Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun

Rabu, 26 Agustus 2026 11:37 WIB

Buruan Daftar! Seleksi Petugas Haji 2027 Dibuka, Ini Jadwal dan Syarat Lengkap PPIH

Rabu, 26 Agustus 2026 11:18 WIB

Mimpi Jadi Nyata! Carlos Baleba Resmi Gabung Manchester United

Rabu, 26 Agustus 2026 10:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun
  • Buruan Daftar! Seleksi Petugas Haji 2027 Dibuka, Ini Jadwal dan Syarat Lengkap PPIH
  • Mimpi Jadi Nyata! Carlos Baleba Resmi Gabung Manchester United
  • Harga Emas Antam Hari Ini 26 Agustus 2026: 1 Gram Masih Rp2,768 Juta, Cek Daftar Lengkapnya
  • Pesta Biru 2026 Pecah! 32 Penggawa Persib Diperkenalkan, Target Gelar Keempat Makin Nyata
  • Dari Veteran Perang Dingin Italia Jadi KRI Gajah Mada: Sejarah Kapal Induk Pertama Indonesia!
  • Aktor Revaldo Kembali Tersandung Kasus Narkoba untuk Kesembilan Kalinya, Polisi Amankan Sabu di Apartemen
  • Gunung Geulis Sukabumi Membara! 4 Hektare Lahan Hangus, Api Mulai Dekati Pemukiman Warga
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kisruh Takhta Keraton Surakarta: Dua Putra PB XIII Saling Klaim Raja, Konflik Warisan Raja Kembar 2004 Kembali Terulang

By SusanaMinggu, 16 November 2025 10:45 WIB5 Mins Read
KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram (Gusti Purbaya). Foto: Instagram @kraton_solo.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dualisme kepemimpinan kembali mengguncang Keraton Surakarta Hadiningrat usai wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII pada 2 November 2025.

Dua putra mendiang raja, KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram (Gusti Purbaya) dan KGPH Hangabehi (Mangkubumi), kini sama-sama mengklaim sebagai penerus tahta PB XIV, memicu babak baru dalam sejarah panjang konflik internal keraton.

Kondisi ini mengingatkan publik pada masa kelam tahun 2004, ketika Keraton Surakarta pecah menjadi dua kubu dan melahirkan istilah “raja kembar”: PB XIII Hangabehi dan PB XIII Tedjowulan. Konflik lama itu kini kembali menggema ketika dua pihak kembali berselisih soal penerus tahta PB XIII.

Purbaya Resmi Naik Takhta Lewat Jumenengan Dalem Nata Binayangkare

Pada Sabtu (15/11/2025), prosesi Jumenengan Dalem Nata Binayangkare digelar khidmat di Bangsal Manguntur Tangkil, Kompleks Siti Hinggil Keraton Surakarta. Dalam upacara penuh sakralitas adat Jawa tersebut, Gusti Purbaya diangkat sebagai raja bergelar:

Sampeyan Dalem Ingkang Susuhunan Kanjeng Susuhunan Senopati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kaping 14.

Dalam sabdanya, PB XIV Purbaya menegaskan tiga komitmen utama:

  • menjaga paugeran dan syariat,
  • mendukung NKRI secara penuh,
  • serta melestarikan budaya Jawa dan tradisi Dinasti Mataram.

Kakak kandungnya, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, mengatakan bahwa keputusan itu merupakan kelanjutan dari penunjukan putra mahkota oleh PB XIII sebelum mangkat.

Ia juga menegaskan bahwa sumpah yang diikrarkan Purbaya di depan jenazah sang ayah tidak melanggar paugeran, melainkan simbol kesetiaan untuk mencegah kekosongan kepemimpinan.

“Apa yang dilakukan Adipati Anom, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro, sesuai dengan adat Kasunanan. Dulu juga pernah terjadi pada era para leluhur. Sumpah di hadapan jenazah ayahanda adalah simbol kesetiaan, bukan pelanggaran adat,” ujarnya.

Penobatan Purbaya turut dihadiri sejumlah tokoh negara, seperti:

  • Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka,
  • Gubernur Jateng Ahmad Luthfi,
  • Wali Kota Solo Respati Ardi.

Kehadiran tamu negara ini disebut memperkuat legitimasi Purbaya.

Selain itu, GKR Timoer menyesalkan tindakan sejumlah kerabat yang menggelar prosesi adat tersendiri, yang dianggap bertentangan dengan kesepakatan keluarga besar putra-putri dalem Pakubuwono XII.

“Saya hanya kasihan keraton dipecah belah seperti ini. Seperti mengulang suksesi PB XIII yang lalu. Saya sedih saja Gusti Mangkubumi bisa berkhianat dengan kami putra-putri, kakak-kakak dan adik-adiknya. Itu saja yang saya sesalkan,” terangnya.

Kubu Hangabehi Curi Start Penobatan

Sebelumnya, kubu kerabat yang difasilitasi Maha Menteri KGPA Tedjowulan menggelar rapat di Kagungan Dalem Sasana Handrawina pada Kamis (13/11/2025). Mereka mengangkat KGPH Hangabehi, putra tertua PB XIII dari istri kedua, sebagai Paku Buwono XIV versi kubu Hangabehi.

Tokoh sentral kubu ini, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), menegaskan bahwa menurut paugeran, bila raja tidak memiliki permaisuri resmi, pewaris takhta adalah putra laki-laki tertua, sehingga Hangabehi dianggap lebih layak menjadi PB XIV.

“Gusti Behi yang sekarang PB XIV kan tidak minta kepada Allah untuk dilahirkan lebih tua dari Purboyo. Itu sudah ditekankan, dijadikan acuan, paugeran bahwa kalau tidak punya permaisuri ya sudah anak laki-laki tertua. Tapi memang kan direkayasa seakan-akan ada permaisuri, ada surat wasiat, pengangkatan Adipati Anom sebelumnya baru akan kita kaji secara hukum,” kata dia.

Namun Tedjowulan sendiri kemudian mengaku tidak diberi tahu akan adanya penobatan dalam rapat itu. Ia mengungkapkan bahwa saat rapat dimulai, ia tiba-tiba diminta menjadi saksi pengukuhan karena proses sudah berlangsung.

“Ada kegiatan tahu-tahu saya dimintai untuk jadi saksi. Tadi ada pengikraran, penobatan menjadikan Hangabehi (Mangkubumi) sebagai pewaris PB XIII. Jadi sebagai Pangeran Pati. Jadi saya tidak tahu. Karena sudah di depan orang banyak saya dimintai restu dan sebagainya saya ini orangtua ya sudah saya restui saja. Tapi saya prinsipnya tidak tahu kalau ada tambahan itu (penunjukan KGPH Hangabehi jadi ahli waris takhta),” ujarnya.

Konflik Keraton Sudah Berjalan Sejak 2004: Warisan “Raja Kembar” yang Tak Pernah Tuntas

Kisruh suksesi Keraton Surakarta bukanlah hal baru. Sejak 2004, keraton terus dihantui konflik internal yang seolah tak pernah berakhir.

Awal Mula: Perebutan Takhta Pasca PB XII Wafat

Setelah PB XII wafat pada 12 Juni 2004, muncul dua kandidat kuat pengganti beliau:

  • KGPH Hangabehi
  • KGPH Tedjowulan

Dalam tradisi kerajaan Jawa, tahta diwariskan kepada putra laki-laki tertua dari permaisuri, tetapi PB XII tidak memiliki permaisuri resmi. Di sinilah konflik bermula: dua putra dari ibu yang berbeda sama-sama mengklaim legitimasi.

Surat Wasiat Tawangmangu

Kubu Hangabehi menyatakan memiliki surat wasiat dari PB XII yang diberikan di Tawangmangu pada 3 Juni 2004. Uji laboratorium forensik Polda Jawa Tengah menyatakan cap jempol pada dokumen tersebut identik dengan sidik jari PB XII.

Namun kubu Tedjowulan menolak. Menurut penasihat hukum PB XIII Tedjowulan, Hari Susilo, surat wasiat itu janggal karena:

  • tidak diberitahukan kepada seluruh 35 putra-putri PB XII,
  • tidak menyebutkan secara eksplisit penunjukan Hangabehi sebagai penerus.

Mereka meminta polisi memeriksa ulang keaslian dokumen.

Lahirnya Raja Kembar

Puncaknya terjadi pada Agustus 2004.

  • Kubu Tedjowulan mengukuhkan Tedjowulan sebagai PB XIII di Ndalem Sasana Purnama, Kota Barat Mangkubumen (di luar keraton karena pintu gerbang digembok kubu Hangabehi).
  • Sebulan kemudian, kubu Hangabehi juga menobatkan KGPH Hangabehi sebagai PB XIII di dalam keraton.

Sejak itu Surakarta memiliki dua raja, dikenal sebagai “raja kembar”, dan dualisme ini terus membayangi keraton hingga sekarang.

Bentrok Terakhir 2022

Konflik dua kubu memuncak kembali pada 23 Desember 2022, saat kedua pihak terlibat bentrok hingga menyebabkan dua cucu PB XIII mengalami penganiayaan:

  • BRM Yudhistira
  • BRM Soeryo Mulyo

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa rekonsiliasi keraton masih jauh dari selesai.

Dualisme Kembali Berulang 2025: Sejarah Seakan Mengulang Siklus

Situasi kini seperti bayangan dari 2004:

  • dua raja,
  • dua legitimasi adat,
  • dua pusat kekuasaan,
  • dan keraton berada di tengah konflik yang tak kunjung usai.

Namun perbedaan penting terletak pada dukungan internal: sebagian besar sentana dan abdi dalem inti kini terang-terangan berada di pihak Gusti Purbaya.

Penutup: Keraton Surakarta Saat Ini Mengakui Gusti Purbaya sebagai Raja yang Sah

Di tengah dualisme yang kembali memanas, pihak resmi Keraton Surakarta melalui GKR Timoer Rumbai, para sentana inti, serta struktur adat yang aktif menjalankan prosesi jumenengan menegaskan bahwa:

“KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram (Gusti Purbaya) adalah Raja Keraton Surakarta Hadiningrat yang sah, bergelar SISKS Pakubuwono XIV.”

Sabda, prosesi adat, legitimasi keluarga inti, serta kehadiran perwakilan negara menguatkan posisinya sebagai penerus tahta PB XIII.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

HUT ke-28 IJTI, Korda Bandung Gerak Cepat Salurkan 6.000 Liter Air untuk Warga Kekeringan di Ibun

Buruan Daftar! Seleksi Petugas Haji 2027 Dibuka, Ini Jadwal dan Syarat Lengkap PPIH

Dari Veteran Perang Dingin Italia Jadi KRI Gajah Mada: Sejarah Kapal Induk Pertama Indonesia!

Aktor Revaldo Kembali Tersandung Kasus Narkoba untuk Kesembilan Kalinya, Polisi Amankan Sabu di Apartemen

Gunung Geulis Sukabumi Membara! 4 Hektare Lahan Hangus, Api Mulai Dekati Pemukiman Warga

10 Negara Pemilik Hutan Terluas di Dunia 2026, Indonesia di Nomor Berapa?

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.