bukamata.id – Di tengah derasnya arus konten viral yang sering kali dipenuhi sensasi, muncul sebuah kisah sederhana yang justru berhasil menyentuh hati jutaan orang. Bukan tentang selebritas, bukan pula soal kontroversi, melainkan tentang seorang guru muda yang memilih menebarkan kebahagiaan melalui lembar tugas murid-muridnya.
Namanya Putu Putri Adelia Savitri. Murid-muridnya mengenal perempuan muda itu dengan panggilan sederhana namun penuh kehangatan: Bu Putri.
Guru Bahasa Bali di SDN 26 Dangin Puri, Denpasar, Bali, itu mendadak viral setelah membagikan cara uniknya memberikan penilaian kepada siswa melalui akun TikTok pribadi.
Alih-alih hanya memberi angka atau tanda silang merah, Bu Putri menambahkan gambar-gambar sederhana lengkap dengan catatan kecil yang lucu, menghibur, sekaligus memotivasi.
Tanpa disangka, unggahan tersebut meledak di media sosial. Video pertamanya menembus lebih dari satu juta penonton. Part kedua dan ketiga pun mengalami nasib serupa, berulang kali masuk FYP dan menuai ribuan komentar positif.
Guru Gen Z yang Mengubah Cara Anak Memandang Nilai
Di banyak sekolah, nilai rendah sering kali menjadi momok bagi siswa.
Tak sedikit anak yang merasa sedih, kecewa, bahkan takut pulang ke rumah karena khawatir dimarahi orang tua setelah menerima hasil ulangan.
Namun Bu Putri mencoba memandang situasi itu dari sudut yang berbeda.
Ia percaya bahwa angka bukan satu-satunya cara untuk mengukur semangat belajar anak.
Karena itulah, setiap lembar tugas yang diperiksa selalu disertai pesan-pesan personal yang disesuaikan dengan karakter masing-masing murid.
Ada yang mendapat tulisan:
“Malamnya pasti nggak baca buku ya?”
Ada pula yang menemukan catatan:
“Ini nilai apa nomor absen?”
Bahkan ketika seorang siswa memperoleh nilai rendah, Bu Putri masih menyisipkan humor:
“Sapu ijuk sapu lidi, selamat kamu remidi.”
Bagi sebagian orang, kalimat-kalimat sederhana itu mungkin terlihat biasa.
Namun bagi anak-anak sekolah dasar, perhatian kecil tersebut mampu mengubah perasaan kecewa menjadi senyum.
Berawal dari Pengalaman Masa Kecil
Menariknya, inspirasi itu ternyata lahir dari pengalaman pribadi Bu Putri sendiri.
Ia mengaku pernah menjadi siswa yang kesulitan dalam pelajaran berhitung. Nilai remedi menjadi pengalaman yang tidak asing baginya.
Saat pulang ke rumah, ia kerap menerima omelan panjang karena hasil belajarnya dianggap kurang memuaskan.
Pengalaman itulah yang membuatnya memahami bagaimana perasaan seorang anak ketika menerima nilai rendah.
Kini ketika menjadi guru, ia tidak ingin murid-muridnya merasakan tekanan yang sama.
Menurutnya, nilai memang penting. Namun menjaga rasa percaya diri anak jauh lebih penting.
“Saya rasa dengan gambar sederhana dan catatan kecil seperti itu bisa membuat anak-anak senang. Selain itu, mereka tidak terlalu sedih ketika mendapat nilai di bawah rata-rata,” ungkapnya, dikutip dari akun Instagram @iamdelsaavvtr.
Mengajar 12 Kelas, Tetap Menulis Pesan Satu per Satu
Apa yang dilakukan Bu Putri sebenarnya tidak sederhana.
Sebagai guru Bahasa Bali, ia mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6.
Total ada 12 kelas yang harus ia tangani setiap harinya.
Artinya, setiap kali tugas dikumpulkan, ada puluhan bahkan ratusan lembar yang harus diperiksa.
Namun di tengah kesibukan tersebut, ia tetap menyempatkan diri menulis catatan khusus untuk murid-muridnya.
Catatan itu tidak dibuat secara asal.
Setiap pesan disesuaikan dengan karakter, kebiasaan, dan kondisi siswa yang bersangkutan.
Karena itu, murid-murid merasa bahwa komentar tersebut benar-benar ditujukan secara personal.
“Semua kelas tahu saya mengajar dengan ceria dan tidak tegang. Walaupun capek, saya malah ketagihan menulis kata-kata kecil seperti itu,” tuturnya.
Ketika Orang Tua Ikut Bernostalgia
Yang menarik, viralnya video Bu Putri tidak hanya menyentuh siswa.
Banyak orang tua yang ikut memberikan komentar dan mengaku rindu dengan suasana sekolah yang menyenangkan seperti dulu.
Sebagian bahkan bercanda mengaku iri karena semasa kecil tidak pernah memiliki guru yang sekreatif Bu Putri.
Kolom komentar media sosial pun dipenuhi apresiasi, seperti dikutip dari kolom komentar Instagram @planetdenpasar.
“Guru keren yang akan sangat berkesan di ingatan siswanya,” tulis salah satu warganet.
“Keren gurunya kreatif. Anak-anak yang nilainya seperti nomor absen pasti tetap senyum-senyum,” komentar lainnya.
Ada pula yang menulis:
“Semangat Bu Putri, guru teladan. Jangan berubah ya.”
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa masyarakat merindukan wajah pendidikan yang lebih manusiawi, hangat, dan dekat dengan dunia anak.
Sosok Putri Adelia Savitri
Di balik viralnya konten tersebut, Bu Putri adalah representasi generasi baru pendidik Indonesia.
Sebagai guru Gen Z, ia memahami bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan inspirasi.
Namun berbeda dengan tren viral pada umumnya, kontennya justru memperlihatkan sisi pendidikan yang jarang terekspos.
Profil Singkat:
Nama: Putu Putri Adelia Savitri
Nama Panggilan: Bu Putri
Profesi: Guru Bahasa Bali
Sekolah: SDN 26 Dangin Puri, Denpasar, Bali
Mengajar: Kelas 1 hingga kelas 6 (12 kelas)
Ciri Khas: Menulis catatan motivasi dan ilustrasi lucu pada lembar tugas siswa
Platform Viral: TikTok/Instagram @iamdelsaavvtr.
Lebih dari Sekadar Nilai
Kisah Bu Putri menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal angka rapor, ujian, atau peringkat kelas.
Di balik setiap nilai yang tertulis di atas kertas, ada perasaan seorang anak yang sedang tumbuh dan belajar memahami dirinya sendiri.
Apa yang dilakukan Bu Putri mungkin terlihat sederhana: menggambar, menulis catatan kecil, lalu membagikannya di media sosial.
Namun dari kesederhanaan itulah lahir sebuah pesan besar.
Bahwa seorang guru tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga membangun kepercayaan diri, menjaga semangat, dan meninggalkan kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan murid-muridnya hingga dewasa nanti.
Di era ketika banyak orang berlomba menjadi viral, Bu Putri membuktikan bahwa ketulusan masih menjadi konten paling berharga yang bisa menyentuh hati banyak orang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










