Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Sanksi FIFA Resmi Dicabut, Persib Bisa Daftarkan Skuad Baru untuk Musim 2026/27

Rabu, 12 Agustus 2026 20:02 WIB

Hilang 12 Hari, Warga Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di Sumur Tua yang Dihuni King Kobra

Rabu, 12 Agustus 2026 19:46 WIB

Goreng Saham Pakai Uang Umat? Polemik Panas Wakaf Istiqlal Masuk Bursa

Rabu, 12 Agustus 2026 19:38 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Sanksi FIFA Resmi Dicabut, Persib Bisa Daftarkan Skuad Baru untuk Musim 2026/27
  • Hilang 12 Hari, Warga Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di Sumur Tua yang Dihuni King Kobra
  • Goreng Saham Pakai Uang Umat? Polemik Panas Wakaf Istiqlal Masuk Bursa
  • Bukan Sekali! Dua Gempa Dangkal Guncang Bandung, Getarannya Dirasakan Warga Pangalengan
  • Rencana Pembatasan Pertalite Desil 9-10 Dikritik, Pakar Warning Kelas Menengah Terancam Jadi Korban
  • Dua Orang Ditangkap Imbas Kontroversi Tantangan Hafalan Al-Qur’an Hadiah Miras
  • Tak Perlu Jago Desain, 5 Prompt AI Ini Bisa Bikin Poster HUT RI Makin Keren
  • Persib Dapat Suntikan 2 Bintang Timnas, Sandy Walsh dan Ragnar Siap Unjuk Gigi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 13 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kasus Bullying SMPN 40 Bandung Ungkap Keterbatasan Penanganan Siswa Inklusi di Sekolah Negeri

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 21:34 WIB2 Mins Read
Ilustrasi perundungan. (Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kasus perundungan (bullying) yang menimpa seorang siswa di SMPN 40 Bandung mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Bandung. Korban dilaporkan mengalami trauma hingga menolak kembali bersekolah.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, melalui unggahan di akun Instagram resminya. Farhan menegaskan bahwa keamanan anak di lingkungan sekolah merupakan hak mutlak yang tidak bisa ditawar.

Menindaklanjuti kasus tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bandung, Asep Gufron, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama tim psikolog sekolah telah melakukan asesmen terhadap korban.

“Hasil asesmen tenaga psikolog merekomendasikan anak itu dipindah ke sekolah berkebutuhan khusus. Karena memang di tingkat SMP (umum), kami belum memiliki tenaga pengajar khusus untuk menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK),” ujar Asep, Selasa (20/1/2026).

Asep menjelaskan, korban yang kini duduk di bangku kelas VII memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya perundungan di lingkungan sekolah sejak sekitar tiga bulan lalu.

“Anak itu kalau mengobrol agak terbata-bata, komunikasinya susah. Mungkin saat berinteraksi, teman-temannya bercanda (hereuy), lalu anak ini merasa tersinggung. Dari sana muncul masalah tersebut,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa korban merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara yang seluruhnya memiliki kebutuhan khusus. Dua kakaknya menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), sementara korban sebelumnya dimasukkan ke sekolah umum.

Disdik Kota Bandung mengakui bahwa sekolah negeri, baik SD maupun SMP, masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus untuk menangani siswa inklusi atau ABK.

Menanggapi isu yang berkembang di media sosial, Asep menegaskan bahwa pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan tidak lepas tangan. Hingga kini, komunikasi intensif terus dilakukan dengan orang tua korban untuk mencari solusi terbaik.

“Kami masih terus membujuk dan meyakinkan orang tuanya. Jujur saja, di SMP 40 tidak ada tenaga pengajarnya. Kami khawatir jika dipaksakan, pola pembelajarannya tidak akan maksimal bagi si anak. Kami ingin ada keberlanjutan pendidikan yang tepat sesuai hasil asesmen,” katanya.

Asep menambahkan, Dinas Pendidikan Kota Bandung memastikan akan memfasilitasi proses pemindahan sekolah agar korban tetap memperoleh hak pendidikannya di lingkungan yang lebih aman, suportif, dan sesuai dengan kebutuhan emosional maupun akademiknya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

anak berkebutuhan khusus bullying Dinas Pendidikan Bandung inklusi pendidikan keamanan sekolah SMPN 40 Bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hilang 12 Hari, Warga Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di Sumur Tua yang Dihuni King Kobra

Goreng Saham Pakai Uang Umat? Polemik Panas Wakaf Istiqlal Masuk Bursa

gempa

Bukan Sekali! Dua Gempa Dangkal Guncang Bandung, Getarannya Dirasakan Warga Pangalengan

Rencana Pembatasan Pertalite Desil 9-10 Dikritik, Pakar Warning Kelas Menengah Terancam Jadi Korban

Dua Orang Ditangkap Imbas Kontroversi Tantangan Hafalan Al-Qur’an Hadiah Miras

Geger! 35 Pohon di Bandung Ditebang Ilegal, Ada yang Sudah Ditutup Cor

Terpopuler
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • FOTO: Lebih dari Sepak Bola: Momen Hangat Penuh Respek di Final Piala Presiden 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.