Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Game Free Fire

Gas Keun! Kode Redeem FF Terbaru 28 Juni 2026, Klaim Token SG2 dan Bundle Keren Gratis Sebelum Hangus

Minggu, 28 Juni 2026 06:00 WIB

Update Hari Ini! Kode Redeem Genshin Impact 28 Juni 2026, Buruan Klaim Primogems Gratis Sebelum Hangus

Minggu, 28 Juni 2026 02:00 WIB

Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini: Siaran Langsung TVRI Laga Penentu Nasib Argentina, Inggris, dan Portugal

Minggu, 28 Juni 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Gas Keun! Kode Redeem FF Terbaru 28 Juni 2026, Klaim Token SG2 dan Bundle Keren Gratis Sebelum Hangus
  • Update Hari Ini! Kode Redeem Genshin Impact 28 Juni 2026, Buruan Klaim Primogems Gratis Sebelum Hangus
  • Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini: Siaran Langsung TVRI Laga Penentu Nasib Argentina, Inggris, dan Portugal
  • Proyek Rahasia Skuad Garuda: John Herdman Kantongi 16 Nama Pemain Diaspora Baru untuk Timnas Indonesia
  • Bukan El Nino, Studi Ungkap Biang Kerok Utama yang Bikin Eropa Membara hingga 44 Derajat Celsius
  • Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Alarm Bahaya ‘The Big One’ di San Andreas Kini Berstatus Kritis
  • Siap-siap Begadang! Ini Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia Minggu 28 Juni 2026 di TVRI
  • Blunder Fatal? Niat Membantah, Anggota Dewan Malah Akui Bentak Dokter Icha
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 28 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kematian 16 Sapi Perah di Bandung Barat Diselidiki, Peternak Curiga Penyakit Baru

By Aga GustianaSabtu, 26 Juli 2025 17:22 WIB4 Mins Read
Sapi
Ilustrasi sapi. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat tengah menyelidiki kasus kematian 16 ekor sapi perah secara misterius di Kampung Pojok Girang, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang. Kasus ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak, meski dinas terkait menegaskan bahwa kejadian ini masih bersifat insidental dan belum mengarah pada wabah.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat, Acep Rohimat, menjelaskan bahwa kematian ternak tersebut bukan terjadi secara serentak, melainkan sejak awal tahun 2025.

“Saat kami wawancarai peternak, diketahui bahwa kematian ternak sebanyak 16 ekor itu bukan terjadi dalam satu waktu, melainkan akumulasi sejak awal tahun 2025,” ujar Acep, Sabtu (26/7/2025).

“Jadi, bukan kejadian mendadak atau masif, dan tidak menunjukkan gejala penyakit seperti PMK (Penyakit Mulut dan Kuku). Bisa dikatakan kejadian ini bersifat insidental,” sambungnya.

Pemeriksaan Langsung & Sampel Lab

Tim Dispernakan KBB telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi kandang untuk mengevaluasi kondisi sapi dan lingkungan. Dari hasil observasi awal, kondisi fisik hewan ternak secara umum terlihat sehat.

Baca Juga:  63 Siswa di Bandung Barat Keracunan Usai Santap MBG

“Dalam investigasi ini, kami mengambil sampel dan juga memeriksa langsung kondisi kandang serta hewan ternaknya. Secara umum, ternak yang kami lihat dalam kondisi sehat,” jelas Acep.

Ia menambahkan bahwa perilaku makan sapi masih normal dan tidak ditemukan gejala demam. Selain itu, jenis pakan yang diberikan juga beragam, dari hijauan hingga pakan buatan. Kebersihan kandang dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam mencegah penyakit.

“Kami juga telah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan kandang, karena salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan ternak adalah biosekuriti kandang,” katanya.

Belum Dapat Disebut Wabah

Meski gejala yang dialami sebagian sapi terlihat tidak biasa, Acep menegaskan belum ada indikasi bahwa ini adalah wabah. Sampel darah telah diambil dan sedang diuji di laboratorium, dengan hasil yang diperkirakan keluar dalam sepekan.

“Terkait penyebab pasti, kami telah melakukan pemeriksaan fisik secara visual dan mengambil sampel darah untuk diuji di laboratorium. Sebab, sebagai dokter hewan, kami tidak bisa menebak penyebab penyakit tanpa hasil lab yang valid,” ujar Acep.

Baca Juga:  Dayeuhkolot Lumpuh: Banjir 1,5 Meter Rendam Kampung, Warga Terisolasi!

“Saat ini belum bisa dikategorikan sebagai wabah, karena tidak terjadi di banyak titik, hanya satu lokasi saja. Gejala yang terlihat pun umum, tidak aneh atau mencurigakan,” tambahnya.

Dispernakan juga mengimbau agar para peternak segera melapor apabila menemukan ternaknya menunjukkan gejala sakit, guna dilakukan isolasi dan pencegahan penularan.

Dugaan Peternak: Fenomena Baru?

Sementara itu, Enok (50), salah satu peternak asal Desa Cikahuripan, menceritakan bahwa beberapa sapi miliknya mati setelah proses melahirkan. Tidak hanya induk, anak sapi yang baru lahir pun mengalami kejang sebelum akhirnya mati.

“Begitu lahir, anak sapinya kejang-kejang, tidak lama mati. Induknya saya infus, tapi tiga jam kemudian malah seperti muntah, dan akhirnya menyusul mati juga,” ungkap Enok.

Ia menyebut bahwa kejadian serupa juga dialami peternak lain di sekitarnya.

“Polanya hampir sama, sapi yang sedang hamil tua menunjukkan gejala aneh sebelum melahirkan, dan setelah proses melahirkan, baik anak maupun indukan sapi sama-sama mati dalam hitungan jam,” jelasnya.

Baca Juga:  Tanah Bergerak per Menit, BPBD Jabar Tetapkan Status Tanggap Darurat 12 Hari di Cigombong

Enok menduga ada penyakit baru yang menyerang sapi bunting. Meski sempat dikaitkan dengan PMK, menurutnya kasus ini berbeda karena gejala khas PMK, seperti luka di mulut dan penularan cepat antar sapi dalam satu kandang, tidak ditemukan.

“Kalau PMK dulu, biasanya semua sapi dalam satu kandang kena, dan gejalanya terlihat jelas di mulut. Tapi ini aneh, cuma sapi-sapi bunting yang kena,” katanya.

Kondisi Kandang Jadi Perhatian

Dalam proses pemeriksaan, Acep mengungkapkan bahwa ada beberapa kandang yang kondisinya cukup baik, namun tak sedikit pula yang kebersihannya perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan adanya kandang yang memelihara sapi dan unggas dalam satu area dengan kualitas air minum yang kurang layak.

“Ini perlu menjadi perhatian karena bisa memengaruhi kesehatan ternak sapi,” ujarnya.

Acep menegaskan agar para peternak tidak mudah percaya dengan informasi yang belum diverifikasi dan tetap menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah preventif utama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bandung Barat Dispernakan investigasi sapi kesehatan hewan penyakit ternak peternakan Lembang sapi mati mendadak sapi perah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bukan El Nino, Studi Ungkap Biang Kerok Utama yang Bikin Eropa Membara hingga 44 Derajat Celsius

Ilustrasi gempa

Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Alarm Bahaya ‘The Big One’ di San Andreas Kini Berstatus Kritis

Blunder Fatal? Niat Membantah, Anggota Dewan Malah Akui Bentak Dokter Icha

Mau Jaga Toko atau Ikut Perang? Tragedi Latihan Militer Koperasi Desa, 5 Nyawa Jadi Korban!

Gunakan Besi hingga Rokok, Taufik Hidayat Lampiaskan Amarah ke YTR Gegara Cemburu dan Stres Kerja

Lari ke Berbagai Daerah demi Kelabuhi Petugas, Taufik Hidayat Sempat Menggelandang dan Tidur di SPBU

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Jangan Klik Link Ini! Tren Viral TikTok ‘Handuk Putih’ Picu Ancaman Phishing Serius
  • Api Mendadak Berkobar di RM Tamagochi Bandung, Diduga Berawal dari Meja Konsumen
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.