Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Gemparkan Paris! Mengenal The Sacred Riana: Pesulap Indonesia Pertama yang Raih ‘Oscar Dunia Sulap’

Sabtu, 24 Oktober 2026 16:38 WIB

Garudayaksa vs Persib: Adu Taktik Skuad Mewah Ratusan Miliar di Pakansari

Sabtu, 24 Oktober 2026 16:01 WIB

Intip 5 Wisata Curug Hits di Kuningan, Ada yang Punya Pemandian Air Panas Alami!

Sabtu, 24 Oktober 2026 15:29 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Gemparkan Paris! Mengenal The Sacred Riana: Pesulap Indonesia Pertama yang Raih ‘Oscar Dunia Sulap’
  • Garudayaksa vs Persib: Adu Taktik Skuad Mewah Ratusan Miliar di Pakansari
  • Intip 5 Wisata Curug Hits di Kuningan, Ada yang Punya Pemandian Air Panas Alami!
  • Darurat Karhutla Jawa Barat: Lebih dari 1.100 Hektare Lahan Hangus, Subang Jadi Wilayah Paling Parah!
  • Stop Sok Ngatur Hidup Orang! Petuah Berkelas Luna Maya di Tengah Kasus Juan Eve
  • Fakta Baru Kasus Dugaan Kekerasan Siswa SRT 1 Sumedang: Korban Sempat Kabur Hingga Minta Pulang
  • Heboh Sindiran ‘KING’ dari Bos Madura United Usai Tundukkan Persib Bandung
  • Kecanduan Judol Bikin Gelap Mata, Ayah di Bandung Tega Aniaya Anak hingga Tewas
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kontras Kehidupan Ciumbuleuit, Gedung Mewah dan Rumah Tua yang Hampir Runtuh

By Muhammad Rafki Razif KiransyahSelasa, 12 Agustus 2025 20:00 WIB2 Mins Read
Rumah tua di Ciumbuleuit. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah pesatnya perkembangan kawasan Ciumbuleuit dengan deretan gedung mewah, apartemen tinggi, dan kafe estetik, terselip kisah haru di balik sebuah rumah tua yang hampir rubuh.

Rumah itu milik Aye Sutisna (79), warga Kampung Kebon 7, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Bangunan sederhana yang dibangun sejak 1977 ini kini nyaris tak layak huni dan telah runtuh sebagian karena faktor usia dan minimnya perawatan.

Ironisnya, rumah tersebut sudah masuk dalam program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) pada 2023.

Semua dokumen seperti sertifikat tanah, Kartu Keluarga, hingga KTP sudah diserahkan ke RT, RW, dan kelurahan. Bahkan, tiga hari sebelum runtuh, petugas sempat datang untuk mendokumentasikan kondisi rumah. Namun, janji perbaikan sampai saat ini belum terealisasi.

Pada pagi hari, runtuhan plafon bagian depan rumah mengagetkan keluarga. Alvin, saudara Aye yang tinggal tak jauh dari lokasi, bercerita, “Kaget banget, langsung beberes supaya tidak ada paku jatuh yang bisa melukai anak-anak.”

Rumah yang dihuni oleh kakak laki-laki ayah Alvin ini sudah tidak direnovasi selama 48 tahun. Kayu penyangga telah lapuk, atap rapuh, dan ventilasi yang minim menyebabkan kondisi lembap. Dapur tradisional dengan tungku api menjadi satu-satunya ruang memasak.

Kini, Kakek Aye tinggal bersama satu anak dan tiga cucu dalam ruang sempit yang hanya memiliki satu kamar tidur tanpa kamar mandi. Pada malam hari, mereka tidur berdesakan di ruang yang sebagian atapnya sudah bocor.

Kesulitan ekonomi membuat Aye hanya bisa mengandalkan bantuan tetangga dan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari. “Kalau makan seadanya, kadang cuma tahu, tempe, atau ikan asin,” katanya lirih.

Cucu pertamanya yang menjadi pengemudi ojek online berusaha membantu, namun penghasilannya belum cukup untuk memperbaiki rumah.

Kondisi rumah yang memprihatinkan turut memengaruhi kesehatan keluarga. Salah satu cucunya mengidap TBC, sedangkan Aye sendiri sudah lanjut usia dengan berbagai penyakit.

“Abah mah sudah tua, mungkin sebentar lagi meninggal. Saya berharap rumah ini bisa diperbaiki agar anak cucu punya tempat tinggal yang layak,” tuturnya.

Kisah Kakek Aye menggambarkan kontras nyata perkembangan Ciumbuleuit hari ini: di satu sisi penuh dengan gedung pencakar langit dan properti mewah, namun di sisi lain masih ada warga asli yang bertahan dalam kondisi rumah yang memprihatinkan, menunggu janji bantuan yang belum juga datang.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Darurat Karhutla Jawa Barat: Lebih dari 1.100 Hektare Lahan Hangus, Subang Jadi Wilayah Paling Parah!

Fakta Baru Kasus Dugaan Kekerasan Siswa SRT 1 Sumedang: Korban Sempat Kabur Hingga Minta Pulang

Kecanduan Judol Bikin Gelap Mata, Ayah di Bandung Tega Aniaya Anak hingga Tewas

Bansos

BPNT Oktober 2026 Rp600 Ribu, Begini Cara Cek Penerimanya lewat HP

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cair Oktober-Desember! Begini Cara Cek Nama Penerima Bansos Tahap 4 2026

Kemacetan

Awas Macet! Sabtu-Minggu Ini Bandung Penuh Acara, Catat Jadwal dan Lokasinya

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Rapimnas PII 2026 Anugerahkan Penghargaan Narendra Dharma Abiyanta kepada Tiga Gubernur
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.