Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Sama-Sama Tercekik Biaya Hidup! Warga Prancis Berani Runtuhkan Kota, Rakyat RI Cuma Sibuk Mode Bertahan?

Selasa, 20 Oktober 2026 10:00 WIB

Persib Mengancam di Posisi 5 Besar! Ini Kalkulasi Peluang Maung Bandung Geser Macan Kemayoran

Selasa, 20 Oktober 2026 09:42 WIB

Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga

Selasa, 20 Oktober 2026 09:31 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Sama-Sama Tercekik Biaya Hidup! Warga Prancis Berani Runtuhkan Kota, Rakyat RI Cuma Sibuk Mode Bertahan?
  • Persib Mengancam di Posisi 5 Besar! Ini Kalkulasi Peluang Maung Bandung Geser Macan Kemayoran
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak
  • Bukan Cuma Dijemur, Ini Metode Paling Ampuh Membasmi Kutu Busuk dan Telurnya Sampai Tuntas
  • Berburu Sarapan di Bandung? Ini 5 Tempat Lontong Kari yang Bisa Dicoba
  • Bantuan Subsidi Upah 2026 Total Rp900 Ribu, Kapan Cair ke Rekening Pekerja?
  • 5 Wisata Kuliner Malam Cirebon 2026, Wajib Coba Empal Gentong!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kasus Bullying SMPN 40 Bandung Ungkap Keterbatasan Penanganan Siswa Inklusi di Sekolah Negeri

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 21:34 WIB2 Mins Read
Ilustrasi perundungan. (Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kasus perundungan (bullying) yang menimpa seorang siswa di SMPN 40 Bandung mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Bandung. Korban dilaporkan mengalami trauma hingga menolak kembali bersekolah.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, melalui unggahan di akun Instagram resminya. Farhan menegaskan bahwa keamanan anak di lingkungan sekolah merupakan hak mutlak yang tidak bisa ditawar.

Menindaklanjuti kasus tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bandung, Asep Gufron, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama tim psikolog sekolah telah melakukan asesmen terhadap korban.

“Hasil asesmen tenaga psikolog merekomendasikan anak itu dipindah ke sekolah berkebutuhan khusus. Karena memang di tingkat SMP (umum), kami belum memiliki tenaga pengajar khusus untuk menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK),” ujar Asep, Selasa (20/1/2026).

Asep menjelaskan, korban yang kini duduk di bangku kelas VII memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya perundungan di lingkungan sekolah sejak sekitar tiga bulan lalu.

“Anak itu kalau mengobrol agak terbata-bata, komunikasinya susah. Mungkin saat berinteraksi, teman-temannya bercanda (hereuy), lalu anak ini merasa tersinggung. Dari sana muncul masalah tersebut,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa korban merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara yang seluruhnya memiliki kebutuhan khusus. Dua kakaknya menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), sementara korban sebelumnya dimasukkan ke sekolah umum.

Disdik Kota Bandung mengakui bahwa sekolah negeri, baik SD maupun SMP, masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus untuk menangani siswa inklusi atau ABK.

Menanggapi isu yang berkembang di media sosial, Asep menegaskan bahwa pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan tidak lepas tangan. Hingga kini, komunikasi intensif terus dilakukan dengan orang tua korban untuk mencari solusi terbaik.

“Kami masih terus membujuk dan meyakinkan orang tuanya. Jujur saja, di SMP 40 tidak ada tenaga pengajarnya. Kami khawatir jika dipaksakan, pola pembelajarannya tidak akan maksimal bagi si anak. Kami ingin ada keberlanjutan pendidikan yang tepat sesuai hasil asesmen,” katanya.

Asep menambahkan, Dinas Pendidikan Kota Bandung memastikan akan memfasilitasi proses pemindahan sekolah agar korban tetap memperoleh hak pendidikannya di lingkungan yang lebih aman, suportif, dan sesuai dengan kebutuhan emosional maupun akademiknya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga

Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak

Bantuan Subsidi Upah 2026 Total Rp900 Ribu, Kapan Cair ke Rekening Pekerja?

Eropa Membara! Berawal dari Aksi Pelajar Prancis, Gelombang Unjuk Rasa Meluas Hingga Bentrokan di 6 Negara

Demo Jakarta

Jelang Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Disdik Jabar Tebar Ancaman Sanksi Bagi Pelajar yang Nekat Ikut Aksi

Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.