Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus

Senin, 2 November 2026 03:00 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026

Senin, 2 November 2026 01:00 WIB

Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Raih Hasil Terbaik di Moto3 Malaysia 2026

Minggu, 1 November 2026 20:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus
  • Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026
  • Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Raih Hasil Terbaik di Moto3 Malaysia 2026
  • Laskar Prabowo 08 Jabar Rapatkan Barisan, Siap Perang Lawan Hoaks
  • Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati
  • Menalo Brace, Klok Gol Indah! Persib Tempel Ketat Persija
  • Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka
  • Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 2 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Ini Alasan Ilmiah Kuntilanak Berjenis Kelamin Perempuan

By Aga GustianaMinggu, 12 Januari 2025 18:28 WIB3 Mins Read
Penampakan kuntilanak. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kisah-kisah mengenai kuntilanak tak cuma cerita dari mulut ke mulut, tapi digambarkan juga dalam film-film dan kisah horor lainnya.

Kuntilanak ini kerap digambarkan sebagai sosok perempuan yang mati penasaran dan rohnya bergentayangan untuk mencari keadilan.

Menurut pakar, kuntilanak kerap digambarkan sebagai perempuan karena perannya sebagai penghubung dunia nyata dengan ruh di era animisme.

Seperti dalam sebuah studi yang berjudul ‘Kuntilanak Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indoesia’ milik Timo Duile, antropolog dari Departemen Kajian Asia Tenggara di Bonn University, Jerman, menguak bahwa kehadiran cerita kuntilanak berkaitan dengan pendirian Kota Pontianak.

Dalam kajian tersebut dijelaskan pendirian Kota Pontianak bermula dari kedatangan bangsawan keturunan Arab bernama Syarif Abdurrahim pada 1771.

Syarif diberi tugas menjadikan kota ini sebagai benteng melawan para perompak (Hasanuddin 2014: 21-22).

Tantangan lainnya adalah kondisi Pontianak yang masih berupa rawa-rawa dan hutan lebat.

Maka, tidak heran ada yang mengklaim bahwa nama ‘Pontianak’ berasal dari bahasa Melayu ‘pon ti’ atau pohon tinggi (Asma 2013:xxxiii). Hal ini sejalan dengan interpretasi narasi kuntilanak; pohon tinggi sering diasosiasikan dengan arwah di pedesaaan Kalimantan Barat.

Baca Juga:  Waspadai Perilaku Jahiliyah Tanpa Disadari, UAH Ingatkan Perempuan Modern!

Senada, buku ‘Pontianak heritage dan beberapa yang berciri khas Pontianak’, nama Pontianak berasal dari hantu Kuntilanak, atau hantu perempuan, yang diklaim banyak di pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak.

“Cerita bermula saat rombongan Syarif Abdurrahim tiba di kawasan itu. Mereka melihat banyak gangguan dan suara yang menakutkan. Gangguan tersebut dianggap sebagai hantu jahat, sebagai hantu kuntilanak dan membuat takut orang-orang di atas perahu,” dikutip dari buku tersebut.

“Keesokan harinya, mereka tidak melanjutkan perjalanan […]. Maka, sebagai alat pengusir hantu, Syarif Abdurrahim menembakkan meriam.

Selain itu, dalam sebuah tulisan berjudul Monsterisasi Perempuan dan Monoteisme: Sebuah Perspektif Longue Duree di Jurnal Perempuan mengungkap sosok perempuan menyeramkan itu tak lepas dari fenomena kepercayaan masa lalu. Tulisan itu ditulis oleh aktivis perempuan bernama Nadya Karima Melati.

Baca Juga:  Rest Area KM 59 Tol Cikampek Sediakan Layanan Pemudik Perempuan dan Anak

Ia mengutip pendapat antropolog Jeannette Marie Maego dan Alan Howard dalam buku Spirits in Culture History and Mind (1996).

“Menurut mereka, kehadiran monoteisme tidak ingin menghilangkan sosok dan relasi masyarakat dengan roh [spirits] sebagai kepercayaan asli mereka secara total, namun mengubah peran roh dalam masyarakat dan menjadikannya monster/hantu,” tulis Nadya.

Ia menuturkan pada masa pra-agama monoteisme perempuan jadi penyambung komunikasi antara roh dan manusia.

“Dalam kepercayaan lokal sebelum kehadiran agama monoteis, roh hidup berdampingan dan saling berkomunikasi. Roh berbeda dengan dewa yang memiliki kekuatan. Roh pada umumnya memiliki berbagai sifat sebagaimana manusia pada umumnya: ada yang baik, ada yang jahat atau ada yang netral,” tuturnya.

“Untuk itu dibutuhkan perantara dari dunia manusia untuk bisa berkomunikasi dengan dunia roh. Perantara tersebut adalah sosok yang sakti seperti perempuan, sebab mereka menstruasi atau sosok dengan identitas harmonis seperti bissu (rohaniawan, red),” lanjut dia.

Baca Juga:  Berkedok Jualan Lumpia, Dua Perempuan di Bandung Jadi Pengedar Narkotika

Ia menambahkan konsep ketuhanan dalam agama monoteisme seperti Islam dan Kristen merupakan konsep yang “maskulin, menggeser kemudian menghancurkan kepercayaan lokal yang berhubungan dengan roh dan alam.”

“Kehadiran monoteisme menolak adanya sosok spiritual lain selain Tuhan. Monoteisme mengganti peran dewa-dewi menjadi sosok panteon, santa atau manusia super. Sementara roh dengan posisi yang setara manusia bergeser menjadi hantu/monster,” jelas dia.

Monoteisme ikut menggeser makna upacara-upacara kepercayaan yang menggunakan metode komunikasi dengan roh seperti kegiatan yang berhubungan dengan proses transenden menjadi “kesurupan”.

Hasilnya, peran perempuan yang sebelumnya sebagai perantara roh berubah menjadi dukun atau penyihir. Pasalnya, perempuan “mampu berkomunikasi dan memerintahkan roh”.

“Perempuan dianggap sebagai sosok yang lemah dan mudah dirasuki oleh roh jahat, atau roh jahat itu berwujud seperti perempuan,” ujar Nadya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

perempuan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus

Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati

Mojang Bandung Adjeng Wulandari, Buktikan Prestasi dan Organisasi Bisa Berjalan Beriringan

Raffi Ahmad Minta Maaf Lagi! Ungkap Siapa Pengundangnya ke Bundaran HI

Emas Antam Hari Ini Tertahan di Rp 2,526 Juta, Saatnya Beli?

Bansos

Siap-siap! Rilis 10 November, Syarat Dapat Bansos Digital Wajib Scan Wajah dan NIK

Terpopuler
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • KHW 400 OTW Layar Lebar? Heboh Rumah Produksi Daftarkan Judul Film Mirip Konten Nadia Omara!
  • Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.