air bekas siraman karena meyakininya sebagai air berkah yang dapat membawa kebaikan, kesehatan hingga keselamatan.

Pemandangan itu sekaligus membuka kembali perdebatan lama di tengah masyarakat Indonesia: mengapa air yang bersentuhan dengan benda atau simbol keagamaan tertentu dipercaya memiliki keberkahan?

Di satu sisi, praktik tersebut dipandang sebagai bagian dari tradisi dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Di sisi lain, sebagian masyarakat mempertanyakan batas antara pelestarian budaya, keyakinan spiritual, dan kepercayaan terhadap benda tertentu.

Siraman Panjang dan Jejak Pusaka Sunan Gunung Jati

Siraman Panjang merupakan salah satu rangkaian tradisi menjelang puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Prosesi tahun 2026 digelar di Bangsal Pungkuran. Berdasarkan keterangan keraton, benda yang dibersihkan antara lain tujuh piring tafsi, 38 piring pengiring, dua guci dan dua botol minyak mawar. Benda-benda tersebut kemudian disimpan kembali dan akan dikeluarkan dalam rangkaian puncak Muludan pada 26 Agustus 2026.

Bagi Keraton Kasepuhan, Siraman Panjang tidak sekadar aktivitas mencuci benda lama.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, P.R. Goemelar Soeryadiningrat, menjelaskan bahwa siraman memiliki makna simbolis sebagai proses membersihkan diri. Dengan demikian, benda yang dicuci menjadi bagian dari simbol spiritual yang mengingatkan manusia untuk melakukan penyucian lahir dan batin.

Tradisi tersebut juga menunjukkan bagaimana benda-benda bersejarah tidak ditempatkan hanya sebagai artefak masa lalu. Di Cirebon, benda pusaka hidup dalam sebuah sistem tradisi yang menghubungkan sejarah keraton, dakwah Islam, penghormatan kepada leluhur dan peringatan Maulid Nabi.

Mengapa Air Cucian Pusaka Dipercaya Membawa Berkah?

Di sinilah fenomena Siraman Panjang menjadi menarik jika dilihat lebih jauh.

Bagi sebagian masyarakat, air tersebut bukan sekadar air biasa. Ia telah digunakan dalam sebuah prosesi yang dianggap sakral, disertai doa dan salawat, serta bersentuhan dengan benda yang diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual.

Kepercayaan semacam ini memiliki akar yang cukup panjang dalam kebudayaan masyarakat Indonesia.

Dalam tradisi Islam Nusantara dikenal istilah tabarruk atau ngalap berkah, yakni upaya mencari keberkahan melalui sesuatu yang diyakini memiliki nilai spiritual. Kajian tentang konsep berkah dalam masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa praktik ngalap berkah telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan sebagian masyarakat.

Tetapi penting membedakan antara keyakinan terhadap berkah dengan anggapan bahwa benda tertentu memiliki kekuatan secara mandiri.

Dalam pemahaman keagamaan yang dianut sebagian kalangan Muslim, keberkahan pada akhirnya tetap diyakini berasal dari Tuhan, sedangkan benda atau air hanya dipandang sebagai perantara atau wasilah.

Karena itu, fenomena air berkah tidak bisa begitu saja dibaca sebagai persoalan benar atau salah secara sederhana. Ia juga merupakan fenomena sosial yang lahir dari pertemuan antara agama, tradisi, sejarah, simbol dan pengalaman personal masyarakat.

Ada Faktor Tokoh, Ritual dan Memori Kolektif

Kepercayaan terhadap air berkah juga dapat dilihat dari perspektif sosiologi agama.

Sebuah penelitian mengenai pemasaran air doa di Indonesia, misalnya, melihat bagaimana keberkahan dapat dikonstruksi dalam praktik sosial dan dikaitkan dengan figur agama tertentu. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap air berkah berkaitan dengan berbagai persoalan kehidupan, mulai dari kesehatan hingga harapan akan kesuksesan.

Artinya, keyakinan tersebut tidak berdiri sendiri.

Ada tokoh yang dihormati, ada ritual yang dilakukan berulang, ada cerita yang diwariskan, dan ada pengalaman masyarakat yang kemudian memperkuat kepercayaan tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam konteks Keraton Kasepuhan, lapisan itu menjadi semakin kuat karena benda-benda yang dicuci tidak dipandang sebagai benda biasa. Ia ditempatkan dalam narasi panjang sejarah Cirebon dan dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati.

Air yang semula merupakan bagian dari prosesi pencucian kemudian memperoleh makna baru karena berada dalam ruang ritual tersebut.

Pusaka Wali Songo dan Cerita Kesaktian yang Terus Hidup

Nama Sunan Gunung Jati sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah Islam di Cirebon.

Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang sangat penting dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa Barat. Pemerintah Kota Cirebon maupun lembaga kebudayaan pemerintah mencatat kuatnya hubungan antara sejarah Cirebon, Kesultanan Cirebon dan aktivitas dakwah Sunan Gunung Jati.

Dari sinilah kemudian berkembang berbagai cerita mengenai pusaka para wali.

Salah satu kisah yang beredar menyebut Keris Makripat milik Sunan Giri dan Badong yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Dalam cerita tersebut, kedua pusaka digambarkan memiliki kemampuan luar biasa ketika digunakan dalam konflik dengan pasukan Majapahit.

Keris Makripat, dalam kisah yang dikutip dari literatur historiografi populer, disebut dapat memunculkan angin ribut dan hujan badai. Sementara Badong dikisahkan mampu mengerahkan tikus untuk mengganggu perbekalan pasukan lawan.

Bahkan, terdapat cerita bahwa jumlah pasukan yang sebenarnya hanya sekitar seribu orang seolah-olah tampak menjadi jauh lebih besar di mata musuh.

Namun, kisah semacam ini perlu ditempatkan sebagai cerita tradisional atau narasi yang berkembang dalam historiografi tertentu, bukan otomatis sebagai fakta sejarah yang dapat dibuktikan secara empiris.

Hal tersebut penting karena tradisi lisan, babad dan historiografi lokal memiliki karakter berbeda dengan penelitian sejarah modern.

Balai Bahasa Jawa Barat, misalnya, menjelaskan bahwa Babad Cirebon merupakan karya sastra sejarah yang disusun pada pertengahan abad ke-19 dan mengalami penyalinan berulang sehingga terdapat variasi teks maupun isi.

Dengan kata lain, cerita mengenai kesaktian pusaka Wali Songo menarik untuk dibaca sebagai bagian dari memori budaya masyarakat, sekaligus perlu dibedakan dari fakta sejarah yang telah terverifikasi.

Cirebon, Kota Wali yang Menjaga Warisan Sunan Gunung Jati

Tidak berlebihan jika Cirebon disebut sebagai salah satu kota yang identitasnya sangat lekat dengan sejarah dakwah Islam.

Pemerintah Kota Cirebon sendiri menyebut kota tersebut sebagai Kota Wali, sementara jejak Sunan Gunung Jati masih terlihat melalui masjid, keraton, makam dan berbagai tradisi yang terus berlangsung.

Ada Masjid Agung Sang Cipta Rasa, kompleks keraton, hingga kompleks makam Sunan Gunung Jati yang menjadi bagian penting dari lanskap sejarah dan spiritual Cirebon.

Bahkan, pada peringatan Hari Jadi Cirebon 2026, Pemerintah Kota Cirebon kembali melakukan salat berjamaah di Masjid Sang Cipta Rasa dan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Pemkot menyebut kedua lokasi tersebut bukan sekadar tempat ibadah dan situs sejarah, tetapi juga bagian dari identitas Kota Cirebon.

Karena itu, ketika masyarakat datang ke Keraton Kasepuhan untuk menyaksikan Siraman Panjang, yang mereka lihat sebenarnya bukan hanya ritual mencuci piring atau guci.

Mereka sedang berhadapan dengan sebuah ruang memori kolektif.

Di tempat itu sejarah, agama, budaya dan identitas lokal bertemu.

Dari Sunan Gunung Jati hingga Panjang Jimat

Tradisi Maulid di Keraton Kasepuhan juga memperlihatkan cara masyarakat Cirebon merawat dakwah melalui kebudayaan.

Puncak rangkaian Panjang Jimat bukan sekadar perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk mengingat kembali sejarah Islam di Cirebon sekaligus merawat warisan leluhur.

Dalam konteks ini, istilah jimat juga tidak selalu harus dimaknai sebagai benda mistis yang memiliki kekuatan gaib. Keraton menjelaskan Panjang Jimat memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan peralatan kehidupan dan pesan tentang keseimbangan spiritual dengan kehidupan sehari-hari.

Itulah yang membuat tradisi Cirebon menarik: ajaran agama tidak selalu hadir dalam bentuk ceramah, tetapi juga melalui simbol, makanan, arak-arakan, pusaka, masjid, keraton dan ritual.

Mengapa Masyarakat Indonesia Mudah Memaknai Air sebagai Sesuatu yang Sakral?

Fenomena air berkah sebenarnya jauh lebih luas daripada Siraman Panjang.

Dalam banyak kebudayaan Nusantara, air memiliki posisi istimewa sebagai simbol kehidupan, kesucian, penyembuhan dan pembersihan.

Ketika konsep tersebut kemudian bertemu dengan praktik keagamaan, air memperoleh lapisan makna tambahan.

Dalam konteks Islam, masyarakat mengenal air Zamzam sebagai salah satu contoh air yang memiliki kedudukan khusus dalam tradisi keagamaan. Dari sini, muncul pemahaman yang lebih luas mengenai air doa atau air yang digunakan dalam ritual tertentu.

Namun, perlu ditegaskan bahwa kepercayaan spiritual terhadap air tidak sama dengan bukti medis bahwa air tersebut dapat menyembuhkan penyakit tertentu.

Seseorang boleh mendapatkan ketenangan batin dari sebuah ritual. Tetapi ketika menyangkut penyakit, air berkah tidak seharusnya menggantikan diagnosis maupun pengobatan medis yang diperlukan.

Pada titik inilah fenomena air berkah menjadi menarik secara psikologis.

Keyakinan seseorang dapat memberikan rasa tenang, harapan dan sugesti positif. Tetapi pengalaman subjektif tersebut tetap berbeda dari pembuktian ilmiah mengenai khasiat medis sebuah air.

Ketika Air Berkah Bertemu Media Sosial

Tradisi yang selama bertahun-tahun hidup dalam ruang budaya lokal kini berhadapan dengan ruang digital.

Video warga berebut air bekas Siraman Panjang kemudian menyebar di media sosial. Reaksi warganet pun terbelah.

Sebagian mempertanyakan praktik tersebut karena menganggapnya tidak sesuai dengan semangat peringatan Maulid Nabi. Sebagian lain memandangnya sebagai tradisi masyarakat yang tidak perlu dihakimi secara tergesa-gesa.

Sejumlah komentar warganet di kolom Instagram @haluandotco memperlihatkan kritik tersebut.

“Nabi jg pasti tdk suka hal seperti ini,” tulis akun @moh***.

“Hmm primitif,” tulis akun @ura***.

“Air cucian lohh,” tulis akun @usw***.

“Judul nya Maulid Nabi Muhammad, praktek nya air rendeman,” tulis akun @her***.

Komentar-komentar itu memperlihatkan bahwa satu ritual yang sama dapat menghasilkan tafsir yang sangat berbeda.

Bagi satu kelompok, air tersebut merupakan simbol keberkahan yang berkaitan dengan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Bagi kelompok lain, tindakan berebut air bekas cucian benda pusaka justru dianggap berlebihan dan tidak memiliki dasar yang cukup.

Perdebatan itu pada akhirnya bukan hanya soal air.

Ia menyentuh pertanyaan yang jauh lebih besar: di mana batas antara tradisi budaya dan keyakinan keagamaan?

Tradisi Tidak Harus Dipertentangkan dengan Nalar

Siraman Panjang dapat dilihat dari dua sisi sekaligus.

Dari sisi budaya, ia merupakan tradisi yang membantu masyarakat mengingat sejarah Cirebon, Sunan Gunung Jati dan perjalanan panjang Islam di Jawa Barat.

Dari sisi sosial, fenomena berebut air menunjukkan bagaimana simbol keagamaan dapat memperoleh makna yang kuat dalam masyarakat.

Namun, dari sisi kritis, setiap keyakinan tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Keberkahan merupakan wilayah keyakinan spiritual, sementara klaim kesehatan dan pengobatan membutuhkan pembuktian ilmiah.

Dengan cara pandang seperti itu, tradisi tidak harus dihancurkan hanya karena diperdebatkan.

Sebaliknya, tradisi juga tidak harus kebal dari kritik hanya karena telah berlangsung turun-temurun.

Yang jauh lebih penting adalah memahami mengapa masyarakat mempercayainya, bagaimana tradisi itu terbentuk, dan nilai apa yang sebenarnya ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Siraman Panjang dan Wajah Islam Nusantara

Pada akhirnya, pemandangan warga berebut air bekas cucian pusaka di Keraton Kasepuhan menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar viral di media sosial.

Di balik air tersebut terdapat sejarah Sunan Gunung Jati.

Di balik pusaka terdapat memori tentang Wali Songo.

Di balik keraton terdapat perjalanan panjang Kesultanan Cirebon.

Dan di balik tradisi Maulid terdapat upaya masyarakat mempertahankan hubungan antara agama, budaya dan identitas lokal.

Cirebon sebagai Kota Wali memang dibangun oleh lapisan sejarah semacam itu.

Karena itu, Siraman Panjang sebaiknya tidak hanya dilihat dari pertanyaan apakah air bekas cucian pusaka benar-benar membawa keberkahan atau tidak.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apa makna keberkahan itu sendiri bagi masyarakat yang menjalaninya.

Sebab bagi sebagian warga, keberkahan mungkin bukan semata-mata sesuatu yang terkandung secara fisik di dalam air. Ia bisa berarti doa, harapan, ketenangan, penghormatan kepada leluhur dan keyakinan bahwa tradisi yang diwariskan harus tetap dijaga.

Di tengah perdebatan warganet yang semakin keras, makna itulah yang justru perlu dibaca dengan lebih jernih.

Sementara Keraton Kasepuhan terus menjalankan rangkaian tradisinya menuju puncak Maulid Nabi pada 26 Agustus 2026, Siraman Panjang kembali memperlihatkan satu wajah penting Cirebon: sebuah kota tempat sejarah, spiritualitas dan kebudayaan masih berjalan berdampingan hingga hari ini.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

air berkah air cucian pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon pusaka Sunan Gunung Jati pusaka Wali Songo Siraman Panjang Cirebon tradisi Maulid Nabi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Wagub Jabar Minta Jurnalis Jaga Nurani dan Integritas di Tengah Gempuran AI

HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun

Buruan Daftar! Seleksi Petugas Haji 2027 Dibuka, Ini Jadwal dan Syarat Lengkap PPIH

Dari Veteran Perang Dingin Italia Jadi KRI Gajah Mada: Sejarah Kapal Induk Pertama Indonesia!

Aktor Revaldo Kembali Tersandung Kasus Narkoba untuk Kesembilan Kalinya, Polisi Amankan Sabu di Apartemen

Gunung Geulis Sukabumi Membara! 4 Hektare Lahan Hangus, Api Mulai Dekati Pemukiman Warga

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.