bukamata.id – Sebuah utas yang diunggah komika Arie Kriting di media sosial mendadak menjadi perhatian publik. Alih-alih membahas isu politik atau kontroversi, Arie Kriting mengajak warganet melihat sisi lain dari pemerintahan daerah dengan menantang mereka menyebutkan program positif yang dijalankan para gubernur di 38 provinsi di Indonesia.
Pertanyaan sederhana itu kemudian berkembang menjadi perbincangan luas. Warganet mulai membagikan berbagai program pemerintah daerah yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di tengah banyaknya jawaban yang bermunculan, nama Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menjadi salah satu yang paling banyak mendapat sorotan.
Dua program yang mencuri perhatian adalah Berani Cerdas dan Berani Sehat. Keduanya dinilai memiliki pendekatan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, yakni pendidikan dan kesehatan.
Melalui Berani Cerdas, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memberikan dukungan biaya pendidikan bagi mahasiswa asal Sulawesi Tengah yang memiliki KTP daerah tersebut. Program ini mencakup jenjang pendidikan mulai dari sarjana atau S1 hingga doktor atau S3.
Sementara melalui Berani Sehat, masyarakat Sulawesi Tengah mendapatkan kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan. Salah satu kemudahan yang menjadi perhatian adalah warga dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan menunjukkan KTP.
Dua kebijakan tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan warganet setelah unggahan terkait program Anwar Hafid kembali beredar di media sosial.
Warganet Soroti Program Anwar Hafid
Komentar positif bermunculan di kolom komentar unggahan akun Instagram @zonamahasiswa.id yang mengutip perbincangan tersebut.
Sebagian warganet menilai kebijakan yang menyasar pendidikan dan kesehatan menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
“Keliatan dr wajah bapaknya, berseri. Tulus, emang niat bantu rakyat. Best pak, semoga bapak sehat selalu, dilimpahkan kebaikan dunia akhirat. Aamiin,” tulis akun @alk***.
Komentar lain menyebut Anwar Hafid sebagai sosok pemimpin yang dinilai memiliki visi untuk mengembangkan daerah.
“Gubernur yg amanah dan visioner utk memajukan masyarakat daerahnya,” tulis akun @dwi***.
Sementara akun lainnya mengaku ikut bangga melihat adanya program pemerintah yang dinilai memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Alhamdulillah.. turut bahagia & bangga bahwa ternyata ada pemimpin yg baik di Indonesia, semoga kebaikannya menular ke pemimpin-pemimpin lain di Indonesia,” tulis akun @lai***.
Respons tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kepala daerah tidak selalu berhenti pada persoalan politik. Ketika sebuah program dianggap menyentuh kebutuhan sehari-hari, perhatian publik dapat bergeser kepada dampak yang dirasakan masyarakat.
Bukan Pertama Kali Anwar Hafid Mengandalkan Program Pendidikan dan Kesehatan
Sorotan terhadap program Berani Cerdas dan Berani Sehat sebenarnya memiliki konteks panjang dalam perjalanan pemerintahan Anwar Hafid.
Jauh sebelum menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid telah memiliki pengalaman memimpin Kabupaten Morowali.
Ia pernah menjabat sebagai Bupati Morowali selama dua periode, yakni sejak 2007 hingga 2018. Pada masa kepemimpinannya, sejumlah program di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pertanian hingga pengentasan kemiskinan menjadi bagian dari kebijakan pemerintah daerah.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Morowali Sarjana.
Program tersebut diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi. Berdasarkan data yang tercantum dalam profil Anwar Hafid, jumlah warga Morowali yang melanjutkan pendidikan tinggi disebut meningkat dari sekitar 700 orang menjadi lebih dari 3.400 orang.
Peningkatan akses pendidikan tersebut juga dikaitkan dengan kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Morowali, dari 65,2 pada 2007 menjadi 70,3 pada 2018.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu latar belakang yang membuat isu pendidikan kembali mendapat tempat dalam kebijakan Anwar Hafid ketika memimpin Sulawesi Tengah.
Dari Kesehatan Gratis hingga Berani Sehat
Selain pendidikan, sektor kesehatan juga menjadi salah satu bidang yang sejak lama mendapat perhatian dalam perjalanan pemerintahan Anwar Hafid.
Ketika memimpin Morowali, ia disebut menerapkan program kesehatan gratis. Kebijakan tersebut dilengkapi dengan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Daerah serta program Gema Bumi, atau Gerakan Selamatkan Ibu Hamil.
Pendekatan tersebut menempatkan layanan kesehatan sebagai kebutuhan dasar yang harus dapat dijangkau masyarakat.
Gagasan serupa kemudian terlihat dalam program Berani Sehat di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah.
Kemudahan akses layanan kesehatan hanya dengan menunjukkan KTP menjadi salah satu poin yang paling banyak dibicarakan masyarakat.
Bagi warga, kebijakan semacam ini memiliki arti praktis. Masyarakat tidak hanya membutuhkan rumah sakit dan fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan sistem yang sederhana ketika mereka harus mendapatkan pelayanan.
Jejak Panjang dari Pemerintahan Desa
Perjalanan Anwar Hafid menuju kursi gubernur juga tidak berlangsung secara tiba-tiba.
Pria kelahiran Wosu, Bungku Barat, Morowali, Sulawesi Tengah, 14 Agustus 1969, tersebut mengawali karier pemerintahan dari tingkat desa.
Ia pernah menjadi Kepala Desa Rantebala di Kabupaten Luwu pada 1992-1997. Setelah itu, kariernya berlanjut melalui sejumlah posisi pemerintahan, mulai dari sekretaris camat, kepala bagian pemerintahan, camat, hingga Asisten I Bidang Pemerintahan Kabupaten Luwu Timur.
Pengalaman panjang di birokrasi tersebut kemudian menjadi modal ketika ia memasuki panggung politik dan mencalonkan diri sebagai Bupati Morowali.
Anwar Hafid berhasil memenangkan Pilkada Morowali dan memimpin daerah tersebut dalam dua periode.
Setelah menyelesaikan masa kepemimpinannya sebagai bupati, ia melanjutkan karier politik di tingkat nasional sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah.
Di parlemen, ia tercatat bertugas di Komisi V DPR RI yang membidangi sejumlah sektor, antara lain infrastruktur dan pembangunan daerah.
Kini, Anwar Hafid melanjutkan perjalanan politiknya sebagai Gubernur Sulawesi Tengah periode 2025-2030.
Pendidikan Menjadi Salah Satu Fondasi Kepemimpinan
Perjalanan pendidikan Anwar Hafid juga cukup panjang. Ia menyelesaikan pendidikan Diploma Ilmu Pemerintahan di APDN Makassar pada 1991, kemudian melanjutkan S1 Ilmu Pemerintahan di Universitas Hasanuddin.
Pendidikan magister ditempuh di Universitas Muslim Indonesia dan diselesaikan pada 2011. Sementara pendidikan doktoral bidang Ilmu Pemerintahan ditempuh di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan diselesaikan pada 2023.
Latar belakang pendidikan pemerintahan tersebut berjalan beriringan dengan pengalaman panjangnya sebagai birokrat, kepala daerah dan legislator.
Infrastruktur dan Ekonomi Morowali
Tidak hanya berbicara mengenai pendidikan dan kesehatan, rekam jejak Anwar Hafid di Morowali juga mencakup pembangunan infrastruktur.
Sejumlah pembangunan yang dikaitkan dengan masa kepemimpinannya antara lain pembangunan jembatan penghubung antarpulau, Bandara Morowali Maleo, pelabuhan, serta pembangunan jalan yang mendukung aktivitas masyarakat dan komoditas pertanian.
Di sektor pertanian, terdapat program bantuan alat dan dukungan anggaran bagi petani.
Sementara di sektor ekonomi, pengembangan kawasan industri menjadi salah satu tonggak penting dalam perubahan Morowali.
Pertumbuhan aktivitas investasi di kawasan industri kemudian membuka lapangan pekerjaan dan ikut mendorong perubahan struktur ekonomi daerah.
Data yang tercantum dalam profil Anwar Hafid menyebut pertumbuhan ekonomi Morowali berada pada kisaran 7-8 persen per tahun. Pada periode yang sama, persentase penduduk miskin disebut turun dari sekitar 12 persen menjadi 9 persen.
Program Aladin untuk Rumah Tidak Layak Huni
Persoalan tempat tinggal juga menjadi bagian dari kebijakan yang pernah dijalankan Anwar Hafid ketika memimpin Morowali.
Melalui program Aladin, yang merupakan singkatan dari atap, lantai dan dinding, pemerintah daerah berupaya mengurangi jumlah rumah tidak layak huni.
Program tersebut disebut berhasil menurunkan jumlah rumah tidak layak huni dari sekitar 12 ribu menjadi sekitar 2.200 rumah.
Kebijakan semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diarahkan pada proyek berskala besar, tetapi juga menyasar persoalan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Dari Morowali hingga Sulawesi Tengah
Kini, tantangan Anwar Hafid tentu berbeda. Jika ketika menjadi Bupati Morowali cakupan pemerintahannya berada pada level kabupaten, sebagai gubernur ia harus mengelola wilayah Sulawesi Tengah yang jauh lebih luas dengan karakteristik masyarakat yang beragam.
Karena itu, program seperti Berani Cerdas dan Berani Sehat menjadi penting dalam melihat arah pemerintahannya.
Pendidikan dan kesehatan merupakan dua sektor yang dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Pendidikan menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan kesehatan menjadi salah satu fondasi produktivitas masyarakat.
Viralnya pembahasan mengenai program tersebut pun memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki perhatian terhadap kebijakan yang konkret dan mudah dipahami.
Bukan sekadar slogan, publik ingin melihat bagaimana kebijakan pemerintah diterjemahkan menjadi layanan yang benar-benar dapat diakses.
Dalam konteks itulah nama Anwar Hafid muncul dalam perbincangan yang diawali dari tantangan Arie Kriting di media sosial.
Pada akhirnya, viralnya sebuah utas bukan hanya soal siapa gubernur yang paling ramai dibicarakan. Perbincangan tersebut juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh berbagai program pemerintah daerah yang selama ini mungkin belum banyak diketahui publik.
Dan di Sulawesi Tengah, Berani Cerdas dan Berani Sehat menjadi dua program yang kini ikut membawa nama Anwar Hafid ke tengah percakapan publik nasional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










